AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
MENGHADAPI HUJAN PERTANYAAN WARTAWAN


__ADS_3

Andi saat keluar dari kamar mandi di dalam ruangan ganti, langsung di sambut oleh Berry, Violin dan ko Ahong yang sedikit cemas melihat sikap Andi yang murung.


"Kamu kenapa di,..? setelah kemenangan mu, seharusnya bergembira, tapi kulihat kamu sepertinya malah murung ?"


tanya ko Ahong penasaran.


Andi menggelengkan kepalanya, kemudian dia pun mengambil tempat duduk di dihadapan mereka.


Sambil menggunakan handuk berpura-pura mengelap rambutnya yang basah, agar wajahnya tidak terlihat jelas saat bicara.


Andi berkata,


"Tidak apa-apa, kalian tenang saja."


"Aku baik'baik saja kok.."


ucap Andi yang tidak mungkin menceritakan kata kata pelecehan yang di arahkan Ginting pada Viona.


Violin yang jeli langsung melihat buku buku jari Andi yang terluka dan berdarah.


"Tangan mu kenapa kak Andi, ? sini biar saya lihat."


ucap Violin sambil menarik kedua tangan Andi ke hadapan nya.


Tanpa banyak bicara dengan gesit Violin mengeluarkan kotak P3K.


Violin membersihkan luka Andi dengan alkohol, kemudian dia baru membubuhkan obat luka dan membalutnya dengan perban.


"Terimakasih banyak ya Lin, "


ucap Andi setelah Violin menyelesaikan pekerjaannya merawat luka di tangan Andi.


Violin tidak mau bertanya ulang, dia tahu Andi pasti menyimpan sesuatu yang tidak mau dia cerita kan.


Violin sendiri sangat yakin, Andi tadi sebelum masuk ke kamar ganti kedua tangannya baik baik saja.


Kenapa selesai mandi kedua buku jarinya malah terluka semua, pasti ada sesuatu yang sangat menganggu pikiran Andi.


Violin yakin ini pasti ada hubungannya dengan kakak nya, selain kakaknya tidak akan ada hal lain yang bisa menganggu ketenangan pikiran Andi.


"Di tadi sewaktu kamu dan Ginting saling berangkulan, kenapa kamu tiba-tiba mendorongnya hingga terjatuh..?"


"Kamu terlihat sangat emosi dan tidak seperti biasanya, apa yang sebenarnya di lakukan si mulut ember itu pada mu..?"


Tanya ko Ahong penasaran.


Andi tersenyum pahit dan berkata,


"Tidak apa-apa ko Ahong, semua sudah berlalu."


"Lagipula kurasa kedepannya si Ginting tidak akan bisa berkoar koar lagi."


Ko Ahong menghela nafas panjang, dia tidak mau bertanya lagi karena dia tahu percuma saja, Andi tidak akan pernah membicarakan hal itu dengan mereka.

__ADS_1


Dia harus hargai privasi Andi, biarkan Andi pergi menyelesaikannya semua sendiri.


Tanpa perlu mereka ikut campur.


"Ya sudah bila tidak apa-apa, sebaiknya kita lekas kembali ke hotel saja beristirahat."


"Karena besok setelah masalah administrasi dan bonus nya beres, kita akan segera bertolak kembali ke kota J.."


"Ko boleh tidak aku tidak ikut kembali ke kota J,? aku masih ingin menghabiskan beberapa hari di kota B ini.."


ucap Andi tiba tiba.


Ko Ahong menoleh kearah Andi dan berkata,


"Terserah kamu, selama itu tidak menganggu perkuliahan dan bisnis yang kalian jalankan berdua."


"Aku sih ok ok saja, tidak masalah.."


"Kalau bisnis kamu tenang aja, aku akan bantu kamu urus."


"Cuma setidaknya kamu harus beritahu kami dong, apa yang akan kamu urus di sini..?"


tanya Berry sambil tersenyum.


Andi tersenyum Canggung kemudian dia berkata,


"Rabu ini aku berencana ingin pergi bertemu dengan Viona, apa begini sudah cukup ? atau mau ikut menyela di sana jadi lampu penerangan..?"


Mendengar ucapan Andi yang lain pun tertawa, kecuali Violin yang diam membisu dengan kepala sedikit tertunduk.


ucap Andi merasa sedikit tidak enak hati.


Datang bersama sama pulangnya, malah pisah pisah.


Ko Ahong tersenyum menepuk bahu Andi dan berkata,


"Kamu tenang saja di,.. kami bisa naik travel, atau catar mobil.."


"Tapi.."


ucap Andi merasa sangat tidak enak hati.


Ko Ahong tertawa dan memotong kata kata Andi,


"Sudah kita putuskan begitu saja, itu bukan masalah besar, ayo kita semua pulang untuk istirahat..."


Andi terpaksa mengangguk, lalu mereka pun melangkah keluar dari ruang ganti secara bersamaan.


Tapi baru saja mereka keluar beberapa wartawan yang masih duduk menunggu di depan ruang ganti langsung bergerak maju mengerubuti Andi dan berkata.


"Pak Andi apakah anda ingin menyampaikan sesuatu, kepada orang orang terpenting yang membantu anda meraih kemenangan ini.?"


Andi berpikir sejenak kemudian menjawabnya,

__ADS_1


"Pertama tama aku ucapkan terimakasih banyak kepada Ko Ahong Maria Berry Violin dan seluruh kru yang datang mendukung saya."


"Spesial nya kemenangan ini aku persembahkan kepada keluarga ku dan kepada kekasih ku Viona yang selalu setia menunggu ku .di suatu tempat sana.."


"Terimakasih semuanya.."


ucap Andi menutup penyampaian pesannya yang di rekam oleh kru kamera reporter untuk menjadi bahan siaran.


Selesai menyampaikan pesan Andi pun hendak bergegas pergi dari sana.


Tapi masih ada wartawan yang memanggilnya dan berkata,


"Pak Andi sebentar..! pak Andi bisakah pak Andi jelaskan kepada kami, ada maksud kata kata pak Andi sebelumnya, soal menang secara kebetulan..?!"


Andi terpaksa menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah wartawan yang bertanya tadi dan berkata,


"Aku memang menang secara kebetulan, lawan ku pak Ginting adalah seorang petarung yang sangat hebat.."


"Bukannya kalian juga semua melihat sendiri, bagaimana pak Ginting, membanting dan mengunci saya di bawah."


"Kemudian menyerang dan membombardir saya dengan pukulan pukulan nya yang keras."


"Makanya aku bilang kemenangan ku ini adalah kebetulan karena nasib sedang baik.."


"Sekian saja penjelasan Ku.. terimakasih, saya permisi dulu.."


"Pak Andi satu lagi, apa yang membuat mu begitu emosi, hingga mendorong lawan mu hingga terguling..?"


tanya wartawan yang lain lagi..


Andi tersenyum tenang dan berkata,


"Aku waktu itu hanya mencoba menjauhkan posisi pak Ginting dari ku, agar kami bisa melanjutkan pertarungan diatas."


"Karena aku sadar bila bertarung di bawah, aku jelas bukan lawan pak Ginting, dan bila kami terus saling menempel seperti itu.."


"Selain aku tidak bisa melepaskan pukulan ku padanya, ada kemungkinan besar aku akan di kunci kemudian di banting kebawah."


"Dan yang kukhawatir kan itu, akhirnya terjadi, saat kami kembali berangkulan, setelah insiden jatuhnya pak Ginting itu "


"Pak Ginting akhirnya berhasil mengunci dan membantingku kebawah."


"Sebenarnya saat itu aku hanya berusaha mendorong agar pak Ginting menjauhi saya, diluar dugaan, pak Ginting kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh.."


"Hanya itu saja, tidak ada hal lain nya.."


"Maaf semuanya sudah malam, aku harus kembali ke kamar untuk istirahat, terimakasih banyak semua nya.."


ucap Andi kemudian buru-buru meninggalkan tempat tersebut.


Para wartawan di halangi oleh para kru ko Ahong, sedangkan Andi Violin Berry ko Ahong dan Maria langsung menyelinap masuk kedalam lift.


Setelah pintu lift menutup mereka semua baru bisa bernafas lega

__ADS_1


.


__ADS_2