
Dari sederet kesalahan ku yang sekali demi sekali terus menyakiti mu, adalah sudah sewajarnya aku menerima karma seperti ini.."
"Kini di saat aku sedang seperti ini, kamu masih tetap dengan setia menemani ku.."
",Sudah sepantasnya aku mensyukuri semua ini, tidak boleh berharap lebih lagi dari mu.."
"Kamu mengertikan maksud ku kan di,..?"
Andi mengangguk kan kepalanya dan tersenyum lembut menatap Viona.
"Di,.. kapan kita kembali ke kota J ?"
tanya Viona berusaha terlihat gembira.
Andi menatap Viona dengan lembut dan berkata,
"Tidak akan pernah Vi, aku tidak akan pernah kembali ke kota J, sebelum kamu sembuh seperti sedia kala.."
"Apa maksud mu di,.. ?"
tanya Viona dengan kaget.
Andi tetap dengan senyuman nya yang lembut berkata,
"Vi,..maksud ku jelas, aku akan kabulkan permintaan mu, untuk tidak jadi ke Amerika..,"
"Aku juga akan kabulkan permintaan mu, untuk tidak masuk rumah sakit dan jalani khemo,"
"Aku hanya akan mengantar mu pergi rutin check up dan berobat jalan.."
"Aku akan sewa apartemen yang tidak jauh dari rumah sakit, sebagai tempat tinggal kita.."
Andi menghela nafas panjang dan berkata,
"Tapi mengenai kembali ke kota J dan menjadi adik ipar mu, maaf aku tidak akan pernah meluluskan nya.."
"Mengapa di,.. mengapa harus seperti itu,..? mengapa kamu memilih menyakiti perasaan adik ku dan perasaan mu sendiri, mengapa ?"
"Kamu membuat aku semakin merasa,.."
ucapan Viona yang setengah berteriak, tertahan oleh ciuman mesra dari Andi.
Viona awalnya terbelalak kaget, tapi kemudian dia memejamkan matanya, melingkarkan tangannya di belakang leher Andi.
Dari kedua sudut mata Viona yang terpejam, air mata jatuh menetes.
Beberapa saat kemudian Andi baru melepaskan ciuman lembut nya dan berkata,
"Tidak ada mengapa, kenapa, alasan apa, tidak ada alasan.."
"Karena sejak awal hingga akhir aku hanya mencintai mu seorang, dan untuk itu aku tidak pernah menyesal.."
"Apa pun kesalahan mu, seperti yang kamu sebutkan tadi, tidak akan pernah merubah perasaan ku pada mu."
"Aku pernah bilang pada mu kalau tidak salah ingat, apapun kesalahan mu, seberat apapun, aku tetap akan memaafkan mu dan tidak akan pernah meninggalkan mu."
"Bukankah begitu,? kamu tentu tidak lupa,..kan..?"
Viona mengangguk cepat dan tersenyum haru penuh kebahagiaan, dia kembali maju merangkul Andi dengan erat.
__ADS_1
Sambil memeluk Viona di dalam dekapan nya Andi tersenyum sedih dan berkata dalam hati.
"Maafkan aku Vi, untuk sekali ini aku terpaksa berbohong padamu, juga berbohong pada diri ku sendiri.'
'Tapi kamu harus memakluminya, bila aku tidak bersikap begini, kamu tidak akan bisa pergi dengan tenang dan bahagia tanpa penyesalan dan kekecewaan."
"Kamu pasti akan pergi dengan penuh kecewa, menyesal dan penuh dengan kenangan buruk yang membuat mu bersedih dan tidak bahagia.."
"Aku tidak mau lihat itu, dan aku tidak tega lihat kamu pergi dengan cara itu.."
"Sekali lagi maafkan kebohongan demi kebaikan mu ini..'
ucap Andi dalam hati, dan membiarkan airmata kesedihannya jatuh menetes menggantung di pipinya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dari luar, terlihat Ronaldo menerobos masuk ke dalam ruangan sambil berteriak,
"Bajingan kamu Andi, kamu berani menyakitinya.!"
"Aku hari ini tidak akan mengampuni mu,..!"
Viona dan Andi sangat kaget dengan kedatangan Ronaldo yang tiba-tiba dan langsung mengamuk.
Baik Andi dan Viona sama sama saling melepaskan pelukan mereka.
Andi bertindak sigap melompat turun dari ranjang menghadang pergerakan Ronaldo.
Andi takut emosi Ronaldo, nanti malah melukai Viona yang sedang dalam kondisi lemah.
Sehingga dia langsung bergerak menghadang Ronaldo, sebelum dia sempat mendekat kearah Viona.
Ronaldo dengan ganas langsung menyarangkan tinjunya kearah Andi.
Sehingga Ronaldo terkunci dan tidak bisa menyerangnya lagi.
Di belakang Ronaldo terlihat Violin dan kedua orang tua nya menyusul berlari masuk kedalam ruangan.
Violin sepasang matanya terlihat sembab dan bengkak merah.
Sekilas lihat Andi pun paham, gadis itu pasti tidak tidur dan menangis semalaman hingga pagi.
Andi sambil mengunci Ronaldo yang terus meronta-ronta dan memaki maki dirinya, Andi berkata cepat.
"Tolong bantu jaga Viona, aku akan mengurusnya.."
Setelah itu Andi langsung menarik paksa Rinaldo yang terkena kuncian nya, meninggalkan kamar Viona.
Violin awalnya bengong, tapi kemudian dia menoleh kearah kedua orang tua nya dan berkata,
"Jaga kakak, aku akan melihat kedepan..'
Dengan wajah cemas, dia langsung menyusul keluar dari dalam kamar.
Di tempat lain, di lantai 4 Roftop panti rehabilitasi,. terlihat Andi menyeret paksa Ronaldo ketempat tersebut.
Setelah tiba di atas sana dan hanya tersisa mereka berdua, Andi melepaskan kuncian nya.
Begitu terlepas, Ronaldo langsung menerjang Andi dengan kakinya hingga Andi jatuh terjengkang keatas lantai.
Ronaldo langsung menerkam duduk diatas dada Andi, kedua lutut dan tulang keringnya dia gunakan untuk mengunci kedua lengan Andi di kiri kanan.
__ADS_1
Lalu dia melepaskan tinjunya sekuat tenaga menghujani wajah Andi dengan pukulan berulang ulang.
Andi sengaja membiarkannya, dia tidak mau melakukan perlawanan .
Hanya menerima semuanya dengan pasrah sambil tersenyum sedih.
"Do Do jangan,.!! hentikan,..! kamu apa apaan, !?"
"Kamu bisa membunuhnya..!"
teriak Violin histeris begitu tiba di lantai 4, menyaksikan apa yang sedang Ronaldo lakukan.
Violin buru buru maju berusaha sekuat tenaga menarik Ronaldo menjauhi Andi.
Ronaldo tidak melawan, dia pasrah membiarkan Violin menariknya menjauh.
Dia tidak mau melukai gadis menyedihkan yang sangat di cintai nya itu.
"DoDo, ayo kita pulang,.. ! di sini tidak ada urusan mu,..!"
"Jangan buat aku memandang rendah pada mu..!"
ucap Violin setengah membentak Ronaldo dengan kesal.
"Tapi Lin bajingan tak bertanggung jawab, yang tidak tahu balas Budi itu, harus di beri pelajaran..!"
balas Ronaldo kurang puas dan mencoba membantah.
"Plakkk,..!'
Violin melayang kan tamparannya kearah wajah Ronaldo dan berteriak marah,
"DoDo cukup kata ku,..!"
"Ayo kita pergi,.. dari sini sekarang,..!"
bentak violin sambil menarik tangan Ronaldo meninggalkan tempat itu.
Saat melewati Andi yang sedang duduk di sana sambil menyeka pelipis hidung dan bibirnya yang berdarah.
Violin pun berkata,
"Maafkan DoDo kak,.. dia ,.."
"Tidak apa-apa Lin, aku malah senang, aku memang pantas menerima semua ini.."
"Aku memang pantas di hajar, aku bajingan, aku bukan laki laki.."
"Sebaiknya kamu lupakan saja aku.."
ucap Andi tersenyum sedih.
Violin menggelengkan kepalanya, dia tidak menjawab, hanya meneteskan air mata.
Dia menyeret Ronaldo meninggalkan tempat tersebut.
Saat berada di dalam lift, Violin baru berkata,
"Maafkan aku do,.. kamu sudah jauh jauh datang membela ku, aku malah menghadiahi mu tamparan.."
__ADS_1