AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
MENEMANI SARAH KE TOKO SPORT


__ADS_3

Andi semakin menundukkan kepalanya dan cepat-cepat menggelengkan kepalanya, lalu buru-buru menghabiskan makanan dan minumannya.


Kemudian dia buru-buru berdiri dan berkata,


"Aku duluan ya ?"


Dia terlihat buru buru langsung melangkah pergi dengan wajah merah padam.


Viona dan Santi saling pandang kemudian tertawa terpingkal-pingkal melihat sikap Andi yang lucu.


Andi tidak memperdulikan mereka menertawainya, justru dia merasa bahagia, bisa melihat mereka berdua tertawa bersama kembali.


Dengan demikian setidaknya, dia telah memenuhi permintaan dan harapan Viona padanya.


Setelah berjalan cukup jauh, Andi baru menoleh menatap kearah Viona memberikan senyum lembut padanya.


Baru dia meninggalkan tempat tersebut, pergi menuju perpustakaan yang menjadi tempat favoritnya, bila tidak ada perkuliahan marathon.


Viona sedikit merah wajahnya, menanggapi senyum Andi kepadanya.


Dia jadi merasa malu pada dirinya sendiri, yang mencurigai Andi yang bukan-bukan.


Dia tadinya sewaktu melihat Andi hanya membalas lambaian tangan Santi, tidak memperdulikannya.


Viona sempat berpikir, Andi mulai menyerah pada dirinya, dan memilih Santi sebagai pendampingnya.


Dia selamanya akan kehilangan Andi, pria yang selalu dengan tulus mencintainya, selalu hadir di saat dia sedang kesulitan.


Dia tadi sudah hampir pergi mendatangi Rio, mengajak Rio sarapan bersama di kantin, untuk memanaskan Andi dan Santi.


Tapi saat dia menemukan Rio sedang ngobrol dengan beberapa orang gadis, yang sedang mengelilinginya.


Moodnya untuk mendekati dan mengajak Rio sarapan bersama menjadi hilang.


Dengan lesu dia berbalik arah berjalan kearah lain secara memutar, di mana dari balkon tersebut, secara tidak sengaja dia malah bisa melihat Andi sedang ngobrol dengan Santi.


Saat makanan pesanan Andi datang, ternyata ada tiga porsi disana.


Dia langsung menjadi curiga, sebelum dia sempat berpikir jauh, tiba-tiba malah ada chat masuk dari Andi.


"Vi datang lah, sekarang semua sudah beres."


"Yuk kita sarapan bersama, anggap saja ini permintaan maaf dari ku, atas sikap yang terpaksa ku lakukan tadi"


Setelah membaca pesan tersebut, Viona baru menyadari ternyata Andi berbuat begitu, hanya dalam rangka menyelesaikan permintaannya kemarin.


Hatinya menjadi sangat gembira bercampur haru.


Dia pun dengan terburu-buru datang menghampiri meja di mana Andi dan Santi sedang duduk.


Tiba-tiba Santi menepuk pundak Viona, yang terlihat sedang termenung,


"Hei apa yang sedang kamu renungkan ? sudah 10.15 ini, sebentar lagi perkuliahan akan di mulai."

__ADS_1


Viona sedikit terkejut, sambil tersenyum dia menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak apa-apa, yuk kita ke kelas sekarang.."


Santi sambil tertawa berkata,


"Gak mau cerita, aku juga tahu pasti sedang mikirin Andi kan ? udah kalau suka kejar ke perpustakaan saja, sebelum di sambar cewek lain."


"Hushh..! jangan kencang-kencang ngomongnya, bikin malu aja."


tegur Viona sambil menarik tangan Santi, lalu buru-buru meninggalkan kantin.


Santi hanya berjalan sambil tertawa, melihat sikap Viona yang malu-malu tapi mau.


Meski di luarnya Santi tertawa, tapi di hati kecilnya, dia merasa sedikit sakit.


Dia dari awal juga tahu, Andi tidak mungkin bisa berpaling dari Viona.


Tapi dia tetap saja tidak bisa berhenti berharap terjadinya keajaiban, di saat tadi Andi mengabaikan Viona, hatinya langsung terasa hangat dan gembira.


Tapi kini harapan nya kembali menjadi hancur berantakan.


Andi sendiri saat sampai di perpustakaan, dia terlihat langsung larut dalam tumpukan buku-buku yang dia pinjam dari perpustakaan.


Sebagian besar dari buku itu, adalah teks books berbahasa Inggris, untuk itu terkadang-kadang Andi harus bolak balik membuka kamus.


Tapi justru dengan cara ini, Andi menjadi lebih cepat menguasai bahasa Inggris secara pasif.


Di saat Andi sedang asyik larut dalam bacaan nya, seorang gadis cantik yang menggunakan kursi roda, justru sedang bergerak mendekati nya dari belakang.


"Hei di sini rupanya, sudah lupa ya sama janjinya dulu.."


Andi langsung menoleh kebelakang, saat melihat siapa yang berada di belakang nya, Andi sambil tersenyum berkata,


"Ehh Sarah.. tumben kamu datang kemari.?"


Sambil memanyunkan bibirnya yang merah, Sarah berkata,


"Emang gak boleh ? aku kan kuliah di sini juga..wekkk.."


Andi pun tersenyum lebar dan berkata,


"Tentu saja boleh, ini malah suatu kehormatan bagi perpustakaan mendapat kunjungan dari atlet."


"Nah mulai deh ngeledek, Andi ihh nyebelin.."


ucap Sarah cemberut dan buang muka


"Loh..loh..ada yang salah ya ? kalau begitu, maaf maaf.. maaf ya jangan ngambek dong, tar semakin cantik."


Goda Andi sambil tersenyum.


Wajah Sarah menjadi merah, dia segera mencubit Andi dengan gemas.

__ADS_1


"Aduhh..aduhh..! ampun..!"


jerit Andi tertahan.


"Udah.. udahan Sarah, lihat mulai pada ngeliatin kita deh, tar bisa kena usir kita."


ucap Andi sambil menoleh kesana kemari.


Sarah ikut menoleh dan otomatis ikut menghentikan cubitannya.


"Di,.. temani aku ke toko sport yuk, ada senar raket ku yang putus."


Andi menutup buku di hadapannya dan berkata,


"Baiklah princess Sarah, tunggu sebentar ya, aku kembalikan buku dulu, baru kita pergi ke toko sport."


Tak lama kemudian Andi mendorong kursi roda Sarah meninggalkan kampus.


Karena akibat insiden dilapangan badminton kemarin, Sarah kemana-mana jadi harus menggunakan kursi roda, yang sangat tidak praktis.


Jadi dia selalu mencari Andi menemaninya, dengan alasan Andi pernah berjanji akan menjaganya hingga sembuh.


Sebenarnya kaki Sarah sama sekali sudah tidak apa-apa, dia sudah dinyatakan sembuh oleh dokter.


Ini cuma akal-akalan Sarah saja, karena dia ingin punya alasan berdekatan dengan Andi.


"Sarah kita gimana perginya,? aku gak punya kendaraan loh, dengan kursi roda gini, gak mungkin kita bisa naik angkot."


ucap Andi jujur apa adanya.


Sarah tersenyum dan berkata,


"Kalau itu kamu gak perlu khawatir, aku ada supir."


"Aku cuma perlu kamu nemenin aku jalan-jalan, aku malas kalau di temenin oleh pak Larjo supir ku."


Andi mengangguk dan berkata,


"Ok, gak masalah, ayo kita berangkat."


Supaya lebih praktis, Andi terpaksa harus menunggu lift, untuk turun ke lantai dasar bersama mahasiswa dan mahasiswi yang lainnya.


Andi biasanya jarang menggunakan lift, karena menggunakan lift perlu waktu lama dan biasanya selalu rame, dia lebih suka menggunakan tangga manual, yang lebih praktis dan cepat.


Untungnya karena mendorong Sarah, yang menggunakan kursi roda, jadi banyak yang mau mengalah, memberi Andi dan Sarah tempat untuk turun duluan.


Sehingga tanpa harus mengantri lama, mereka berdua bisa tiba duluan di lantai dasar.


Andi mendorong Sarah sambil ngobrol santai mereka terus menuju lapangan parkir mobil.


Melihat kedatangan Andi dan Sarah, pak Larjo supir Sarah dengan sigap langsung membuka pintu mobil buat Sarah, dan pintu bagasi, untuk menyimpan kursi roda Sarah.


Setiba di depan mobilnya, Sarah sambil tersenyum gembira, langsung mengulurkan kedua tangannya keatas, memberi kode agar Andi membantu menggendongnya kedalam mobil.

__ADS_1


Andi dengan senyum tak berdaya, dia membungkuk menggendong dan memindahkan Sarah kedalam mobil .


Setelah itu dia baru menyusul Sarah dari sisi pintu yang lainnya masuk kedalam mobil.


__ADS_2