
Akhirnya Ronaldo pun berlalu dari tempat tersebut, setelah berpamitan pada ibu Viona, yang sedang membereskan piring bekas masakan yang sudah habis terjual.
"Makasih nak Ronal, hati hati di jalan.."
ucap mama Viona yang menemani Ronaldo, hingga Ronaldo naik keatas motornya dan meninggalkan tempat itu.
Setelah bayangan punggung Ronaldo menghilang dari pandangan nya, ibu Viona baru kembali lagi ke warung makannya melanjutkan beres beres.
Tapi saat kembali masuk kedalam warung, mama Viona melihat semua piring bekas, panci bahkan termos nasi sudah di bereskan oleh suaminya.
Mama Viona tersenyum bahagia menatap bayangan punggung suaminya, yang sedang membantunya mencuci piring.
Mama Viona berjalan menghampiri suaminya dari belakang dan berkata,
"Makasih banyak ya sayang.."
Papa Viona menoleh dan berkata,
"Bukan masalah, kini yang bisa kulakukan hanya ini."
"Aku bukan lagi Wiliam Lin yang dulu, keluarga Lin yang dulunya jaya dan kaya raya, kini hanya menjadi bahan tertawaan orang saja.."
"Maaf aku telah mengecewakan mu,.."
"Violin anak kita itu punya tekad kuat untuk menjadi seorang dokter, kita harus mendukungnya fokus dengan cita cita dan sekolah nya.."
"Bukan mendukungnya untuk tergelincir dalam jalan hubungan pria dan wanita, dia masih terlalu muda."
"Aku tahu Ronaldo berasal dari keluarga yang berlatar sangat baik, tapi itu tetap bukan jaminan.."
"Kamu jangan berharap terlalu tinggi, bila terjatuh untuk yang kedua kalinya, tentu akan jauh lebih menyakitkan.."
ucap papa Violin sambil terus menyuci setumpuk piring kotor di dekatnya.
"Kamu ini bicara apa,? dasar menyebalkan."
"Kenapa kamu selalu mengeluarkan ucapan pesimis yang membuat ku kesal..?"
"Apakah sebelum melihat ku mati kesal, kamu tidak akan pernah puas hati..?"
ucap mama Viona dengan wajah kesal bercampur sedih.
"Aku tidak bermaksud apa-apa hanya mengingatkan saja, agar jangan sampai kelak, kamu menyalahkan aku tidak mengingatkan mu.."
"Ya, sudah kalau kamu tidak suka mendengarnya, aku minta maaf dan tidak akan bicara dan ikut campur lagi..."
ucap papa Viona.
__ADS_1
Sambil mendengus kesal mama Viona menghentikan sebelah kakinya, lalu menyambar handuk dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Papa Viona tidak berkata apa-apa lagi, dia hanya menghela nafas panjang, lalu melanjutkan pekerjaannya yang masih banyak..
Sebenarnya Andi belum pergi jauh dari kompleks perumahan Violin, di saat Ronaldo dan Violin melakukan pengejaran kearahnya.
Andi memilih bersembunyi, setelah mereka berlalu Andi baru menancap gas mengambil jalan yang berlawanan arah, untuk kembali ke kostnya.
Andi tahu persis kemampuan balap motor Ronaldo, dia tidak akan sebodoh itu, memilih menancap gas dan berkejar kejaran dengan Ronaldo.
Bila dia lakukan itu dia pasti tersusul oleh Ronaldo, yang memiliki kemampuan menyetir motor balapan jauh diatas kemampuannya.
Jadi jalan terbaik adalah bersembunyi, menunggu mereka lewat, baru ambil jalan berlawanan arah untuk kembali ke kostnya.
Karena Andi memilih cara ini, Ronaldo pun tidak berhasil menyusulnya.
Akhirnya Andi pun bisa kembali ke kostnya dengan aman.
Setiba di kost, Andi langsung bersiap siap pergi kampus untuk ikutin perkuliahan.
Selesai perkuliahan jam 9 an Andi baru bisa pergi ke arena underground bersama berry.
Untuk melihat lihat apakah ada peluang mengumpulkan pundi pundi uangnya.
Andi sudah mengambil keputusan setelah pembicaraan dengan Viona kemaren malam.
Andi akan mengkhususkan hari tersebut, untuk menunggu telpon dari Viona.
Untuk hal itu, Andi jadinya hanya bisa berharap pada hari Kamis dan Sabtu malam.
Malam ini Andi terpaksa datang telat ke arena, karena dia belum sempat menggeser jadwal perkuliahannya.
Tapi mulai Minggu depan setiap Kamis dan Sabtu, Andi akan khusus kan buat bertarung.
Sisanya Senin Selasa Jumat Andi akan padatkan semua jadwal kuliahnya di sana.
Sambil menuju kampus, Andi sudah berpikir dan membuat perencanaan ini buat Minggu depan.
Setelah menyelesaikan perkuliahan malam nya, Andi langsung menjemput berry untuk pergi ke arena underground.
Andi mengikuti motor yang di kendarai oleh Berry yang bergerak menuju ke luar kota.
Setelah menempuh perjalanan 45 menit, akhirnya tiba di sebuah kawasan pegunungan.
Dimana terlihat banyak sekali mobil maupun motor, para muda-mudi sedang bergerak menuju daerah puncak pegunungan tersebut.
Di daerah puncak pegunungan tersebut, banyak bertebaran villa villa yang disewakan.
__ADS_1
Mulai dari yang sederhana hingga yang mewah dan harganya selangit.
Andi terus mengikuti di belakang berry yang berbelok masuk kesebuah kompleks perumahan mewah.
Andi dan Berry di tahan di pos satpam, wajib mengisi buku tamu dan meninggalkan ID Card mereka di sana.
baru boleh masuk kedalam kompleks perumahan mewah tersebut.
Saat masuk kedalam kompleks, Andi memandang dengan takjub rumah rumah mewah yang bertebaran di sekitarnya.
Andi dulu datang ke rumah pilot Om Tomy, sudah merasa rumah rumah di kompleks tersebut sangat mewah dan luar biasa.
Tapi kini saat melihat rumah di sini, Andi baru sadar, ternyata dirinya adalah seekor katak yang berada dalam tempurung.
Rumah rumah mewah di komplek Om Tomy, bila di bandingkan rumah mewah di sini, ternyata tidak ada apa apa nya.
Rumah yang paling kecil sekalipun, masih 3 kali lipat lebih besar dari rumah Om Tomy.
Di sini Andi baru sadar, ternyata yang namanya orang kaya itu sangat banyak dan tidak ada habisnya, antara satu di bandingkan dengan yang lain nya.
Mungkin hanya rumah kakek Sarah, yang bisa di bandingkan dengan rumah rumah mewah di sini.
Saat Berry menunjukkan kartu anggotanya di mesin yang berada dekat pagar tersebut.
Pintu pagar pun terbuka oltomatis.
Setelah pintu gerbang besi yang sangat besar itu terbuka, Berry pun bergerak masuk kedalam diikutin oleh Andi yang bergerak mengintil di belakangnya.
Mereka berdua harus melewati taman yang sangat luas dan panjang, untuk mencapai rumah mewah yang sangat besar yang sedang mereka tuju.
Rumah mewah besar dan elegan tersebut terletak diatas sebuah bukit kecil, yang agak tinggi tempat nya.
Setelah menempuh perjalanan menanjak, akhirnya mereka berdua tiba di halaman rumah mewah tersebut.
Motor tidak di perkenankan masuk dan parkir di depan halaman rumah mewah tersebut.
Para bodyguard yang bertubuh besar dan berwajah garang, mengarahkan Berry dan Andi parkir di halaman samping yang sepi dan gelap.
Andi sempat berpikir, untuk membeli sebuah mobil, untuk memperlancar pekerjaan nya ini.
Tapi saat terpikir masih banyak PR yang menantinya untuk di selesaikan.
Andi membatalkan niatnya itu, Andi hanya berharap Berry yang membelinya, dia tinggal nebeng saja.
"Berry kamu tidak terpikir untuk beli sebuah mobil apa ?"
tanya Andi memancing.
__ADS_1