
Dokter pun sudah angkat tangan menyerah, meminta Andi bersiap siap menerima kenyataan.
Bahkan dokter mengatakan Viona bisa bertahan hingga saat ini pun sudah merupakan suatu keajaiban.
Melihat kondisi Viona yang dari hari ke hari kian drops, Andi merasa hatinya hancur seperti sedang di remas remas.
Berulang kali, dia harus berlari ke kamar mandi, atau keluar dari dalam kamar, duduk menangis sedih seorang diri.
Andi tidak khawatir Viona mengetahui dirinya sedang menangis.
Karena kini Viona hanya bisa tergolek lemah di atas kasur,. dengan mata lebih banyak terpejam ketimbang terbuka.
Tubuhnya yang tadinya mulai sedikit berisi, kini kurus kembali, bahkan jauh lebih kurus lagi di banding sebelumnya.
Setelah puas menangis Andi baru pergi ke dapur menyiapkan pangsit kegemaran Viona.
Sambil melipat kulit pangsit dan merebusnya, airmata Andi jatuh bercucuran menetes netes di pipinya.
Setelah menyiapkan sepiring kecil pangsit rebus.
Andi pun membawanya kedalam kamar sambil berusaha sekuat tenaga, agar tetap tersenyum dan tidak sampai menangis di hadapan Viona.
Saat Andi masuk Viona sepasang matanya masih tetap terpejam, hingga Andi duduk di samping kasurnya.
Viona baru memaksakan sepasang matanya untuk terbuka, dan berusaha tersenyum kearah Andi.
"Vi makanlah sedikit ya, hari ini kamu seharian belum makan sama sekali.."
"Ini aku sengaja buatkan pangsit rebus kegemaran mu, makan sedikit ya sayang..?"
ucap Andi penuh perhatian.
Viona mengangguk pelan dan berkata dengan lemah,
"Pangsit mu wangi sekali.."
"Tolong bantu aku untuk duduk, agar lebih mudah makannya.."
Andi mengangguk cepat, dia dengan hati hati membantu Viona untuk bisa duduk bersandaran.
Lalu dengan hati hati sambil di tiup lebih dulu di depan bibirnya, Andi baru menyuapi Viona sesuap demi sesuap.
Tapi baru memasuki pangsit keempat, Viona sudah menggeleng kecil dan berkata,
"Di,.. aku gak sanggup lagi.."
Andi dengan hati hancur mengangguk sambil berusaha tersenyum berkata,
"Ya sudah tidak apa-apa, sedikit pun jadilah.. yang penting perut mu jangan kosong.."
"Kamu istirahat lah, aku mau bawa ini kedapur dan beres beres,.."
ucap Andi beralasan.
Viona memegang tangan Andi dan berkata,
"Nanti aja lah di,.. duduk lah di sini, temani aku.."
"Aku ingin melihat mu menemani aku cerita cerita, kamu mau kan ?"
Andi tersenyum lembut, lalu membantu Viona kembali berbaring dan berkata,
"Tentu,.. tentu,.. aku akan menemani mu.."
__ADS_1
"Kamu mau bicara apa ? bicara lah, atau mau dengar cerita apa ? katakan saja.."
"Tidak di,.. aku hanya ingin menatap wajah mu saja saat berbicara.."
"Kamu cerita apa aja boleh, bebas.."
ucap Viona lemah sambil memaksa dirinya untuk tersenyum.
"Baiklah kalau begitu aku akan bercerita tentang seorang pemuda yang tidak pernah menyesal jatuh cinta pada seorang gadis.."
"Kisah ini dimulai dari pemuda bernama,...."
Andi menceritakan kisah tentang dirinya sendiri dan Viona, mulai dari saat mereka kecil..
Belum juga cerita Andi selesai, sepasang mata Viona telah terpejam, dia sudah tertidur dengan nafas teratur dan bibir Tersenyum.
Ini adalah efek obat pereda nyeri yang baru di minum oleh Viona.
Viona harus rutin konsumsi obat ini, bila tidak dia akan mengalami kesakitan hebat yang sangat menyiksanya.
Andi duduk termenung menatap kondisi Viona yang semakin mengenaskan.
Menjelang subuh Viona terbangun dari tidurnya, dia menatap Andi yang berbaring di sebelah nya dengan sedih.
Viona bergumam dalam hati sambil menatap wajah Andi.
"Andaikan kamu tahu, betapa inginnya aku, bisa terus hidup mendampingi mu selama lamanya.."
"Sayang nya jawabannya adalah tidak, sayangnya semua cuma sebatas impian saja.."
"Asalkan kamu tahu, aku juga tidak rela pergi dari sisi mu, bisa bersama mu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup ku..'
"Seandainya aku pergi nanti, hiduplah dan jaga diri mu dan dia baik baik baik.."
"Vi kamu sudah bangun,.. kenapa tidak tidur..?"
ucap Andi sambil menatap Viona.
"Aku bikinkan susu ya untuk mu..?"
ucap Andi lembut.
Viona menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak usah di,..kamu baring saja di sini temani aku.."
Andi mengangguk dan berkata,
"Hari masih gelap diluar sana, sebaiknya kamu tidurlah lagi."
Viona menggeleng dan berkata,
"Aku sudah cukup puas tidur, aku takut bila terus tidur,.aku akan pergi tanpa bisa melihat mu lagi."
airmata jatuh menitik hingga masuk kedalam bibir Viona sendiri..
Andi menggunakan jempolnya dengan lembut menghapus sisa air mata Viona dan berkata,
"Baiklah,.. terserah kamu saja,..tapi jangan berpikir yang bukan bukan.."
"Tetap semangat dan percaya diri.."
Viona mengangguk kecil, dia sambil menatap Andi berkata,
__ADS_1
"Di,.. aku ingin kembali ke kota J boleh tidak ?"
Andi mengangguk dan berkata,
"Boleh,.. kamu mau berangkat kapan ?"
"Sekarang boleh,..?"
tanya Viona.
Andi bangun duduk dan berkata,
"Kami serius,..?"
Viona mengangguk yakin..
"Baiklah, kamu tunggu sebentar aku akan panggil suster Emi kemari.."
ucap Andi sabar.
Viona menatap bayangan punggung Andi kemudian berkata,
"Di,..! makasih ya.."
Andi menoleh kearah Viona, memaksa kan diri untuk tersenyum dan berkata,
"Sama sama, tunggu bentar ya.."
Setelah berkata Andi pun keluar dari dalam kamar.
Tak lama kemudian Suster Emi lah yang masuk kedalam, menggantikan Andi mengurus Viona.
Dalam perjalanan sekali ini menuju kota J, suster Emi ikut menemani Viona.
Melihat Viona yang penuh semangat dalam perjalanan mereka.
Hati Andi pun cukup terhibur melihat nya.
Tidak sampai dua jam perjalanan, mereka pun sudah tiba di depan rumah kediaman orang tua Viona.
Setelah memarkirkan mobilnya, Andi pun membantu memindahkan Viona ke kursi roda kemudian mendorong nya menuju teras depan rumah kedua orang tua Viona.
Andi membunyikan bel pintu rumah sambil berdiri menunggu bersama Viona yang duduk di kursi roda, suster Emi yang juga ikut berdiri di belakang Andi.
Begitu bel pintu rumah di tekan, tak lama kemudian pintu rumah pun terbuka dari dalam.
Dua orang anak laki dan wanita yang mengenakan seragam SMP menatap kearah Andi dan Viona dengan sangat kaget.
"Kak Andi,..kak Viona,..!"
teriak kedua anak itu kaget serasa tidak percaya.
Mereka berdua kemudian buru-buru maju merangkul Andi dan Viona secara bergantian.
Mendengar teriakkan kedua anak bungsu nya di depan, papa mama Viona pun keluar untuk melihat ada apa.
Begitu melihat kedatangan Andi dan Viona kedua orang itu sempat tertegun sesaat.
Sesaat kemudian mereka baru maju untuk memeluk Andi dan Viona secara bergantian dengan penuh haru
Terutama Mama Viona dia sudah tidak bisa menahan tangis, saat melihat kondisi putrinya berubah drastis seperti ini.
.
__ADS_1