
Pelayan toko mengangguk sopan, dia dengan profesional langsung membungkuskan pesanan Rio.
Rio menatap Viona dan berkata,
"Kamu duduk santai dulu di sini, setelah menyelesaikan pembayaran.."
"Kita bisa pergi cari makan kemudian nonton bioskop.."
Viona menatap Rio dengan tatapan letih dan berkata,
"Saat ini aku hanya ingin pulang ke kost dan tidur, aku benar-benar sudah sangat lelah.."
"Aku malam tidak suka makan...nonton bioskop pun aku juga tidak suka.."
Rio menghela nafas dan berkata,
"Baiklah sehabis menyelesaikan pembayaran, aku akan mengantar mu pulang.."
Rio berpikir kalau pun di paksakan, dia paling makan dan nonton sendirian.
Viona pasti akan memilih tidak makan kemudian tidur dalam bioskop.
Dan lebih fatalnya lagi kalau dia sampai sakit, maka semua rencana akan jadi kacau dan terasa sia-sia semua nya.
Sehabis melakukan pembayaran, Rio benar-benar langsung mengantar Viona kembali ke kostnya.
Sepanjang perjalanan Viona hanya terbaring lemas di sandaran kursi, sambil terus menatap keluar jendela mobil.
Dia tidak berbicara sepatah katapun.
Kalaupun Rio mengajak nya bicara, dia hanya menjawab dengan singkat.
"Ya...tidak...gak tahu..."
Hanya tiga patah kata ini lah yang keluar dari mulutnya.
Sehingga Rio pun menjadi malas sendiri untuk berbicara banyak.
Viona sendiri sedang membayangkan, seandainya hari ini, yang menemaninya adalah Andi.
Andi pasti tidak akan membiarkan nya kelelahan seperti ini.
Dan bila Andi melihatnya lelah seperti ini, Andi pasti akan menggendongnya di punggung membiarkan nya bersantai di sana.
"Andi kamu di mana ? kamu sedang apa saat ini ? apa kamu masih merindukan ku ? apa kamu ada memikirkan aku ?"
gumam Viona seorang diri dalam hati.
Saat ini meski di temani oleh Rio, tapi dia justru sangat merindukan Andi.
"Andi maafkan aku, kamu jangan membenci ku, dan jangan sakit hati, aku juga tidak mau seperti ini.."
gumam Viona di dalam hati dengan sedih.
Diam-diam saat Rio sedang tidak melihat kearahnya, Viona menghapus dua butir air bening di pipinya.
Viona melihat kearah bulan yang bulat terang di atas sana.
"Bulan oh bulan kamu jangan tidur..tolong temani aku yang seperti orang buta kehilangan arah tujuan.."
"Orang yang ku rindukan kini sudah tidak berada di sisiku, hati ku jadi terasa gelap dan sepi, jadi tolong terbangi hidup ku..Oh bulan.."
__ADS_1
gumam Viona di dalam hati dengan sedih.
Akhirnya mereka tiba juga di depan kost Viona,
Viona langsung membuka pintu mobil dan berkata,
"Terimakasih banyak Rio.. sampai ketemu besok malam.."
"Ehh bukannya besok pagi ada perkuliahan ?"
tanya Rio dengan heran.
Karena Rio hapal di luar kepala, semua jadwal dan kelas perkuliahan Viona.
"Aku besok tidak masuk, pengen istirahat..."
"Jadi kamu tidak perlu datang jemput aku.."
ucap Viona pelan.
Lalu dia langsung berjalan masuk kedalam kostnya tanpa menoleh lagi kearah Rio.
Tangannya menjinjing beberapa kantong belanjaan yang di belikan oleh Rio padanya.
Rio hanya menghela nafas panjang, dia tahu betul hati dan perasaan Viona masih terikat dengan Andi.
Tapi dia ingin bertahan, dia tidak ingin melepaskan Viona yang begitu cantik dan selalu membuat hatinya penasaran untuk mendapatkan nya.
Keesokan harinya Andi pergi kuliah, dia tidak bertemu Viona dan Rio.
Tapi Santi yang justru datang menemuinya dan mengajak nya ngobrol berdua.
"Tapi Viona terlihat begitu tertekan dan tidak bahagia.."
"Apakah kalian berdua bertengkar ? kemudian berpisah, sehingga Viona menjadikan Rio sebagai pelarian..?"
tanya Santi beruntun begitu duduk di sisi Andi.
Andi tersenyum pahit dan berkata,
"Tidak San.. tidak yang seperti kamu bayangkan.."
"Viona bukan orang seperti itu, dan kami pun tidak bertengkar.."
"Kami memang sudah berpisah.."
ucap Andi lesu.
"Apa yang sebenarnya terjadi di..?"
tanya Santi prihatin.
Padahal bila di pikir-pikir, dia sendiri juga sedang prihatin dan banyak masalah, yang tidak bisa dia selesaikan.
Tapi dia tetap tidak tega melihat Andi dan Viona kedua sahabatnya berakhir seperti ini.
Andi sambil tersenyum getir dia termenung melihat ke arah orang berlalu lalang kemudian berkata,
"San..kamu adalah sahabat terlama kami berdua, aku tidak akan menutup hal ini dari mu.."
"Kamu masih ingat cerita Viona tempo hari soal keadaan ayah Viona yang terlilit hutang sama paman Rio.?"
__ADS_1
Santi menganggukkan kepalanya menatap Andi dengan serius.
"Rio menggunakan itu memaksa Viona untuk bersamanya, karena tidak punya pilihan lain.."
"Viona terpaksa menerima dan membuat semacam hubungan kontrak dengan Rio.."
"Viona akan putus dengan ku dan menjadi kekasih Rio, asalkan Rio bersedia menangguhkan hutang ayahnya , hingga dia selesai kuliah.."
"Bila sebelum selesai kuliah, Viona bisa melunasi hutang ayahnya, maka Rio harus melepaskan Viona.."
"Membiarkan Viona bebas memilih jalan hidup nya.."
"Tapi apabila sampai Viona lulus kuliah, hutang belum juga terbayar, maka Viona harus membayar hutang tersebut dengan menjadi istri Rio."
"Rio menyetujui usulan Viona tersebut, dan mereka sudah menandatangani kontrak itu dan sah secara hukum.."
"Bila dalam perjalanan ada yang melanggar kontrak, pihak pelanggar akan di kenakan denda penalti sebesar 100 miliar."
"Begitulah ceritanya, San.."
ucap Andi menutup ceritanya.
"Dan waktu itu kamu juga sempat melihat draft kontrak nya kan ?"
tanya Andi.
"Santi mengangguk dan berkata, waktu itu aku sempat melihatnya sekilas, tapi tidak menyangka akan berakhir seperti ini.."
Santi menatap Andi dan berkata,
"Jadi hubungan mu dan Viona ?"
Andi kembali tersenyum getir dan berkata,
"Terpaksa kami sementara ini harus berjauhan, agar Rio Tidak nekad dan melakukan hal bukan-bukan pada Viona, sebelum kuliahnya selesai."
"Saat ini aku hanya bisa fokus mencari uang sebanyak-banyak nya, untuk melunasi hutang ayah Viona, bila hal itu beres kami pun busa kembali bersama lagi.."
"Dasar bajingan si Rio itu, rasanya ingin ku bikin mampus saja tuh orang, benar-benar kelewatan.."
ucap Santi kesal dan emosi.
"Kamu serius ingin melenyapkan dia, dari muka bumi, cukup satu kata dari mu."
"Besok pagi dia tidak akan bisa melihat matahari terbit.."
ucap sebuah suara dengan dingin seperti berbisik di sebelah Telinga Santi.
Santi sangat terkejut, dia langsung celingukan mencari asal suara yang sangat dia kenal itu.
Suara khas laki-laki yang nadanya begitu Barito, akan sangat sulit bagi Santi untuk melupakan pemilik suara tersebut.
Akhirnya Santi menemukan sosok yang di carinya, dia sedang berjalan menuju kearahnya dari tempat yang cukup jauh.
Santi menatap kearah Andi dan berkata,
"Untuk saat ini aku belum bisa bantu apa-apa, tapi aku janji pasti akan membantu kalian memikirkan caranya.."
Setelah berkata, Santi buru-buru berjalan menghampiri James dan begitu berhadapan Santi langsung menariknya menuju tempat sepi dan berkata,
"Aku melarang mu melakukan hal itu, kamu tidak boleh itu melanggar hukum.."
__ADS_1