AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
PEMBICARAAN VIOLIN VIONA


__ADS_3

"Berry mana jam dan patung ku..?'


ucap Andi sambil berusaha tersenyum menoleh kearah Berry.


Berry buru-buru membongkar tas kecil di pinggangnya, mengeluarkan sebuah patung ukir dan sebuah jam tangan dari dalam tas.


Berry memberikan patung ke Andi, kemudian dia membantu Andi mengenakan jamnya kembali sambil berkata,


"Apa bagusnya sih jam dan patung ini, begitu sadar langsung mencarinya.."


"Padahal bila bukan karena dia, kamu juga tidak perlu berakhir seperti ini ..."


"Perasaan selain terus menyusahkan dan menyakiti mu, apa yang pernah dia lakukan untuk mu.."


"Berry apa maksud mu.?"


tanya Violin setengah menebak.


Berry menghela nafas panjang dan berkata,


"Selain kakak mu itu,.siapa lagi yang bisa memintanya melakukan hal konyol tidak masuk akal ini.."


"Kak Andi apa yang kakak minta kamu lakukan untuknya, ?"


tanya Violin dengan airmata bercucuran.


Di dalam hati dia sudah bisa menebaknya, dia hanya ingin tahu lebih jelas dari Andi langsung.


Sebelum Andi sempat menjawabnya, Berry sudah kembali berkata,


"Kakak mu meminta Andi mengalah di pertandingan dan menyerahkan.."


"Berry cukup... jangan di teruskan lagi..!"


bentak Andi pelan sambil menahan nyeri di kepala nya.


"Kalian berdua jangan buat pasien emosi itu sangat tidak baik buat kondisi nya.."


ucap perawat yang mendampingi di dalam mobil sambil terus memeriksa kondisi Andi.


Beery mengangguk dan menundukkan kepalanya tidak meneruskan ucapannya lagi.


Sedangkan Violin meski dia tidak mendengarkan seluruh penjelasan dari Berry, tapi dari beberapa penggalan kalimat itu, dia pun sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Kakak sungguh kelewatan, bila bertemu aku pasti akan memaki nya habis habisan.."


ucap Violin kesal.


Andi berusaha tersenyum dan berkata,


"Lin kamu jangan pernah marahi dan menyalahkan kakak mu, ini adalah kemauan ku sendiri."


"Ini Tidak ada hubungan nya sama sekali dengan dirinya.."


"Hidupnya sudah cukup sengsara dan menderita, jadi aku minta tolong pada kalian berdua, janganlah pernah menyalahkan dia lagi.."

__ADS_1


Andi diam sejenak mengatur nafas, kemudian sambil menatap kedua orang itu, dia kembali berkata,


"Kalian berdua tidak berada di posisi kami, jadi kalian tidak akan pernah tahu.."


"Seberapa penting nya, posisi dia di hati ku, kalian tentu tidak bisa melihat dan merasakan kebaikannya seperti yang aku rasakan.."


Setelah menyelesaikan kata-katanya, Andi pun kembali memejamkan matanya, kepalanya tiba-tiba kembali terasa pusing luar biasa.


Hingga akhirnya Andi kembali jatuh pingsan tidak sadarkan diri.


Melihat hal ini petugas medis buru buru melakukan pemeriksaan.


"Kak perawat, kak Andi kenapa ?'


tanya Violin cemas.


Perawat itu tidak menjawab, dia hanya terus melakukan pemeriksaan hingga selesai baru berkata,


"Kalian berdua banyak berdoa saja, pasien kini sedang kritis,.. semoga kita bisa tiba tepat waktu di rumah sakit.."


"Tapi bukankah dia tadi sudah sadar dan berbicara cukup banyak..?"


tanya Berry cemas juga heran.


"Kamu pernah lihat lilin yang hampir padam, tiba tiba bersinar sangat terang.. kemudian baru padam.."


"Kira kira seperti itulah kondisi pasien saat ini.."


ucap perawat tersebut memberikan penjelasan.


"Kak Andi kamu harus bertahan kak..jangan pernah tinggalkan violin kak.."


"Violin gak mau kak,.. bertahan lah kak.."


"Bukankah kakak,.. masih ingin melihat Violin sukses,.. memenuhi harapan kakak,.. menjadi seorang dokter.."


"Ayo lah kak bertahan lah,.. kakak tidak boleh ingkar janji.."


"Jangan kecewakan Violin kak,.."


ucap Violin bercucuran air mata sambil menatap Andi dengan cemas.


Sedangkan Berry tidak berkata apa-apa, dia hanya memejamkan matanya yang juga mulai basah.


Semua kebaikan Andi terhadap dirinya, mulai dari awal mereka bertemu hingga saat ini.


Satu satu mulai terbayang jelas di depan pelupuk matanya, yang tertutup dan mulai basah airmata.


Sedangkan mulutnya terus berkomat Kamit berdoa untuk kesembuhan Andi.


Akhirnya kendaraan ambulance yang membawa Andi violin dan Berry tiba di depan rumah sakit.


Perawat itu dengan sigap membuka pintu mobil belakang, kemudian dia turun duluan.


Lalu bersama beberapa rekan medis yang menunggu di sana.

__ADS_1


Mereka dengan hati-hati menurunkan Andi dari mobil ambulance..


Lalu mendorong ranjang kereta itu, langsung menuju lorong pintu ICU..


Berry dan Violin terus mendampingi di samping Andi sepanjang jalan menuju ruang ICU, Violin terus memanggil nama Andi dan meminta Andi bertahan.


Tiba-tiba Viona ikut muncul di samping Andi dan berkata,


"Di,.. maafkan aku,.. ini semua salahku, bangunlah marahi aku, jangan diam saja.."


"Di ayo bangunlah,.. kamu harus bangun dan sehat kembali,.."


"Kamu tidak boleh pergi seperti ini,.. bertahan lah di.. maafkan aku.."


ucap Viona sambil menangis sedih menggenggam telapak tangan Andi yang terasa dingin dengan erat.


Violin dan Berry tidak berusaha mencegah ataupun memarahi Viona.


Mereka tidak mau mengecewakan Andi, yang telah berpesan pada mereka sebelum dia kritis.


Tiba-tiba pelupuk mata Andi sedikit bergetar, tangannya juga bergerak membalas menggenggam tangan Viona.


Tapi matanya sulit terbuka, mulutnya juga seperti sedang berbisik-bisik kecil tidak jelas.


Perlahan lahan dari kedua sudut matanya mengalir dua butir air bening.


Bersamaan dengan dua butir air bening yang jatuh menetes membasahi kasur di sisi kepala nya.


Tangan Andi yang memegang tangan Viona pun melonggar pegangannya, lalu jatuh terkulai kesamping, jam tangan yang melingkar di tangannya pun ikut putus secara tiba-tiba, dan terlepas dari tangannya jatuh keatas lantai.


Begitu pula dengan tangannya yang memegang patung ukiran Viona, juga ikut terjatuh kelantai.


Patung itu langsung potong menjadi dua bagian..


Sementara Andi terus di dorong ke dalam ruang ICU, Viona hanya bisa menjatuhkan diri nya duduk bersimpuh di atas lantai rumah sakit menangis sedih.


Sambil memegang jam tangan dan potongan patung dirinya dalam genggaman tangannya erat-erat.


Violin juga berdiri bodoh di sana, melihat kearah kereta ranjang yang membawa Andi menghilang di balik pintu ICU .


Sedangkan Berry sudah memutar tubuhnya menghadap kearah tembok.


Berry meninju ninju tembok melampiaskan perasaan kesal sedih dan kecewa, sambil menangis dalam diam


Mereka bertiga tidak bisa ikut masuk kedalam, hanya bisa mengantar sampai di situ saja.


Violin kemudian membantu kakaknya yang sedang menangis sedih, untuk bangun dan berkata,


"Kak ayo kita duduk di sana, ada yang ingin ku bicarakan dengan mu.."


Viona mengangguk pasrah mengikuti Violin duduk agak terpisah dan menjauh dari Berry.


Setelah mereka duduk berdua, Violin pun membuka pembicaraan.


"Kak hentikan lah tangis mu, ingat dengan kondisi janin mu, yang kak Andi inginkan adalah melihat mu bahagia, bukan ingin melihat mu menangis seperti ini..."

__ADS_1


"Seharusnya aku dan Berry ingin memarahi dan memaki mu habis habisan..'


__ADS_2