AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
PANGGILAN TELEPON


__ADS_3

Saat tiba di parkiran selesai memarkirkan mobilnya, Andi dengan hati hati turun dari mobil.


Melihat Violin yang tidur begitu pulas, Andi sama sekali tidak tega membangunkannya.


Setelah membuka pintu mobil pelan pelan, dan membantu melepaskan sabuk pengaman.


Andi menggendong Violin dengan pelan dan hati hati keluar dari dalam mobil.


Lalu menggendong Violin hingga kembali ke kamarnya, setelah memasangkan selimut Andi pun berlalu dari kamar tersebut.


Setelah Andi pergi,. Violin pun membuka matanya menghela nafas sedih.


Sebenarnya saat mereka sampai di parkiran pun, sebenarnya Violin sudah bangun dari tidurnya.


Dia hanya enggan membuka matanya,. turun berjalan sendiri, karena ingin menikmati kemesraan dan pelukan hangat dari Andi.


Hingga Andi menurunkannya di kasur, sebenarnya dia berharap Andi akan ikut berbaring memeluknya tidur bersama hingga pagi, seperti beberapa waktu yang lalu.


Tapi harapan tinggal harapan, Andi yang sedang kalut dan galau, malah pergi mencari dan menelpon, hampir semua RS jiwa,.dan semua praktek dokter psikiater di kota B.


Semua Andi telpon satu persatu untuk mencari tahu keberadaan Viona.


Tapi hasilnya tetap saja nihil, akhirnya Andi terbaring lemas di kasurnya menatap langit-langit kamar dengan tatapan mata kosong.


Hingga akhirnya karena lelah, Andi pun tertidur di sana.


Keesokan pagi seperti biasanya, Andi tetap bangun pagi, menyiapkan sarapan buat Violin.


Mereka berdua sarapan bersama dalam keheningan, masing-masing larut dalam pikiran sendiri sendiri.


Hingga akhirnya mereka malah serempak membuka mulut bersama.


Akhirnya mereka sama sama tersenyum dan berkata secara bergantian,


"Kak Andi saja duluan.."


Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Nggak kamu saja yang duluan,.."


Violin menatap Andi sejenak kemudian berkata,


"Kak Andi pagi ini mau berangkat ke kota B ya kak,?"


Andi mengangguk dan berkata,


"Yap,.."


"Kak bila waktu terlalu mepet, bagaimana bila pesta pernikahan kita di undur saja hingga bulan depan..?"


Andi terdiam lama,. akhirnya berkata,


"Bila bisa seperti itu, itu tentu lebih baik."

__ADS_1


"Karena terus terang saja, hati kakak tidak bisa tenang, sebelum bisa memastikan keberadaan kakak mu dan dia dalam keadaan baik baik saja.."


"Bila terjadi sesuatu padanya, kakak akan selalu di hantui, perasaan bersalah padanya seumur hidup."


"Kakak mu sampai bernasib buruk begini, sedikit banyak kakak adalah penyebab dan harus turut bertanggung jawab di dalamnya.."


Violin mengangguk dan menghela nafas sedih, kemudian berkata,


"Ya kak,.. Lin mengerti perasaan kakak, kakak pergilah dengan tenang urusan pesta dan lain sebagainya, serahkan saja pada Lin."


"Lin akan bantu urus dengan baik.."


"Lin maafkan kakak ya ?'


ucap Andi sambil memegang kedua tangan Violin dengan perasaan bersalah menyelimuti, seluruh perasaan nya.


Violin memaksakan diri untuk tersenyum dan berkata,


"Tidak apa-apa, kak.."


"Lin mengerti, kok."


"Sekarang giliran kakak, kakak mau bicara apa tadi..?"


Andi tersenyum dan


menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada lagi,.semua sudah kita bahas barusan ini.."


"Ayolah kita berangkat sekarang, lebih cepat lebih baik.."


Selesai berucap, Violin buru-buru berjalan menuju pintu, sambil berjalan dia diam diam, menelan dua butir airmatanya yang runtuh hingga kebibir.


Violin terpaksa mencicipi airmatanya sendiri yang terasa asin, tanpa berani menghapusnya.


Takut ketahuan oleh Andi, dia tidak ingin Andi merasa bersalah dan bersusah hati karenanya.


Andi dan Violin berpelukan mesra, hingga salah satu dari mereka masuk ke dalam mobil.


Hari ini mereka berdua menggunakan mobil Andi menuju RS, Andi mengantar Violin hingga depan lobby RS.


Setelah saling berpelukan sejenak, saling melambaikan tangan, hingga melepas Violin berjalan masuk ke dalam RS.


Andi baru melajukan mobilnya, meninggalkan RS, Andi bahkan tidak tahu Violin langsung berlari kearah toilet rumah.sakit, sambil menutupi mulutnya menahan suara tangis.


Setelah masuk kedalam toilet, Violin mengunci pintu kamar toilet, berdiri bersandaran di pintu toilet.


Menangis seorang diri,.dari posisi berdiri memunggungi pintu.


Hingga akhirnya berjongkok dan menangis sedih seorang diri di sana.


Jawaban Andi yang menerima usul nya tadi memundurkan pernikahan, sebenarnya sangat menyakiti perasaannya.

__ADS_1


Pernikahan adalah momen sakral seumur hidup sekali bagi seorang wanita yang telah mempertaruhkan, seluruh perasaan cintanya buat seorang pria yang dia cintai dan mencintainya.


Seluruh harapan dan masa depan yang dia impikan, semua dia pertaruhkan di sana.


Saat hal itu terjadi pada pernikahan yang di nanti nantikan nya selama ini.


Bisa di bayangkan bagaimana hancurnya perasaannya saat ini, sehingga untuk melepaskan semua perasaan kesedihannya.


Dia hanya bisa menangis secara diam-diam seorang diri, di tempat privasi yang jauh dari layak itu.


Setelah puas menangis, Violin baru keluar dari kamar toilet, mencuci muka, merapikan kembali make up-nya.


Setelah itu, dia baru menelpon orang tuanya dan orang tua Andi menjelaskan alasan dia dan Andi memundurkan jadwal pernikahan mereka menjadi bulan.depan.


Selain itu dia juga menelpon pihak even organizer bridal dan lain sebagainya agar di undurkan kembali jadwal pernikahannya.


Violin juga harus menelpon pihak pencetak undangan, merescedule tanggal pernikahan .


Dan kartu undangan revisi kembali.di sebarkan ulang.


Setelah semua dia atur lewat by phone, Violin sambil menghela nafas panjang berulang ulang.


Dia baru keluar dari kamar toilet tersebut untuk meneruskan pekerjaannya secara profesional.


Membuang jauh jauh semua pikiran dan masalah pribadinya.


Terutama saat melakukan tindakan operasi, Violin sampai memerlukan waktu privasi, menenangkan pikirannya sejenak, baru dia bisa bersikap tenang untuk menjalani tugas profesinya.


Keberadaan patung Cincin kalung dan anting pemberian Andi, sangatlah membantu, dia menenangkan perasaannya, sebelum menjalankan tugas profesinya.


Andi sendiri begitu sibuk di kota B, mondar mandir kesana kemari, mencari informasi tentang Viona, bahkan meminta bantuan detektip.


Tapi hasilnya tetap nihil, hingga tinggal satu Minggu menjelang jadwal pernikahannya, yang sudah di schedule ulang.


Andi akhirnya duduk termenung seorang diri di taman depan halaman kampus lamanya.


Andi duduk termenung menatap kearah para CAMA CAMI,. sedang menjalani ospek kampus.


Andi seolah olah melihat bayangan Viona sedang tertawa mengobrol dengan bebas bersama teman temannya.


Kenangan itu begitu indah, begitu bebas dan gembira, jauh dari segala kecemasan dan kesedihan seperti saat ini.


Hingga tanpa sadar Andi pun ikut tersenyum lebar dan terus menatap kearah lapangan.


Beberapa CAMI yang mengira Andi sedang tersenyum pada mereka.


Mereka menjadi salah tingkah, dengan wajah merah dan malu malu mereka melirik kearah Andi dan membalas senyum kearah Andi.


HP Andi yang tiba tiba berbunyi, akhirnya menyadarkan dirinya dari lamunan.


Andi buru buru melihat siapa yang melakukan panggilan, Andi di dalam hati sangat takut, bila panggilan itu datangnya dari Violin.


Begitu di lihat panggilan datang dari nomer tak dikenal, Andi pun tersenyum lega dan mengangkatnya.

__ADS_1


"Halloo,.."


__ADS_2