
Sehingga dia hanya bisa berkata seperti ini untuk mencoba membujuk nya.
"Violin mengerti maksud kakak, baiklah kak Violin akan menurut pada kakak.."
"Tapi ijinkan Violin menyuapi kakak sampai selesai, sambil menunggu kedatangan kak Berry."
"Bila kak Berry tiba, Violin berjanji akan segera kembali kesekolah.."
"Kak,.. tapi kakak tidak boleh lagi merahasiakan kost kakak dari Violin dan tidak boleh tidak mengangkat telpon dari Violin."
"Atau Violin akan beritahukan semuanya pada kak Viona.."
Melihat keseriusan gadis cilik itu, Andi tersenyum tak berdaya dan berkata,
"Baiklah kakak berjanji pada mu, ini alamat kost kakak yang baru catat lah.."
ucap Andi sambil menunjukkan sebuah alamat di HP nya.
Violin buru buru mencatat nya ke HP, , setelah itu sambil tersenyum riang, dia kembali menyuapi Andi dengan telaten hingga selesai.
Setelah itu, dia mengupas buah buahan dan kembali menyuapi Andi.
Sambil tertawa Andi berkata,
"Lin kalau kamu merawat kakak seperti ini, dalam sebulan kakak akan berubah menjadi seekor B*bi gendut."
"Biarin kalau kak Viona gak suka dengan b*bi gendut, biar Lin yang merawatnya."
ucap Violin dengan nada riang.
Mendengar ucapan gadis cilik itu, Andi langsung terdiam, tidak berani banyak bicara lagi.
Pintu ruangan di dorong dari luar, lalu terlihat Berry melangkah masuk kedalam ruangan.
Melihat Violin sudah ada di sana sedang menyuapi Andi, Berry pura-pura terkejut dan berkata,
"Wah ada suster baru magang nih, beruntung banget loe di,.. di rawat sama suster cilik.."
Andi hanya tersenyum menanggapi guyonan Berry, Violin dia tidak terlalu menanggapi guyonan Berry.
Andi menatap Violin dan berkata,
"Lin kembali lah kesekolah, Berry sudah datang kamu boleh tenang.sekarang."
Berry sambil merapikan barang Andi dari dalam tas ke lemari, dia ikut berkata.
"Ya nona cilik, jangan suka bolos sekolah tar gak naik kelas."
"Urusan Andi percayakan saja pada ku, kamu boleh tenang..aku pasti akan menjaganya dengan baik."
Violin yang dari tadi menahan emosi, mendengar ucapan Berry yang terus meledek dan menyindirnya.
Dia melirik kearah Berry dengan tatapan tajam, lalu berkata,
"Bila kamu bisa di percaya, kak Andi tidak akan terbaring di sini.."
"Dasar parasit, masih berani omong besar.."
"Sekali lagi berani ngebacot, percaya tidak aku akan membungkam mulut mu dengan ini.."
ucap Violin galak sambil menunjukkan pisau buah di tangan nya kearah Berry.
__ADS_1
Berry meleletkan lidahnya, lalu dia buru-buru meneruskan kerjaan nya, menyusun pakaian Andi kedalam lemari.
Tapi diam diam Berry mengomel pelan,
"Dasar turunan kuntilanak, berani menyalahkan ku lagi.."
"Dua orang bertarung ya tentu ada yang luka, aku di pinggir lapangan bisa apa..?"
"Lalu salah ku dimana coba ? dasar bocah ingusan."
"Ngatai aku parasit lagi, jelas jelas kamu dan keluarga mu yang jadi parasit buat Andi, masih berani ngatai orang lain parasit, dasar gak tahu malu bukannya ngaca kek.."
"Dasar tidak tahu bersyukur, bila bukan karena bantuan aku, darimana Andi punya duit ngurusin biaya hidup dan hutang kalian.?"
"Tidak tahu malu.."
ngomel Berry kesal.
"Hei kamu sedang ngomelin siapa ? tidak tahu malu..!?"
"Ayo jawab..?!"
tanya Violin sambil berjalan mendekati Berry dan mengacungkan pisau buah di tangannya ke arah Berry.
"Hei..hei..hei... ! hati hati dengan pisau itu nona cilik, nanti aku bisa berbagi kamar dengan Andi..!"
teriak Berry mundur menjauh dengan panik.
Melihat hal itu, Andy pun tersenyum lebar dan berkata,
"Sudahlah Lin jangan urusin Berry lagi, kamu cuma buang buang waktu penting mu saja."
Sambil mempelototi Berry, dia mengacungkan pisaunya kearah Berry dan berkata,
"Awas kamu.."
Setelah itu Violin membalikkan badannya menghadap ke arah Andi, wajahnya berubah 180°.
Violin tersenyum lembut, lalu berkata.
"Baiklah kak, Lin pamit dulu kembali ke sekolah."
"Kalau ada perlu apa-apa telpon aja.."
"Bye..!"
ucap Lin sebelum keluar dari kamar, sambil melambaikan tangannya kearah Andi.
Andi membalas lambaian Violin dengan pelan, karena lengannya masih kurang leluasa untuk di gerakkan.
Setelah Violin pergi, Andi baru berkata ke Berry,
"Berry apa kamu ada ambilkan obat oles dan obat minum ku, yang ada di dua botol porselen putih ?"
Berry mengangguk dan berkata,
"Ada bro,.. bentar.."
Berry kemudian mengambil dua botol kecil dari dalam tas dan memberikannya kepada Andi.
Andi menerimanya lalu membuka tutup botolnya mengeluarkan dua butir pil berwarna merah dan langsung di telan nya.
__ADS_1
Sedangkan botol yang satu lagi, dia menggunakan cairan di dalam, untuk mengoles luka di dadanya..
Setelah menelan pil merah dan mengoles obat luka di dadanya, setengah jam kemudian, Andi mulai merasa kondisi dirinya mulai membaik.
Tangannya mulai bisa di gerakan, dadanya tidak terlalu nyeri lagi saat tangannya di gerakkan.
Berry selesai merapikan barang Andi, dia pun berbaring santai di sofa sambil menonton TV.
"Di,.., bila butuh sesuatu panggil aja, aku mau tidur dulu ngantuk.."
ucap berry kemudian langsung memejamkan matanya, sesaat kemudian, dia terlihat sudah pulas.
Andi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat gaya Berry yang bebas dan cuek, tanpa beban pikiran.
"Andi melihat HP nya, mengecek saldo tabungannya, sesuai dengan yang Berry katakan, bonus kemenangan dan hasil taruhannya semuanya sudah masuk.
Andi segera mentransfer hak nya Berry, setelah selesai Andi, baru membuka pesan pesan yang masuk ke HP nya.
Di antaranya ada pesan dari Sarah, Andi pun membuka pesan chat dari Sarah.
"Apa kabar di,..? gimana keadaan mu di sana ?"
tanya chat singkat dari Sarah.
Setelah membacanya sejenak Andi pun membalas pesan chat dari Sarah.
"Kabar ku baik Sar, aku sudah dapatkan pekerjaan, sambil kuliah."
"Kamu sendiri gimana di sana ?"
balas Andi.
Melihat Sarah masih offline, Adi pun membuka pesan masuk yang lainnya.
yang ternyata di sana ada pesan dari Vero dan Davina.
"Gimana kabar mu di sana di ? apa sudah dapat kerja dan tempat kuliah belum ?"
tanya chat dari Vero.
Andi pun membalasnya,
"Aku baik baik saja Ver, makasih banyak atas bantuan koneksinya, aku kini kerja
sama paman mu ko Ahong."
"Aku sudah masuk kuliah Ver, aku ambil yang kelas malam."
"Kamu sendiri gimana, ? apa pekerjaan dan keadaan mu baik baik saja..?"
Melihat Vero juga offline, mungkin jam segini sedang sibuk kerja pikir Andi.
Dia pun membuka pesan dari Davina.
"Di,...jangan lupa ya kabarin alamat kost mu ?"
"Senin ini aku ada jadwal nginap di kota J, aku mau main ketempat mu.."
Membaca pesan dari Davina Andi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tapi dia akhirnya tetap membalasnya mengirimkan alamat kostnya ke Davina.
__ADS_1