AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
KESEDIHAN DAN KEPUTUSASAAN ANDI


__ADS_3

Andi mengangguk cepat dan berkata,


"Ayo kakak gendong aja ya,..?"


Violin sambil menahan senyum mengangguk.


Andi dengan penuh semangat, langsung menggendong Violin menuju dapur, lalu dia dengan cepat membantu menyiapkan makanan untuk Violin.


Selesai makan dan merasa lega, Violin baru menatap Andi yang sedang duduk di hadapannya dan berkata,


"Mengapa kakak harus lakukan hal itu,? dan merahasiakannya dari Violin ?"


Andi menghela nafas panjang, setelah itu dengan kepala tertunduk Andi berkata,


"Lin terus terang saja, hal yang menimpa Viona kakak mu, menjadi trauma tersendiri bagi ku.."


"Aku khawatir di tempat kerja yang baru, ada yang menarget mu, dan mengintimidasi mu dengan jabatan dan wewenang nya.."


"Makanya aku berusaha sebisa mungkin memiliki, wewenang besar di sana, agar bisa secara diam-diam melindungi mu..'


"Kakak memilih tidak memberitahu mu, karena kakak khawatir kamu akan tersinggung, dan tidak bersedia menerima bantuan kakak karena gengsi.."


ucap Andi menutup penjelasannya.


Violin mengulurkan tangannya memegangi tangan Andi dan berkata,


"Maafkan sikap Lin yang akhir-akhir ini menjadi labil emosinya, karena bawaan hormon."


"Seharusnya Lin lebih mengerti perasaan kakak, memahami kecemasan kakak.."


"Seharusnya Lin juga berterima kasih, karena kakak begitu perduli dengan kenyamanan dan keselamatan Lin di tempat kerja.."


"Bukannya malah marah marah dengan kakak..'


ucap Violin sambil tersenyum lembut dan menatap Andi dengan penuh haru.


Andi langsung tersenyum lebar dan balas menggenggam tangan Violin dengan lembut dan berkata,


"Terimakasih sayang,. terimakasih atas pengertiannya, terimakasih.."


Andi mengecup punggung telapak tangan istrinya yang halus dengan penuh cinta.


Violin tidak menolaknya, dia terus menatap suaminya dengan lembut dan diliputi perasaan bahagia.


Andi menatap Violin dan berkata,


"Seandainya dahulu Viona bisa memiliki sikap 50% sikap mu hari ini.."


"Tentu diantara kami tidak perlu berakhir sampai ketahap itu.."


ucap Andi sedikit termenung.

__ADS_1


Violin menghela nafas, lalu dia menghampiri Andi memeluknya dari samping dan berkata,


"Sudahlah lebih baik kita lupakan hal hal kurang menyenangkan itu.."


"Mari kita kembali tidur, aku akan ambil cuti 3 hari ini buat temani kakak.."


"Tapi setelah itu, kakak harus janji ijinkan aku kembali bekerja seperti biasanya.."


"Kakak tidak boleh menggunakan wewenang kakak untuk ikut mencampuri karir ku..."


"Tidak perduli isu apapun, aku harus terus tetap menjalankan tugas dan tanggung jawab ku sebagai seorang dokter yang baik.'


"Lahir Sehat sakit tua mati, semua sudah ada yang mengaturnya, bila hari itu tiba, di mana pun kita bersembunyi tidak akan bisa menghindarinya..'


"Yang penting kita sudah maksimal lakukan dan jalankan protokol kesehatan, jaga kondisi tubuh kita.."


"Mudah mudahan semua akan baik baik saja.."


ucap Violin sambil menggandeng tangan Andi kembali ke kamar mereka.


Andi tidak membantah, dia hanya menganggukkan kepalanya, mengikuti langkah Violin.


Violin sudah memutuskan, dia harus menghargai keputusan nya.


Ini adalah resiko seorang Dokter, dulu dia lah yang meminta Violin untuk menjadi Dokter sukses.


Kini Violin sudah berhasil mencapai nya, tentu kini dia harus memberikan dukungan, agar Violin bisa mempertahankan pencapaian, yang dia raih dengan sangat tidak mudah.


Sebelum dia kembali berangkat masuk kerja.


Hari hari selanjutnya , saat Violin kembali masuk kerja, itu adalah hari hari Andi yang paling berat.


Andi setiap hari hanya bisa berdoa untuk kesehatan istrinya yang sedang mengandung.


Karena kasus virus mematikan itu kini di kota J, kian hari kian meningkat.


Termasuk angka kematian akibat terserang virus tersebut juga terus ikut meningkat secara signifikan.


Andi sendiri yang memiliki kekebalan tubuh tinggi berkat ilmu latihan pernafasannya, tentu tidak khawatir.


Tapi Violin tentu berbeda, andai saja ilmu yang Andi latih boleh di latih oleh wanita, tentu jauh jauh hari Andi sudah transfer ilmunya ke violin .


Sayangnya tidak bisa, karena ilmunya yang bersifat keras itu, hanya cocok di latih oleh pria, tidak untuk wanita.


Satu persatu perawat dan dokter di RS JMC tumbang membuat Andi menjadi semakin cemas.


Andi yang merupakan pemegang saham dominan, tentu saja, selalu mendapatkan laporan perkembangan RS tersebut.


Andi hanya bisa berdoa secepat mungkin badai virus itu berlalu, secepat mungkin pula Violin memasuki bulan 9.


Sehingga tidak perlu lagi ikut sibuk dan bisa beristirahat dan isolasi di rumah.

__ADS_1


Tapi semakin hari justru Violin semakin sibuk, karena pasien yang datang semakin banyak, sedangkan tenaga medis dan perawat justru semakin lama semakin sedikit.


Karena semakin banyak yang tumbang, ada yang meninggal, ada yang sakit dan sedang di rawat.


Sedangkan tenaga penggantinya belum ada, akhirnya perawat dan dokter muda yang sedang sekolah pun di tarik ke RS untuk di perbantukan.


Hampir setiap hari Violin berangkat pagi pagi pulang tengah malam.


Andi sudah berusaha sebisa mungkin memberikan berbagai vitamin dan sup bergizi untuk menjaga kesehatan istrinya.


Tapi akhirnya tetap saja tak terhindarkan, Violin pun akhirnya tumbang dan harus di rawat dan di isolasi di RS tidak di ijinkan pulang.


Bahkan Andi bila bukan memiliki wewenang besar di RS tersebut,.dia tidak bakal bisa mendekati Violin.


Pada hari pertama Violin di rawat kondisinya masih cukup baik.


Masih bisa ngobrol biasa sedikit batuk ringan saja.


Tapi memasuki hari ke 3 Indra penciumannya mulai hilang rasa, lidahnya pun terasa pahit.


Semua makanan yang diberikan terasa pahit dan kurang berselera untuk makan.


Memasuki hati ke 4 dan ke 5 Violin mulai demam naik turun, batuknya pun semakin hebat.


Memasuki hari ke 7 demam Violin mulai turun kondisinya mulai sedikit stabil.


Tapi memasuki hari ke 8 Violin terpaksa di larikan ke ruangan ICU, karena mengalami kejang dan kesulitan bernafas.


Andi berdiri termenung di atap gedung seorang diri saat Violin sedang berusaha di selamatkan oleh para team ahli medis.


Andi sudah tidak tahu harus melakukan apa lagi, selain berdiri termenung menatap langit yang gelap gulita di atas sana.


"Tuhan mengapa ? mengapa harus dia ? mengapa harus mereka ,? mengapa bukan aku saja.."


"Bila bisa di tukar aku rela menggantikan posisi nya.."


"Ya Tuhan, apa dosa ku ? apa salah ku di masa lalu ? sehingga kamu harus selalu memberikan cobaan seperti ini untuk ku..?"


"Mengapa satu persatu harus kamu rengut mereka dari ku..?"


"Tuhan aku mohon pada mu,.. tolong selamatkan dia,.. jangan kau ambil dia dari sisi ku.."


"Tanpa dia bagaimana aku akan melanjutkan sisa hidup ku,..?"


ucap Andi menjatuhkan dirinya berlutut dan menangis tersedu-sedu sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Kak Andi jangan seperti ini,.. semangat lah,.. bangkitlah.."


ucap sebuah suara lembut.


Sambil tangannya menyentuh lembut bahu Andi.

__ADS_1


__ADS_2