AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
REAKSI DAVINA


__ADS_3

"Menurut mu,..?"


ucap Berry sambil tertawa jahat.


Berry mendekati Davina, Davina tidak berani bergerak dia hanya memejamkan matanya rapat-rapat sambil mencengkram dan menutup rapat-rapat kimono handuk yang dia kenakan.


Berry sengaja mendekati wajah nya, kearah wajah Davina.


Davina yang bisa merasakan hembusan nafas Berry yang hangat di wajahnya, dia buru-buru memalingkan wajahnya kearah lain.


Melihat hal ini Berry pun tersenyum, dia melanjutkan aksinya kearah bagian leher Davina yang putih halus dan jenjang.


Davina yang kembali merasakan nafas hangat Berry di bagian lehernya, dia memiringkan badannya menjauh.


Dia tidak bisa mundur lagi, karena punggungnya sudah mentok dengan sandaran kasur.


Sehingga dia hanya bisa memiringkan tubuhnya kesamping, semakin lama semakin miring.


Karena Berry terus mengejarnya, seolah olah ingin mencium lehernya.


Akhirnya Davina kehilangan keseimbangan dan jatuh terkapar miring diatas kasur.


Sambil masih memejamkan matanya dengan suara gemetar ketakutan Davina berkata,


"Berry jangan...kamu...kamu ..harus pakai ini dulu.."


ucap Davina sambil membuka telapak tangannya.


Melihat benda yang ada di tangan Davina, Berry hampir meledak tawa nya.


Tapi dia menahannya, karena dia masih ingin bermain-main dan mengerjai Davina yang sering mengejeknya sampai puas.


Berry mengambil benda tersebut dari telapak tangan Davina.


"Lakukan dengan ..pelan..aku...aku... masih perawan.."


ucap Davina masih dengan mata terpejam bibir gemetar dan seluruh wajah merah padam.


Berry memegang kedua bahu Davina dengan lembut, Davina tersentak tubuhnya saat Berry menyentuhnya.


Tubuhnya semakin gemetaran, Berry yang sedang memegang bahunya, bisa merasakan nya.


Hati Berry mulai tidak tega, dia mulai kasihan dengan Davina.


Berry pun berkata,


"Gak asyik kamu seperti mau di bawa ke mesin jagal saja..!"


"Ayo bangun temani aku minum saja..!"

__ADS_1


ucap berry sambil menarik Davina bangun.


Davina perlahan lahan membuka kembali matanya, dua butir air bening melompat keluar dari matanya.


Melihat hal itu, berry pun membuang muka nya melihat kearah lain.


Hatinya terenyuh melihat keadaan Davina, dia semakin tidak tega.


Berry berdiri dari kasur, berjalan kearah mini bar yang disediakan di dalam kamar, dan ada beberapa botol minuman keras dengan kadar alkohol 45% yang di sediakan secara free untuk tamu hotel.


Berry mengambilnya menuangkan kedalam gelas yang tersedia, setelah itu dia membawanya mendekati Davina yang sedang menatap apa yang sedang Berry lakukan dengan heran.


Berry memberikan gelas ditangannya kepada Davina dan berkata,


"Habiskan gelas ini, maka perjanjian kita aku anggap lunas..!"


Davina menatap ragu ragu kearah gelas yang disodorkan oleh Berry padanya.


Davina sadar betul kemampuan minumnya, dia tidak biasa minum, kalaupun terpaksa dia hanya sekedar menyesap dengan ujung lidahnya saja.


Tapi kini Berry menyuruhnya menghabiskan minuman segelas penuh, dia mana sanggup.


Kalau di paksakan, dia pasti teler, di dalam hati Davina mengutuk Berry habis habisan.


Tapi dia tetap menerima nya, dan tanpa banyak bicara, dia meneguknya sedikit demi sedikit sambil menahan nafas dan memejamkan matanya.


Hingga akhirnya isi gelas itu habis, Davina merasa kepalanya sangat pusing dan berputar-putar.


Karena lantai menggunakan karpet tebal, selain itu gelasnya juga sangat tebal dan tidak mudah pecah saat terjatuh.


Sehingga gelas yang jatuh hanya berputar-putar saja tidak sampai pecah


Tubuh Davina sendiri sudah jatuh tergeletak tidak sadarkan diri di atas kasur, dengan bagian dada agak tersingkap.


Berry yang melihat pemandangan di depannya sempat menelan ludah, bagian bawah perutnya langsung menonjol.


Untungnya Davina sudah tergeletak tidak sadarkan diri, bila tidak melihat pemandangan itu, dia pasti akan menjerit ketakutan.


Tapi hanya sesaat saja, sesaat kemudian Berry malah dengan hati-hati merapikan kimono yang di kenakan oleh Davina.


Setelah itu dia membantu memindahkan Davina tidur ditengah tengah kasur, lalu menyelimutinya.


Beery bisa mendengar dalam mabuknya Davina terus mengoceh memaki-maki dirinya dan mengungkapkan perasaannya yang sangat menyukai Andi.


Berry hanya menghela nafas panjang mendengar semua ucapan jujur Davina saat mabuk.


Melihat rambut Davina yang masih basah, Berry tidak tega membiarkan nya begitu saja, Berry berpikir bila di biarkan Davina bisa masuk angin.


Jadi berry mengambil inisiatif dengan hati-hati membantu mengeringkan rambut Davina dengan hairdryer.

__ADS_1


Setelah kering, Berry menatap wajah Davina beberapa saat kemudian berkata,


"Vina terus terang aku dari awal sudah sangat menyukai mu, aku terus meledek dan ribut dengan mu, semua karena ingin menarik perhatian mu saja."


"Biarlah meski kamu mengingat ku sebagai pria yang menyebalkan tidak tahu malu dan tidak berguna."


"Tidak apa-apa, setidaknya kamu akan mengingat ku.."


Selesai bergumam sendiri, Berry pelan pelan meletakkan kepala Davina dengan hati-hati keatas bantal.


Lalu Berry mengenakan semua pakaian nya kembali.


Berry tidak pergi meninggalkan Davina, dia membantu.membereskan semua barang barang Davina dan menyusun semuanya dengan rapi kedalam tas.


Agar besok saat Davina terbangun dia tidak terlalu sibuk membereskan semua nya, yang akan membuat nya ketinggalan pesawat.


Berry duduk bersandar di sandaran kasur menemani Davina, Davina sedang dalam kondisi begini.


Beery tidak berani asal pergi meninggalkan dirinya seorang diri di kamar, bila terjadi sesuatu pada Davina saat dia pergi.


Dia bisa jadi tersangka yang di benci Davina seumur hidup, tidak Berry tidak mau ambil resiko seperti itu.


Jadi dia memilih duduk memejamkan matanya menjaga Davina hingga dia bangun dan benar-benar sadar dari mabuknya, Berry baru akan pergi dari sana.


Karena ngantuk, Berry pun ikut tertidur di samping Davina dalam posisi duduk.


Keesokan paginya, berry yang bangun duluan dengan hati-hati membangunkan Davina.


"Vin...Vin...Vin...ayo bangun mandi siap siap.


agar tidak ketinggalan pesawat.."


"Vin...ayo bangun..!"


panggil Berry sambil menepuk-nepuk pipi Davina dengan pelan.


Davina setelah bergumam kecil beberapa kali, akhirnya dia perlahan-lahan membuka matanya sedikit demi sedikit.


Tapi dia sangat kaget saat melihat wajah yang pertama di lihatnya saat bangun adalah berry.


Dengan reflek dia meninju kearah hidung Berry, kemudian dia menendang Berry menjauhinya.


Berry yang tidak menyangka Davina akan menyerangnya seperti itu.


Tidak sempat menghindar atau pun menangkisnya.


Tinju Davina yang kecil menghantam telak di hidung nya, darah pun langsung mengocok dari hidung Berry.


Tidak cukup sampai di sana, selagi Berry sedang sibuk memegangi hidung nya yang kesakitan.

__ADS_1


Tendangan susulan yang dilepaskan oleh Davina pun tiba-tiba menghantam dada dan perutnya hingga terpental jatuh dari kasur.


Dengan kepala menghantam Kedinding kamar, hingga benjol sebesar telur ayam di bagian kepala belakang Berry.


__ADS_2