AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
RIO MENEMUI VIONA DI KEMAH


__ADS_3

Setelah melompat keluar dari air terjun, Gorila itu meraung marah sambil menatap tajam kearah Andi.


Gorila itu berdiri tegak dengan kedua kakinya dia lalu memukul-mukul dadanya sendiri.


dan dia berteriak memberi komando agar anggota nya maju membantunya melawan Andi.


Dengan agak takut-takut 6 ekor gorila yang tubuhnya sedikit lebih kecil dari gorila pimpinan mereka.


Melompat ke dalam arena pertempuran, mereka langsung mengepung Andi dengan sikap waspada.


Melihat Andi berhasil mengalahkan pimpinan mereka, sebenarnya mereka agak segan dan takut dengan Andi.


Tapi mereka terpaksa harus ikut turun menghadapi Andi, karena mereka tidak berani membantah perintah dari pimpinan mereka.


Andi menyapukan pandangannya ke sekeliling, menatap tajam kearah para gorila itu.


Andi ada membawa pisau di pinggangnya, dia tidak menggunakan nya, karena tadi dia merasa belum perlu.


Kini menghadapi pengeroyokan mereka, Andi tidak punya pilihan lain, selain mencabut belati, yang di sisipkan di pinggangnya.


Melihat Andi memegang belati di tangannya, beberapa gorila yang tadi sempat mencicipi pisau komando Rio.


Mereka bergerak mundur, sambil mengeluarkan teriakan peringatan ke teman-teman nya.


Tapi saat kembali terdengar teriakan dari pimpinan gorila, mereka semua kembali maju mendekati Andi.


Andi berpikir dalam hati, tidak ada gunanya aku meladeni ke 6 gorila ini, aku harus mencari cara secepatnya membunuh pimpinan gorila itu.


Kelihatannya dia lah sumber masalahnya, gorila lain hanya menuruti perintah nya karena takut.


Berpikir sampai di situ, begitu ke 6 gorila mulai melompat menerkam dan menyerang nya.


Andi hanya menghindar sambil perlahan-lahan mundur mendekat kearah pimpinan gorila itu.


Saat melihat Andi kuwalahan dan hanya bisa menghindar saja.


Pimpinan gorila terlihat girang, apalagi Andi seperti sedang di giring mendekat kearahnya.


Setelah melihat Andi dalam jangkauannya, pimpinan gorila itu secepat kilat melompat menerkam kearah Andi dengan sepasang tangannya yang terjulur kedepan.


Inilah saat-saat yang Andi tunggu-tunggu, begitu pimpinan gorila menerkam kearahnya, Andi dengan cepat, melesat menyambut serangan gorila tersebut.


Belati di tangan Andi berkelebat cepat menebas leher paha lengan dimana pembuluh darah arteri gorila itu berada.


Terakhir saat gorila itu terhuyung-huyung kebelakang sambil memegangi lehernya dengan kedua tangannya.


Di mana dari sela-sela jarinya mengucur darah yang deras.


Andi melesat kearahnya, secepat kilat menancapkan belatinya di dada kiri gorila itu.


Lalu dia bergerak mundur memberikan sebuah tendangan memutar kearah kepala gorila besar itu.


Sehingga jatuh terjerambab keatas tanah, dalam posisi tertelungkup tidak bergerak lagi.


Darah merembes keluar dari bawah tubuhnya, menggenangi area di sekitarnya.


Rupanya saat terjatuh, tubuhnya yang berat menindih belati di dadanya, hingga masuk semakin dalam.

__ADS_1


Dan langsung menembus jantungnya, maka tewaslah pimpinan gorila itu, di tangan Andi.


Ke 6 gorila yang tadi maju menyerang Andi kini mereka mundur teratur menjauhi Andi sambil berteriak-teriak sendiri.


Dalam bahasa yang hanya di mengerti oleh kaum mereka.


Andi tidak memperdulikan kawanan gorila itu, dia buru-buru menghampiri Viona.


Setelah merapikan jaketnya yang membungkus tubuh Viona, Andi membungkuk kemudian menggendong Viona meninggalkan tempat itu.


Tidak ada gorila yang berani mendekat ataupun menghadang langkah Andi meninggalkan tempat itu.


Andi berlompatan ringan dari satu pohon ke pohon lain meninggalkan hutan tersebut menuju pos dua.


Dalam perjalanan menuju pos dua, Viona sempat siuman sebentar.


Tapi saat menyadari tubuhnya melayang-layang di ketinggian, dari satu pohon pindah ke pohon lainnya.


Viona yang kaget kembali pingsan, dalam pelukan Andi.


Setelah tiba di pos dua, tanpa menghiraukan Rio yang berdiri di sana melihat kemunculan dirinya bersama Viona, yang dalam keadaan busana berantakan.


Andi langsung menyerahkan Viona ke Santi dan Sarah sambil berkata,


"Tolong bantu Viona berganti, pakaian nya habis dirusak sama gorila..'


Setelah menyerahkan Viona ke Santi dan Sarah, Andi baru berjalan menghampiri Rio dan berkata,


"Aku tahu kamu sudah berusaha, tapi lain kali sebelum bertindak dan mengambil keputusan.."


"Jaga dan perlakukan Viona dengan baik, bila kamu benar mencintai nya.."


Setelah berucap Andi menepuk bahu Rio.


Lalu dia berjalan meninggalkan Rio, yang berdiri diam di tempat.


Rio berdiri diam ditempat sambil mengepalkan sepasang tinjunya erat-erat, dengan perasaan geram, dia ber pikir dalam hati.


"Bangsat berpura-pura baik dan sok bijak, setelah kamu puas menikmatinya."


"Hingga kondisinya berantakan seperti itu, baru kamu serahkan barang bekasan itu pada ku, kamu pikir aku bodoh.."


"Kita lihat saja nanti, bagaimana aku akan memberikan kalian pelajaran yang paling menyakitkan.."


Batin Rio sambil tersenyum jahat.


Begitu Viona terbangun, dia langsung menjerit histeris ketakutan.


Tapi berkat kehadiran Santi dan Sarah di dekatnya.


Akhirnya Viona berhasil di tenangkan oleh mereka berdua.


"Ba..Ba.. bagaimana aku bisa tiba-tiba ada di tenda, ? pakaian ku..? apa sebenarnya yang terjadi selagi aku pingsan..?"


Santi dan Sarah dengan kompak menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Kami tidak tahu,..kami hanya tahu.. setelah Andi sampai ke pos dua membawa rombongan nya."

__ADS_1


"Melihat kamu dan rombongan Rio belum datang, Andi langsung berlari kedalam hutan menyusul kalian.."


"Selanjutnya saat kami menyusul ke lokasi, bersama ketua panitia, kami hanya menemukan Rio dan ketiga temannya di lokasi."


"Kamu tidak terlihat ada di sana.."


"Setelah beberapa saat kita kembali ke pos dua, Andi pun kembali sambil menggendong mu.."


"Andi menutupi tubuh mu yang hampir telanjang dengan jaketnya,.dia lalu menyerahkan kamu untuk kami urus.."


"Hanya itu yang kami tahu.."


ucap Santi memberikan penjelasan ke Viona.


"Andi di mana sekarang ?"


tanya Viona sambil menatap kedua sahabatnya.


"Kami tidak tahu, setelah menyerahkan kamu.."


'Dia langsung pergi, kami terus menjaga mu di sini, sehingga kami juga tidak tahu kemana Andi pergi."


ucap Sarah memberi penjelasan.


'Aku mau mencari Andi...!"


ucap Viona mencoba untuk memaksakan diri untuk bangun.


"Aduhh..!"


jerit Viona tertahan.


Saat ingin bangun Viona merasa tengkuknya sangat nyeri, hingga pandangannya menjadi berkunang-kunang..


Viona terpaksa kembali berbaring dengan setengah terpaksa.


Saat itu Rio melangkah masuk kedalam kemah, melihat kedatangan Rio.


Sarah dan Santi yang masih sebal dengan orang ini, mereka berdua saling pandang.


Lalu Sarah pun pun berkata,


"Vi kami tunggu di luar, bila ada apa-apa panggil saja.."


Viona mengerti maksud kedua sahabatnya, dia menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Terimakasih banyak Sar San..kalian tenang saja, aku tidak apa-apa.."


Santi dan Sarah mengangguk kecil, lalu mereka berdua pun keluar dari kemah.


"Vi aku minta maaf ya, gara-gara aku kamu jadi begini.."


ucap Rio tertunduk sedih dan menyesal.


Viona tersenyum dan menyentuh tangan Rio sambil berkata,


"Itu bukan salah mu, aku tahu kamu sudah berusaha.."

__ADS_1


__ADS_2