
Sambil tertawa penuh kemenangan, si brewok berkata,
"Jangan berani melawan, menyerahlah untuk di ikat, aku akan menjamin keselamatan gadis ini."
Andi sedikit meragu, dia menatap si brewok dengan tajam dan berkata,
"Lepaskan dia pergi, aku akan menuruti semua permintaan mu.."
Si brewok tertawa dan berkata,
"Kamu pikir aku anak umur 3 tahun yang bisa kamu tipu tipu..!"
"Tidak ada negosiasi, mau menyerah..! tidak siap siap terima mayatnya.'
Gadis itu menatap Andi dengan heran, di antara mereka tidak pernah berhubungan.
Dia juga tidak kenal dengan Andi, mengapa Andi terlihat begitu cemas dan memperhatikannya.
Tidak mungkin dalam pandangan pertama Andi langsung jatuh hati padanya.
Itu cuma dongeng sebelum tidur, tidak akan mungkin muncul dalam dunia nyata seperti ini.
batin gadis itu terheran heran.
Gadis itu baru tersadar dari lamunannya, saat si brewok dengan kasar menarik rambutnya.
"Aduhhh...!!"
jerit gadis itu sambil menahan sakit di kepala nya.
Gadis itu menatap Andi dengan linangan air mata, kemudian dia dengan nekad berkata,
"Kak jangan dengarkan dia, jangan hiraukan aku...jangan menyerah...!"
"Aduhhh..!"
jerit gadis itu kesakitan, karena si brewok menjambak rambutnya dengan lebih keras lagi.
Hati Andi terenyuh melihat kondisi gadis itu, dia segera berteriak,
"Tahan...! baiklah... baiklah...aku menyerah..!"
"Silahkan lakukan sesuka mu..! tapi tolong jangan sakiti dia.."
ucap Andi tak berdaya.
"Tunggu apalagi kalian ? cepat ambil tali dan ikat dia dengan kuat, jangan sampai lepas..!"
teriak si brewok ke teman-teman nya.
Dengan buru-buru salah satu dari mereka berlari kearah pos pangkalan ojek mereka.
Tak lama kemudian dia kembali lagi, dengan tali Manila ditangannya, lalu ke enam orang teman si brewok.
Maju melilitkan tali yang mereka bawa ketubuh Andi dan mengikat seluruh tubuh Andi dengan erat.
Setelah itu mereka mulai memukul dan menendang Andi untuk melampiaskan kekesalan mereka.
__ADS_1
"Hentikan...jangan... hentikan...jangan..jangan pukul dia...ku mohon hentikan...hu..hu..hu..hu..!"
jerit gadis itu sambil menangis tersedu-sedu melihat Andi di siksa oleh mereka, karena ingin menolongnya.
Akhirnya tubuh Andi tumbang di atas aspal tidak kuat berdiri lagi.
Gadis yang di jadikan sandera oleh si brewok, hanya bisa menjerit berteriak sambil menangis, memohon kepada mereka agar berhenti memukuli Andi.
Tapi jeritan dan tangisannya sambil memohon mereka, untuk tidak menyiksa Andi, tidak di tanggapi sedikitpun oleh mereka.
"Jaga dia baik'baik, jangan sampai lepas."
"Aku mau bersenang-senang dulu, nanti setelah puas baru giliran kalian.."
ucap Si brewok sambil menyeret gadis itu ke pos pangkalan ojek mereka.
"Tolong ..tolong... lepaskan aku...jangan bangsat... lepaskan aku...tolong...tolong...aduhhh..sakit..aughh..hu..hu..hu..hu..tolong..lepaskan..!"
teriak gadis itu histeris sambil menangis ketakutan dan kesakitan.
Saat si brewok menyeretnya secara paksa, menuju pos.
Andi yang meski sudah terkapar di atas tanah, berteriak marah,
"Bangsat lepaskan dia...! tepati janji mu...!"
Si brewok menghentikan langkahnya dan berkata,
"Aku berjanji melepaskan dan menjamin keselamatannya, tapi aku tidak berjanji tidak akan memberikan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya ini.."
Gadis itu berusaha meronta ketakutan, sambil menjerit-jerit dan menangis meminta tolong.
Teman temannya yang berdiri mengelilingi Andi pun ikut tertawa, lalu mereka kembali melanjutkan memukuli Andi.
Andi memejamkan matanya memfokuskan konsentrasinya, mengerahkan tenaga sakti yang pernah dia pelajari dari kakeknya.
"Arrghhh..."
Dengan sebuah teriakan keras dan hentakan sekuat tenaga, seluruh tali yang mengikat tubuhnya hancur berkeping-keping.
keenam orang yang sedang memukulinya, sangat terkejut mereka secara reflek mundur menjauh.
Saat mereka sadar Andi sudah kembali berdiri tegak di hadapan mereka dengan senyum sadis.
Ke 6 orang itu, langsung mencabut senjata mereka masing-masing lalu menerjang menyerang Andi secara membabi-buta.
Kini Andi tidak lagi bersikap lunak pada mereka, dengan meminjam senjata dan kekuatan serangan mereka.
Andi meminjam tangan mereka untuk saling menghabisi.
Dalam sekejap mata, ke 6 orang itu terkapar di atas tanah dengan kondisi mengenaskan golok dan pisau tertancap di tubuh mereka masing-masing.
Tanpa menghiraukan mereka yang merintih-rintih kesakitan, Andi langsung berkelebat kearah pos.
Saat tiba di sana melihat pemandangan di hadapannya, emosi Andi langsung meledak.
Dengan sekali tarik, tubuh si brewok yang sedang menindih gadis itu langsung tersentak menjauhi gadis itu.
__ADS_1
Belum sempat si brewok menyadari apa yang terjadi, sebuah pukulan keras menghantam perutnya.
Si brewok langsung kehilangan seluruh tenaga nya, perutnya terasa mules bukan main.
Andi menyeret si brewok keluar dari pos, memukuli perut si brewok dengan keras berulang-ulang.
Hingga akhirnya si brewok pingsan tidak sadarkan diri. Andi baru menghentikan pukulannya
Setelah memeriksa kondisi si brewok memastikan dia tidak mati.
Andi baru melangkah ke dalam pos, di mana gadis itu berada.
Melihat kedatangan Andi, gadis itu langsung berlari memeluk Andi dan menangis sejadi-jadinya.
Melepaskan semua perasaan tertekan nya, karena kesakitan kesedihan ketakutan cemas semua bercampur aduk, mengaduk aduk perasaannya.
Setelah membiarkan gadis itu menangis beberapa saat dalam pelukannya.
Andi baru berbisik pada nya dengan lembut,
"Sudahlah jangan menangis lagi, hentikan tangisan mu, mari kita tinggalkan tempat ini.."
"Kamu masih mau kan ? membantu mengantar aku ke sasana TAH."
Gadis itu mengangguk pelan, lalu dengan sikap malu-malu dia melepaskan pelukannya dari Andi.
"Kakak masih tetap mau ke sasana ?"
"Bagaimana dengan luka luka kakak ? apa tidak sebaiknya aku membantu mengobati luka kakak dulu.?"
"Besok sore baru aku antar kakak ke Sasana... gimana kak. ?"
Andi tersenyum dan berkata,
"Aku tidak apa-apa, cuma luka kulit saja, ayo kita berangkat, aku ada janji penting soalnya.."
Gadis itu menatap Andi sejenak, lalu dia mengangguk dan berkata,
"Baiklah..'
Sambil merapikan jaket dan rambutnya, gadis itu berjalan menuju kearah motor nya.
Setelah memakai kembali masker dan helmnya, gadis itu memberikan sebuah helm yang dia gantung di motor ke Andi.
Setelah Andi naik ke boncengan nya, tanpa banyak bicara, dia langsung membawa motornya meninggalkan tempat tersebut.
"Pegang yang erat kak.."
"Jangan sampai jatuh.."
ucap gadis itu sambil tersenyum dan mempercepat laju motornya membelah jalan raya.
"Andi tersenyum dan berkata,
"Tenang saja, aku berpegangan di handle ujung tempat duduk."
Gadis itu mengangguk kecil, lalu dia mempercepat laju kendaraannya dengan lincah menyalip mobil dan motor lain yang berada di depan nya.
__ADS_1
Tak lama kemudian mereka telah tiba di halaman sebuah gedung 3 lantai, yang terdiri dari dua ruko di jadikan satu.