AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
PERTANYAAN TAK TERDUGA


__ADS_3

Andi sambil tersenyum canggung buru buru membungkukkan badannya, menghadap kearah meja lain yang ada tamunya.


Meminta maaf kemudian buru buru meninggalkan restoran tersebut sambil menggandeng tangan istrinya.


Tapi setengah jalan Andi berlari balik mengambil mantel istrinya yang ketinggalan, di sandaran kursi.


Setelah membantu memakaikan kembali mantel bulu itu menyelimuti tubuh Violin.


Mereka berdua baru melanjutkan langkah mereka meninggalkan restoran tersebut, kembali ke hotel tempat mereka menginap.


Keesokan paginya Andi dan Violin di temani oleh seorang sales properti mulai melihat lihat lokasi lokasi villa villa baik yang elit maupun sederhana dengan berbagai variasi harga


Seperti dulu, di mana mereka pernah cari apartemen dan tanah, Violin bertugas memilih dan mencatat, harga, peta lokasi serta nomor telpon yang bisa di hubungi dari pemilik rumah.


Sedangkan Andi bertugas negosiasi dan bayar, setelah menghabiskan beberapa hari berkeliling.


Akhirnya mereka mendapatkan juga villa impian yang mereka impikan.


Villa nya tidak terlalu besar, terdiri dari dua lantai, 3 kamar tidur dua kamar mandi, ada ruang tengah, dapur.


Interior di dalam cukup bagus, tampilan luar cenderung sederhana.


Yang paling memuaskan adalah view-nya yang menghadap pegunungan dan sungai kecil berair jernih.


Selain itu halamannya sangat luas, dan di batasi dengan pagar kayu dan kawat sederhana saja.


"Kak mencari rumah ini, aku jadi teringat, saat kita dulu mencari apartemen dan tanah yang kini menjadi tempat tinggal kita sekarang.."


ucap Violin sambil termenung, menatap kearah pegunungan yang di selimuti salju, dengan di hiasi langit biru dan awan awan yang berarak seperti kapas putih.


Violin menyandarkan tubuhnya dalam pelukan Andi yang tepat berdiri di belakangnya.


Mereka berdua berdiri santai di balkon lantai dua depan kamar mereka.


Yang memang sengaja di design ada balkon ruang terbuka, ada meja kursi santai lengkap dengan sebuah gazebo kecil, yang di lengkapi meja rendah dan beberapa bantal dan guling.


Balkon lantai dua sebagian di batasi oleh pagar kayu, sebagian lagi di batasi dengan gazebo yang ada di sana.


Meski terlihat sederhana tapi cukup nyaman dan menyenangkan sebagai tempat bersantai.


Andi menanggapi ucapan Violin dengan anggukan kepala dan berkata,


"Kamu benar sayang, makanya aku juga sangat menikmatinya, saat kita melihat kesana kemari.."


"Seolah olah kita sedang mengulang momen yang lalu, dan memperbaikinya menjadi lebih sempurna.."


"Apa nya yang lebih sempurna kak ? bukannya sama aja..?"


ucap Violin sambil menoleh menatap Andi dari sisi bawah dengan posisi sedikit miring.


Andi tersenyum dan berkata,


"Tentu beda yang lalu kita masih terbatas berpegangan tangan.."

__ADS_1


"Sekali ini kita bisa lebih bebas berpelukan seperti ini, dan aku bisa lebih bebas membelai dan merasakan bagian tubuh mu, yang menawan dan selalu menggoda ku untuk menyentuhnya.."


ucap Andi sambil tersenyum.


Violin menggeliat kecil dan berkata,


"Kakak,.. kakak semakin lama kenapa semakin genit ya ?"


"Aku sulit menahan diri untuk tidak genit, selama ada kamu mendampingi ku..'


ucap Andi sambil menciumi kepala Violin dengan lembut.


"Bagaimana kalau kelak aku sudah tua tidak seksi tidak cantik lagi, apakah kakak masih tertarik untuk menggeniti ku ?"


tanya Violin sambil termenung menatap kearah awan putih yang berarak.


"Hal itu belum terjadi, aku kurang tahu tidak bisa memastikan nya..'


"Tapi kelihatannya sih tidak akan jauh berbeda, hanya saja caranya yang mungkin sedikit berbeda.."


"Karena saat kamu tua aku juga tentu sudah tua, aku tak mungkin punya tenaga menggendong mu sesuka hati.."


"Aku juga belum tentu bisa melakukan gaya bercinta seperti saat ini.."


"Tapi yang pasti akan selalu menemukan cara untuk membuat mu tersenyum bahagia."


"Itu mungkin yang paling penting menurut ku.."


Violin tersenyum bahagia, dia benar-benar merasa sangat bahagia mendengarnya.


Meski itu baru sebuah ucapan yang mirip khayalan masa depan, tapi entah kenapa dia merasa sangat terharu dan bahagia mendengarnya.


Violin membawa kedua tangan Andi yang ada diperutnya untuk di ciumi punggung telapak tangannya dengan penuh kasih sayang.


"Bila ada seperti hari itu,.seperti yang kakak katakan barusan,.."


"Maka aku pasti akan merasa diri ku, adalah wanita paling beruntung dan paling bahagia di dunia ini kak..'


ucap Violin sambil tersenyum penuh kebahagiaan dan mengeratkan pelukan Andi pada dirinya.


"Bila kamu menyukainya, aku pasti akan berusaha mewujudkannya untuk mu.."


ucap Andi yakin.


"Kak,.. kalau nanti aku hamil,.. kakak lebih berharap punya anak laki laki atau perempuan duluan..?"


"Mau laki ataupun perempuan bagi ku sama saja, mereka adalah buah karya kita, tentu aku akan menyayangi dan mencintai mereka sepenuh hati..'


"Sama seperti aku menyayangi dan mencintai dirimu.."


ucap Andi serius.


"Kalau bisa memilih, kakak pilih yang mana ?"

__ADS_1


ucap Violin sambil tersenyum menoleh kearah Andi.


"Aku akan memilih yang kamu pilih, apapun itu aku akan menyukainya..'


"Yang paling penting adalah kalian semua sehat sehat itu yang paling penting.."


ucap Andi sambil menurunkan wajahnya ingin memberikan kiss.


Karena dia tidak tahan melihat bibir istrinya yang ranum merah menggemaskan seperti buah stroberi.


Sayang nya Violin sambil tersenyum lebar menghindarinya menjauhkan wajahnya.


Sehingga ciuman Andi menemui angin kosong, Andi yang menutup matanya, membuka sebelah matanya untuk mengintip.


Melihat Violin sedang tersenyum senyum mengerjainya, Andi sambil tertawa lalu kembali coba mengejarnya.


Tapi lagi lagi berhasil di hindar Violin sambil tertawa.


Setelah yang ketiga kalinya gagal, Andi pun tidak melanjutkan aksinya mengejar lagi.


Dia mengalihkan pandangannya menatap kearah sungai kecil di depan sana, dimana terlihat banyak ikan salmon berlompatan keluar dari dalam air, kemudian tercebur kembali kedalam air.


Melihat Andi sudah mengalihkan perhatian nya, dengan penasaran Violin pun ikut menoleh melihatnya.


Melihat Violin sedang menoleh kearah yang di lihatnya tadi, Andi pun sambil tersenyum.


Dia mendekatkan wajahnya tepat di samping Violin dan memanggilnya,


"Lin,..."


Violin otomatis menoleh, saat menoleh itu sepasang bibir mereka pun bertaut.


Violin sempat terbelalak kaget, tapi kemudian dia tersenyum dan membalasnya.


Beberapa saat mereka berdua larut dalam kemesraan penuh keheningan itu.


Hingga akhirnya Violin berbaring manja, menyandarkan kepalanya di dada Andi.


"Kak bila seandainya aku yang di panggil duluan dan pergi meninggalkan kakak..?"


"Kira kira apa yang akan kakak lakukan untuk menghadapi nya..?"


tanya Violin tiba-tiba.


"Ehh kamu bicara apa,? kenapa tiba-tiba berkata begitu ?apa kamu ada merasa tubuh mu ada yang tidak beres ?"


tanya Andi menatap Violin dengan serius.


Andi terlihat sangat cemas dan khawatir.


"Kita pergi ke RS ya sore ini ? untuk cek up total.."


ucap Andi terlihat was was.

__ADS_1


__ADS_2