
"Kalian tenang saja, sekarang sudah malam tidak baik kita menganggu di sini.."
"Sebaiknya kita pulang saja, besok pagi kan kita harus kumpul pagi-pagi di kampus, untuk mengikuti acara hiking bersama itu."
ucap Andi mencoba mencari alasan untuk pergi dari sana.
"Tidak di.. kalian tunggu sebentar di sini..biar aku bicarakan lagi dengan kakek untuk mendapat kepastian.."
Sarah langsung berlari ingin pergi ke lantai dua,
"Sar tunggu..! jangan Sar..!"
ucap Andi sambil berlari menyusul Sarah dan menahan tangannya.
Andi menatap Sarah dengan lembut dan menggelengkan kepalanya sambil berkata,
"Cukup Sar..jangan di teruskan..aku mohon pada mu..ayo kita pulang saja.."
"Dengarkan aku sekali ini saja..boleh..?"
ucap Andi menatap Sarah dengan penuh permohonan.
Sarah tidak tega menolak permintaan Andi, dia menghela nafas panjang dan berkata,
"Baiklah..mari aku antar kalian pulang sekarang.."
Andi memegang kedua tangan Sarah dengan lembut dan berkata,
"Terimakasih banyak Sarah, aku Andi seumur hidup tidak akan pernah melupakan semua kebaikan mu.."
Sarah menengadahkan wajahnya keatas menatap langit-langit mencoba mencegah runtuh nya airmata, karena terharu dengan sikap Andi.
Sarah yakin kakeknya pasti telah mengatakan sesuatu ke Andi..tapi Andi memilih tidak mau mengatakan nya, dan memilih mundur tidak mau ganggu kakeknya.
Sesaat kemudian Sarah pun berkata,
"Ayo kita pulang.."
Lalu sambil menghapus dua butir airmata yang meloncat keluar dari sudut matanya.
Sarah berjalan duluan keluar dari kediaman kakeknya.
Setelah semuanya masuk kedalam mobil, Sarah baru berkata,
"Pak tolong antar Viona dan Santi dulu kembali ke kost.."
"Siap Non.."
ucap pak Larjo kemudian menjalankan kendaraan nya meninggalkan kediaman kakek Sarah.
Suasana di dalam mobil begitu hening masing-masing larut dalam pikirannya sendiri.
Santi duduk melihat kearah jalan, Viona duduk meringkuk dalam pelukan Andi dengan perasaan cemas.
Andi duduk sambil merangkul dan terus membelai rambut Viona dengan lembut.
Sarah akhirnya membuka pembicaraan dan berkata,
"Maaf Vi, aku tidak membantu apa-apa, hanya membuat kalian membuang waktu percuma datang ketempat kakek ku.."
Viona menegakkan badannya menepuk pundak Sarah dengan lembut dan berkata,
"Tidak Vi, kami tahu kamu sudah berusaha, kami sangat berterimakasih.."
"Kamu jangan menyalahkan diri mu sendiri.."
__ADS_1
Sarah memegang tangan Viona dan berkata,
"Terimakasih pengertiannya Vi, kamu sendiri sedang banyak pikiran, masih harus memikirkan perasaan ku, aku benar-benar merasa tidak enak.."
Santi ikut menepuk bahu Sarah dan berkata,
"Kita adalah sahabat saling pengertian, saling memahami, saling bantu itu adalah wajar.."
"Santai saja.. Sar.."
Sarah menghela nafas panjang dan berkata,
"Terimakasih semuanya, kalian adalah sahabat sejati ku, aku pasti akan merindukan kalian setelah di sana nanti.."
"Ya kami semua juga sama Sar.."
ucap Santi.
Lalu suasana kembali hening, hingga mobil berhenti di depan kost Santi dan Viona.
Saat hendak turun dari mobil, mereka melihat didepan pintu pagar kost Viona ada Rio sedang berdiri menunggu di sana.
Melihat hal itu Viona pun berkata,
"Sar kalian pergi saja, biar aku dan Santi yang turun menemuinya .."
Andi terlihat sedikit cemas dan berkata,
"Kamu yakin Vi ?"
Viona tersenyum lembut menatap Andi dan berkata,
"Aku yakin di..kalau tidak melihat kehadiran mu, aku pasti bisa menenangkan nya.."
"Apa tidak sebaiknya kita menemani mu Vi ? takutnya dia kembali lepas kontrol dan mengasari mu.."
"Tenang saja Sar, lagipula ada Santi yang menemani ku takut apa....?"
"Kalian coba lihat di kegelapan sebelah ujung sana, ada mobil siapa disana ?"
ucap Viona sambil tersenyum dan menunjuk kearah sebuah pohon besar, yang agak jauh dari kost nya, tempat itu agak gelap.
Sarah dan Andi melihat kearah yang ditunjuk oleh Viona, mereka berdua pun tersenyum lega.
Hanya Santi yang terlihat agak grogi, wajahnya merah padam, dengan gerakan buru-buru dia turun dari mobil dan berkata,
"Udah ya bye..makasih Sar..ayo Vi.."
Sarah dan Viona tidak bisa menahan tawa melihat sikap Santi
Sedangkan Andi hanya tersenyum, dia tidak sampai hati ikut menertawai Santi.
Begitu Santi dan Viona turun dari mobil, Mobil Sarah pun bergerak mundur meninggalkan tempat tersebut.
Viona berjalan bersama Santi menuju gerbang kost, mereka pura-pura tidak melihat kehadiran Rio di sana.
"Vi boleh kita bicara sebentar..?"
ucap Rio pelan saat Viona lewat di depannya.
"Mau bicara apa cepat..aku capek hari ini.."
ucap Viona malas tapi tak berdaya karena dia masih terikat kontrak.
Sebenarnya dia cuma pasang gaya saja, padahal di hatinya dia juga takut Rio menuntut nya.
__ADS_1
Satu satunya harapan yang datang dari kakek Sarah kelihatannya kini juga menemui jalan buntu.
Melihat sikap Rio, Santi pun berkata,
"Vi aku masuk dulu ya..?"
Viona mengangguk kecil menanggapi Santi.
Lalu kembali menoleh kearah Rio, sambil menggendong tangannya didepan dada Viona menatap Rio menunggu penjelasan dari Rio.
"Vi aku sudah memikirkan dengan pikiran jernih, tadi itu memang salah aku, aku minta maaf ya Vi.?"
"Rio kamu bukan anak kecil lagi, setelah berbuat terus minta maaf.."
"Kamu tahu betapa memalukan dan canggungnya aku, dengan sikap mu tadi.."
"Karena sikap mu itu, dinner perpisahan dengan Sarah yang telah di rancang dengan sempurna, telah kamu kacau kan semuanya."
ucap Viona sedikit emosi menegur Rio.
Rio tertunduk tidak mengatakan apa-apa.
"Meski aku terikat dengan kontrak mu, tapi itu bukan berarti kamu bisa memperlakukan aku dengan sekehendak hati mu.."
"Bila begini terus aku terus terang tidak akan kuat menerus kan semuanya.."
ucap Viona meluapkan emosi nya..
"Apa yang bisa ku lakukan agar kamu bersedia memaafkan ku, dan kita bisa kembali berbaikan lagi..?"
ucap Rio mengalah.
"Entahlah Rio aku capek hari ini..aku mau tidur.."
"Kita lihat saja nanti.."
"Aku tidak mau janji, aku ingin melihat bukti.."
"Baiklah Vi..selamat istirahat aku tidak menganggu mu dulu, aku permisi.."
"Sampai ketemu besok.."
ucap Rio sambil berjalan pergi dengan kepala tertunduk.
Viona tiba-tiba merasa kasihan, bagaimana pun dalam hal ini dia juga ada salahnya.
Status nya masih kekasih Rio meski cuma diatas kontrak dan di bawah paksaan, tapi itu bukan berarti dia boleh menggunakan kesempatan itu berdekatan dengan Andi.
Itu adalah sebuah penghianatan kepercayaan.
Bila dia ada di posisi Rio, dia juga tidak bisa menerimanya, berpikir begitu akhirnya Viona berteriak,
"Rio tunggu..!"
Rio menghentikan langkahnya, buru-buru menoleh kebelakang dan tersenyum girang.
Saat melihat Viona berjalan menghampirinya.
Setelah berdiri di hadapan Rio, Viona berkata.
"Kali ini aku memaafkan mu, besok kita berangkat bersama ke kampus, jam 6.30..jangan telat."
"Siap..! tuan putri.."
ucap Rio penuh semangat.
__ADS_1