
Selesai mengucapkan kata Gan Pei dan bersulang bersama, satu persatu tamu undangan pun meninggalkan tempat duduk mereka.
Maju menyalami kedua mempelai di atas mimbar, untuk berpamit.
Setelah itu tamu tamu itupun pergi meninggalkan ruangan pesta tersebut.
Setelah semua tamu undangan bubar, kini hanya tersisa keluarga dan sahabat sahabat dekat Andi dan violin yang tersisa.
Setelah melakukan sesi foto foto bersama, mereka pun membubarkan diri dari ruangan tersebut.
Hanya Andi Violin bersama kedua orang tua mereka, Dody Rina.
Mereka menggunakan lift menuju kamar, yang sudah di siapkan oleh panitia EO, yang bekerja sama dengan pihak hotel dengan penawaran khusus untuk sepasang pengantin dan keluarga dekat mereka menginap gratis di hotel tersebut.
Mereka di berikan 3 kamar dan di tempat kan di lantai yang sama.
Setelah keluar dari dalam lift Andi dan Violin pun berpisah dengan kedua orang tua mereka.
Andi dan Violin bergandengan tangan, langsung masuk kedalam kamar mereka.
Lebih tepatnya Violin lah yang menggandeng tangan Andi, karena Andi jalannya sedikit sempoyongan sulit lurus.
Andi yang terlalu gembira, terlalu banyak bersulang, sehingga agak mabuk.
Andi pada dasarnya memang kurang bisa minum, dia juga tidak suka minum.
Pertama Andi minum hanya saat melihat dan melepaskan Viona menikah dengan Rio.
Selanjutnya Andi hampir jarang minum, hingga dirinya pergi ke Amerika karena kehilangan Violin, dia pun mulai kembali minum setiap kali kesepian.
Tapi hal itu tetap tidak bisa membuat Andi menjadi seorang ahli minum.
Violin membantu Andi masuk kedalam kamar mereka, mengunci pintu.
Baru menggandeng Andi masuk kedalam kamar tidur privasi mereka.
Violin terlebih dahulu membantu Andi melepaskan jas dasi sepatu dan kaos kaki Andi.
Setelah itu dia baru membantu Andi berbaring di kasur.
Begitu menyentuh kasur, Andi langsung tidur pulas, tak sadarkan diri.
Melihat sikap Andi, Violin hanya bisa menahan senyum sambil menggelengkan kepalanya.
Jantungnya yang tadinya sempat berdebar kencang, memikirkan apa yang akan Andi lakukan padanya di malam pertama mereka.
__ADS_1
Kini debar jantungnya mereda, karena Andi yang sedang dalam kondisi begitu, tidak mungkin mereka akan bisa melakukannya makam ini.
Violin sebenarnya sedikit takut dan agak cemas, dia agak takut akan mengalami kesakitan hebat, saat Andi menunaikan tugas sebagai suaminya.
Apalagi dia memang pernah melihat ular Andi saat berdiri, meski tidak secara langsung, masih tertutup dalam an.
Tapi celana tipis itu tetap membayang bentuk ular Andi yang agak sedikit mengerikan.
Violin sulit membayangkan benda besar dan keras itu masuk kedalam organ in tim nya yang masih belum pernah tersentuh oleh siapapun.
Meski dia seorang dokter sering melihat mayat, dan melihat benda itu sudah biasa.
Tapi melihat benda itu berdiri tegak dan mengerikan seperti punya Andi, itu jelas adalah pertama kali baginya.
Violin duduk tenang di depan cermin, melepaskan hiasan rambutnya satu persatu, untungnya sanggulan untuk resepsi, tidaklah seribet saat pemberkatan.
Di acara resepsi hiasan rambut dan sanggulannya, di buat jauh lebih sederhana.
Sehingga Violin bisa membereskannya seorang diri.
Meski demikian, dia tetap beberapa kali harus mengistirahatkan kedua lengannya yang pegal karena terangkat terus.
Setelah membereskan rambutnya, Violin baru mencoba untuk melepaskan baju gaun pengantin nya.
Resleting yang di bagian punggung sempat menjadi kesulitan, tapi berhubung lengan Violin cukup panjang dan lentur, akhirnya dia berhasil juga melepaskannya seorang diri.
Violin merasa sangat lega, setelah dia melepaskan semua nya, dan hanya mengenakan kimono tipis membalut tubuhnya.
Violin pergi ke kamar mandi membersihkan diri, hingga badannya terasa segar.
Dia baru kembali kearah tempat tidur utama, di mana Andi sudah terlebih dahulu tidur di sana dengan sangat pulas.
Sebelum naik keatas kasur, Violin meredupkan lampu penerangan ruangan kamar terlebih dahulu.
Baru dengan hati-hati dengan dia berbaring di sebelah belakang Andi.
Dengan memeluk Andi dari belakang seperti kebiasaannya selama ini saat tidur.
Violin pun ikut memejamkan matanya mencoba untuk tidur, melepaskan lelah.
Menjelang subuh Andi pun terbangun dari tidur pulas nya, karena merasa sesak pipis.
Andi memegangi kepalanya yang sedikit pusing, setelah merasa pusing di kepalanya perlahan lahan hilang.
Andi baru perlahan-lahan bergeser, melepaskan diri dari rangkulan Violin, menggantikan dirinya dengan guling.
__ADS_1
Setelah itu Andi pun turun dari kasur bergegas pergi ke kamar mandi untuk pipis.
Selesai pipis Andi langsung sekalian mandi membersihkan diri, berkumur dengan penyegar mulut.
Setelah itu dengan hati hati Andi baru kembali kearah kasur, Andi tersenyum saat melihat keadaan istrinya yang tidur dalam posisi sangat menggoda.
Karena kimono nya tersingkap kemana mana, biasa nya, Andi pasti buru-buru membantu menutupinya.
Tapi sekali ini berbeda, kini dia dan istrinya sudah resmi, seresmi resminya.
Tidak ada halangan apapun lagi bagi mereka.
Dengan berendap endap perlahan-lahan Andi membuka simpul tali kimono istrinya secara pelan pelan.
Violin yang sedang sangat pulas tidak menyadarinya.
Begitu tali kimono terlepas dari simpulnya, dengan hati-hati Andi menyingkap kimono yang di kenakan oleh Violin.
Begitu tersingkap semuanya, melihat pemandangan di hadapannya, Andi langsung menelan ludahnya sendiri.
Pemandangan di hadapannya sungguh sungguh sangat menakjubkan.
Tubuh Violin benar benar sangat indah dan menawan, kulitnya begitu putih halus dan lembut, saking mulusnya sedikit berkilauan tertimpa cahaya lampu kuning redup, yang semakin menambah suasana romantis.
Andi yang tidak berbaju, hanya mengenakan ce Lana da lam saja.
terus menatap tubuh istrinya dengan sepasang mata tak berkedip.
Tiba-tiba Violin yang tadinya tidur menyamping kini berganti posisi menjadi terlentang.
Melihat situasi ini di mana semua pemandangan yang biasanya di larang untuk di lihat kini terpampang jelas di hadapannya.
Andi sekali lagi kembali menelan ludahnya sendiri, sebelum hidungnya nanti kembali mimisan.
Andi perlahan-lahan mulai menciumi bibir Violin dengan lembut dan mesra.
Merasakan ada yang menyentuh bibir dengan benda lembut dan kenyal, Violin pun segera membuka matanya dengan kaget.
Dia hampir saja berteriak dan mendorong pria yang sedang menciumi bibirnya.
Tapi setelah melihat itu adalah suaminya, Violin malah memejamkan kembali matanya, tanpa menghiraukan kimono nya yang sudah tersingkap lebar.
Violin malah melingkarkan sepasang lengannya yang berkulit putih dan mulus di belakang leher Andi.
Nafasnya sedikit memburu Ter buai oleh nafsunya, yang mulai bangkit akibat aksi yang di lakukan oleh suaminya.
__ADS_1
Andi terus memberikan ciuman lembut dan mesra di bibir isteri nya, bahkan memasukkan lidahnya masuk kedalam rongga mulut Violin menyapu semuanya dengan lembut.