AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
UNGKAPAN PERASAAN TERDALAM VIONA


__ADS_3

Andi mengulurkan tangannya dengan lembut menghapus airmata yang menggantung di pipi Viona yang kurus pucat.


"Sudah jangan bersedih lagi, yuk kalau sudah siap, aku akan membawa mu ketempat yang ku janjikan tadi pagi."


ucap Andi mencoba mengurangi kesedihan Viona, dengan mengalihkan perhatian nya.


Viona menatap Andi mengangguk kecil sambil memegang tangan Andi dia berkata,


"Yuk kita jalan sekarang.."


Andi mengangguk, lalu dia menggendong Viona ke kursi roda, membantu Viona mengenakan jas tebal dan topi penghangat. dan sarung tangan.


Setelah siap Andi pun mendorong Viona meninggalkan apartemen mereka.


Tak lama kemudian Andi mengendarai mobilnya, membawa Viona meninggalkan apartemen mereka.


Saat Andi memarkirkan mobilnya, di depan halaman kantor catatan sipil.


Sadarlah Viona, tempat rahasia apa yang ingin Andi kunjungi bersama nya.


Sebelum turun dari mobil, Viona memegang tangan Andi menahannya, dia menatap Andi dengan penuh haru dan berkata,


"Di,.. tak perlu sejauh itu, aku sudah merasa cukup bahagia,.."


Andi tersenyum memegang tangan Viona dengan lembut dan berkata,


"Vi,.. mohon kabulkan keinginan ku, sekali ini saja,"


"Aku sudah sangat lama memimpikan ini, tolong kabulkan ya,..?"


Viona menghela nafas dan berkata,


"Tapi aku,.."


Andi tidak membiarkan Viona menyelesaikan kata-katanya.


Dia menggunakan telunjuknya dengan lembut menutup mulut Viona.


Andi menepuk tangan Viona menyemangati nya dan berkata,


"Ayo,.. jangan kecewakan aku.."


"Jangan takut, aku akan mendampingi mu.."


Viona tidak berdaya membantah nya, karena hati kecilnya juga memang sangat menginginkan nya.


Akhirnya dia hanya bisa pasrah, membiarkan Andi mendorong nya menuju gedung kantor catatan sipil.


Setelah mengikuti segala prosedur hingga foto bersama.


Akhirnya mereka berdua duduk di hadapan petugas catatan sipil yang khusus mengeluarkan buku nikah.


Petugas itu menatap Andi dan Violin secara bergantian, dia merasa ragu dan kurang yakin.


Sehingga dia bertanya ulang untuk memastikan,


"Kalian berdua apa sudah yakin,?"


"Sekali cap di bubuhkan, kalian tidak bisa lagi menarik atau membatalkan nya lagi.."


"Bila kalian ingin berpisah kelak karena menyesal, itu akan menjadi lebih rumit "

__ADS_1


Andi tersenyum dan berkata,


"Kami sudah yakin, lakukan saja tugas mu."


Petugas itu melihat keyakinan dan keteguhan jawaban Andi, akhirnya dia bersiap membubuhkan cap nya.


Viona menatap kearah Andi dengan tatapan penuh rasa terima kasih, dia terlihat tersenyum bahagia hingga airmata nya runtuh.


Di detik terakhir saat cap di turunkan kebawah.


Tiba-tiba Viona berkata,


"Tunggu...!"


Tangannya menutupi buku nikah diatas meja dan berkata,


",Maaf pak aku berubah pikiran, jangan di cap pak bukunya saja buat saya..."


Setelah berkata Viona mengambil buku nikahnya menyimpan kedalam tas dan berkata,


"Cukup di,.. aku mau pulang.."


"Terimakasih banyak pak,.."


ucap Viona sambil mengangguk kan kepalanya kearah petugas yang sedang bengong itu


Andi juga sama kagetnya dengan reaksi Viona barusan.


Viona menggunakan tangannya sendiri memundurkan kursi rodanya.


Kemudian dia langsung bergerak meninggalkan tempat tersebut.


Andi buru-buru memberi hormat kearah petugas tersebut dan berkata,


Setelah itu Andi buru buru menyusul Viona.


Saat Andi keluar dari dalam ruangan, dia melihat Viona sedang menunggunya di sana, mengacungkan bukunya kearah Andi sambil tersenyum gembira.


Seperti anak kecil yang mendapat kan permen.


Andi yang ingin tersenyum akhirnya malah menutupi mulutnya sendiri dengan air mata bercucuran.


Andi berjalan menghampiri Viona, kemudian berjongkok di samping nya dan berkata dengan sedih,


"Mengapa Vi,..?"


"Mengapa kamu harus bersikap begini,..?"


Viona membelai kepala Andi dengan lembut dan berkata,


"Di,.. dengan begini pun, aku sudah sangat puas dan berbahagia.."


"Tak perlu lebih jauh lagi untuk di paksakan.."


"Belajarlah merelakan,.. itu yang terbaik,.."


"Sesuatu yang sudah terlewat kan tak mungkin kembali lagi.."


"Gelas yang sudah pecah, bagaimana pun kamu berusaha keras merekatkan nya kembali dengan sempurna.."


"Garis nya tetap ada, bekasnya selama nya tidak akan pernah bisa hilang.'

__ADS_1


"Semua sudah tidak mungkin bisa, kembali sempurna seperti semula lagi.."


Andi sudah tidak bisa berkata apa-apa, selain menutupi mulutnya sendiri berusaha menahan suara tangisnya.


Dia terus menatap Viona dengan tatapan sedih dan merasa bersalah.


Viona berusaha tersenyum, meski airmata nya juga ikut jatuh tak terbendung.


Akhirnya Andi mengeraskan hatinya, dia berusaha tersenyum dan mengulapkan tangan nya membelai kepala Viona dengan lembut dan berkata,


"Baiklah semua terserah pada mu, lagi pula ini cuma formalitas, yang terpenting adalah kamu selalu ada di sini.."


ucap Andi sambil menunjuk dadanya.


Viona mengulurkan tangannya membelai wajah Andi yang jongkok di sampingnya.


Andi menangkap nya dan menciumi punggung tangan Viona dengan lembut dan berkata,


"Bagi ku kamu selamanya tetap adalah istri ku, nyonya Andi Huo.."


Setelah itu Andi pun berdiri dan mendorong kursi roda meninggalkan gedung tersebut, kembali ke mobil mereka.


Viona sepanjang jalan terus memegangi buku nikah yang belum sah itu dengan erat sambil tersenyum bahagia.


Dia berulang kali, menatap fotonya bersama Andi dengan tatapan mata kebahagiaan..


Andi yang paham kondisi Viona, dia tidak mau memaksanya terlalu lama menghabiskan waktu di luar.


Dari gedung catatan sipil Andi langsung membawa Viona kembali lagi ke apartemen.


Sesuai perkiraan Andi, sesampai di rumah, Viona langsung mengalami pendarahan hebat dan tertidur dengan wajah pucat.


Setelah di tangani dan di beri minum obat oleh suster khusus, yang memang di panggil Andi khusus untuk membantunya merawat Viona.


Karena dengan kondisi penyakit Viona yang spesifik seperti itu, adalah perawat wanita yang berpengalaman lah yang paling cocok untuk membantu menanganinya.


Setelah suster kembali ke kamarnya, Andi pun ikut berbaring menemani di sebelah Viona.


Andi yang hampir selama beberapa hari ini kurang tidur.


Dalam sekejap mata, dia pun ikut tertidur di samping Viona.


Saking nyenyak nya Andi tidur, hingga Viona sudah terjaga dari tidurnya, Andi masih asyik tidur.


Viona sengaja tidak ingin membangunkan Andi, dia hanya tidur menyamping dan terus menatap wajah Andi yang tampan.


Dengan tatapan mata penuh kagum.


Viona berbicara di dalam hati,


"Di,. kamu adalah sumber kebahagiaan terbesar dalam hidup ku, tanpa kamu di sisi ku, aku akan selalu merasa seperti sumur yang sedang kekeringan tanpa air."


"Tahukah kamu kesalahan terbesar dalam hidup ku, adalah kehilangan dirimu.."


"Tahukah kamu,. aku meninggalkan mu, tidak sepenuhnya karena alasan anak itu dan Rio."


"Aku meninggalkan mu lebih daripada tidak ingin menyeret mu Ke lubang comberan, tempat aku berkubang.."


"Tapi pada akhirnya aku tetap saja menyeret mu dan kembali membuat mu menderita untuk ku.."


"Aku benar-benar berharap di kehidupan nanti dan seterusnya, kamu jangan pernah lagi mengenal ku..'

__ADS_1


"Karena setelah mengenal diri ku, aku hanya terus membawa penderitaan yang tiada henti untuk mu."


__ADS_2