
Padahal karyawan yang di hidupi oleh perusahaan begitu banyak, hingga banyak yang terlihat cuma duduk duduk saja dengan santai.
Ngegosip, ngobrol, datang masuk kerja jam 9 pagi, pulang kerja jam 2 siang, hari Jumat kepotong kegiatan senam bersama, makan siang, .. hingga pulang lagi kekantor udah jam 2 lebih, tinggal beres beres sebentar, kemudian udah bersiap siap untuk pulang, pada hari Sabtu dan Minggu libur.
Sedangkan yang duduk di jajaran atas juga hampir sama, dengan gaji gaji fantastik gak masuk akal.
Masih mencari peluang bonus berbagai tender, diam diam masuk ke kantong pribadi.
Benar benar gak ketolong, batin Andi di dalam hati.
Saat Andi mengemukakan pendapatnya ke Berry, Berry malah tertawa dan berkata,
"Urusan negara lu pikirin, mendingan lu pikirin aja diri lu sendiri.."
"Masa depan lu dan gue aja belum jelas, mo mikirin negara yang udah banyak profesor dan doktornya di sana."
Mendengar ucapan Berry, Andi hanya tersenyum kecut di dalam hati, dia diam-diam harus membenarkan ucapan Andi.
Yang duduk diatas bukan orang bodoh, gelar mereka seabrek, hanya mereka pura-pura bodoh, menutup mata, selagi ada kesempatan raup aja sebanyak banyaknya, urusan lain di pikirkan nanti saja.
Toh kalau ketangkap juga gak bakal di miskin kan dan di hukum tembak.
Saat di dalam maupun nanti keluar dari penjara pun, masih bisa hidup enak, syukur syukur masih bisa kepilih lagi untuk menjadi pejabat.
Setelah kasus berjalan terlalu lama, dan orang orang sudah lupa kasus lama, karena kasus baru sudah berantri antri untuk di urus.
Setelah mendapatkan tempat tinggal dan mobil untuk penunjang aktivitas mereka, Berry pun mencari dan menyewa sebuah kantor kecil buat mereka berdua dan seorang sekretaris untuk membantu aktivitas Andi.
Bahasa kerennya sekretaris, asisten Presdir, padahal aslinya adalah perawat, yang membantu merawat dan menjaga orang cacat .
Setelah memiliki kantor dan fasilitas penunjang, Andi dan Berry mulai aktif datang ke pasar bursa saham, untuk belajar sekaligus mencari nasabah investor poten, bergabung dengan perusahaan yang mereka bentuk.
Tapi itu sungguh tidak mudah, setelah berjuang hampir satu tahun, di mana keadaan keuangan mereka berdua mulai semakin seret.
Mereka berdua tidak juga berhasil menemukan investor yang percaya, dan bersedia bekerja sama dengan mereka.
Dari apartemen mewah, kini mereka telah pindah ke apartemen kumuh dan sederhana.
Kantor pun dari yang menyewa di gedung pencakar langit, kini pindah kerumah, yang mereka sewa untuk tempat tinggal, sekaligus merangkap menjadi kantor mereka.
Satu satunya yang masih di pertahankan oleh Berry, hanya wanita kulit hitam bernama Carol, yang menjadi perawat sekaligus, sekretaris di kantor mereka berdua.
Hal ini semakin di perparah dengan beberapa saham, yang mereka investasikan mengalami kebangkrutan.
__ADS_1
Sehingga kondisi keuangan Andi dan Berry, benar benar morat marit di tahun kedua mereka berada di Amerika.
pagi itu terlihat Andi dan Berry duduk di depan teras rumah mereka sedang bersantai.
Karena hari itu adalah hari Minggu, di mana bursa saham tidak buka, sehingga Andi dan Berry bisa duduk santai sambil menikmati kopi dan rokok.
Tapi yang minum kopi dan rokok hanya Berry, sedangkan Andi lebih memilih minum segelas teh tawar hangat.
Sambil merokok, Berry pun memulai pembicaraan,
"Di,.. kira kira apa yang bisa kita lakukan..? bila seperti ini terus, kurasa bulan depan sepertinya Carol pun tidak sanggup kita pertahankan lagi."
Andi menghela nafas panjang dan berkata,
"Mau gimana lagi, ? sebenarnya dari 2 bulan lalu pun, aku sudah menyadari hal ini, cepat lambat bila terus seperti ini, Carol tidak mungkin bisa kita pertahankan.."
"Bahkan setelah kontrak rumah ini jatuh tempo, kita akan kehilangan semua nya, dan jadi tuna wisma."
ucap Andi termenung sedih menatap awan yang berarak di angkasa.
Berry juga ikut menghela nafas dan berkata,
"Maaf ya di,.. aku yang membawa mu kedalam keadaan sulit ini.."
Andi tersenyum sabar dan berkata,
"Aku melarang mu berbicara seperti itu lagi..'
Berry menoleh kearah Andi, menatap Andi dengan terharu dan dia sedikit merasa bersalah.
"Kalau saja dari awal, aku mengikuti nasehat mu, untuk tetap low profile, tidak jor joran."
"Mengikuti pelan pelan membaca situasi, menunjukkan kemampuan kita sedikit demi sedikit, untuk memupuk kepercayaan orang..'
"Mungkin kita tidak akan menjadi seperti ini.."
Andi tersenyum dan berkata,
"Beda pendapat tidak berarti pendapat mu salah, pendapat ku benar..'
"Masa depan tidak ada yang tahu, tak perlu merasa menyesal."
"Keputusan sudah kita ambil bersama, tentu harus kita jalani bersama.."
__ADS_1
"Kita sudah tidak punya jalan mundur lagi, menyesal pun percuma."
Berry mengangguk dan berkata,
"Kamu benar di,.. kamu memang selalu benar,..Di aku sudah benar-benar kehilangan akal tidak tahu harus berbuat apa saat ini..?"
Berry dan Andi sama memilih diam dan merenungi, apa yang kira-kira bisa mereka lakukan kedepan nya, untuk mengatasi situasi pelik mereka saat ini.
"Di,.."
"Yup.."
Berry menatap Andi dengan serius dan berkata,
"Bagaimana bila kita main ke London, cari Sarah minta bantuan dari nya.."
"Dia pasti memiliki teman dan koneksi dari kalangan atas, yang bisa menjadi nasabah kita."
Andi menatap Berry sebentar, kemudian dia menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak bisa Berr,.. meski aku tidak ingat sejauh mana kedekatan ku dulu dengan nya, tapi kita tidak boleh pergi merepotkan nya..'
"Apalagi bila kita habiskan sisa dana kita berangkat kesana, terus kita di tolaknya..'
"Selain kehilangan muka, kita juga akan kehilangan cadangan dana terakhir kita,. tidak berr.. aku tidak setuju dengan ide ini.."
Berry menarik nafas panjang, kemudian menghela nafas dan berkata,
"Di apa kamu benar-benar sudah tidak ingat semua masa lalu mu..?"
Andi terlihat termenung menatap awan dan berkata,
"Biarlah masa lalu hilang terbawa angin, segala penyesalan kekecewaan dan kesedihan pun akan ikut berlalu bersama nya,.."
"Tidak ada lagi yang perlu di kenang maupun di ingat lagi.."
Mulut Andi berkata begitu, tapi di matanya justru terlihat bayangan wajah Violin yang imut dan cantik sedang tersenyum manis kearah nya.
Tak sanggup melihat bayangan itu, akhirnya Andi memejamkan matanya, membiarkan dua titik air bening, jatuh bergulir ke pipinya.
Berry yang sedang tertunduk pun kembali berkata,
"Di,.. ketahuilah Sarah dulu juga termasuk salah satu gadis yang sangat mencintai mu.."
__ADS_1
"Ku rasa sampai saat ini pun, dia masih sangat mencintai mu.."
"Percayalah, bila kita pergi minta tolong darinya, dia pasti akan berusaha sekuat tenaga, membantu mu.."