
Dia terjatuh diatas tanah dalam posisi berlutut, sepasang tangannya di gunakan untuk menutupi lubang di lehernya, yang terus menyemburkan darah segar seperti keran bocor.
Dia menatap Andi dengan tatapan mata tak percaya, sebelum akhir nya kepalanya terkulai ke bawah.
Melihat dua rekannya tumbang begitu mudah di tangan Andi,.si hitam yang menggenggam sebilah parang tajam, yang berkilauan tertimpa cahaya matahari.
Dia terlihat sedikit ragu untuk maju ataupun mundur.
Andi tidak memberinya waktu untuk berpikir banyak, Andi yang sedang bergerak mendekatinya dengan tatapan mata dingin.
Saat melewati si bule, dengan sekali injak kepala si bule langsung pecah berantakan.
"Kukatakan padamu, ilmu silat bukan buat di pamer, tapi sekali dilepaskan taruhannya adalah nyawa.."
ucap Andi sambil tersenyum dingin.
Si hitam yang ketakutan, sontak mengeluarkan pistol dan langsung di tembakkan kearah Andi.
Saat dilihatnya Andi kembali menghilang, Dia menjadi terburu-buru melepaskan tembakan pistolnya secara sembarangan.
Lalu dia mencoba menebaskan parangnya kearah samping untuk melindungi diri.
Tebasan parangnya berhasil di tangkap oleh tangan Andi, dengan sekali sentak parang itu terlepas dari pegangannya.
Baru saja dia hendak memutar tubuhnya melarikan diri, parang panjang itu sudah menembus punggungnya, hingga muncul ujungnya di depan dada.
Dengan mulut berlepotan darah,.si hitam jatuh tumbang dengan tubuh miring di atas tanah.
Diam tidak bisa bergerak lagi, hanya sepasang mata melotot ketakutan.
Setelah mengedarkan pandangan matanya sejenak,.. Andi pun meninggalkan tempat itu menghampiri wanita yang di tolong nya itu.
"Andi kamu,... bagaimana bisa..?"
tanya wanita itu dengan wajah tak percaya.
Dia terus menatap Andi dari atas hingga ke bawah.
Andi tersenyum dan berkata,
"Ceritanya panjang, mana James ? kenapa kamu bisa ada di sini sendirian..?"
Mendengar disebut nama suaminya, dengan terkejut Santi segera berkata,
"Di,.. James ada di sebelah sana sedang melawan musuh,...kamu cepatlah pergi menolongnya..."
"Baiklah kalau begitu,. kamu bawa anak mu, bersembunyi lah di rumahku ."
"Di dapur angkatlah karpetnya, di bawah karpet ada ruang rahasia, untuk sementara bersembunyi lah di sana .."
__ADS_1
"Sebelum aku dan James kembali kerumah, kamu jangan pernah keluar dari sana.."
"Siapa pun yang datang jangan keluar termasuk pihak berwajib sekalipun.."
ucap Andi memberi pesan.
Santi mengangguk, sebelum dia sempat berkata lebih lanjut.
Andi sudah berlari cepat meninggalkan tempat tersebut, menuju kearah tempat yang di tunjuk oleh Santi tadi.
Saat tiba di lokasi, Andi menyaksikan Dokter Monica, sedang terdesak hebat oleh dua orang wanita kembar berambut pirang, yang menggunakan sepasang belati pendek di tangan, mereka terlihat terus menyerang nya.
Dokter Monica sudah terpincang pincang, karena kakinya di bagian betis dan paha mengalami luka sobek, yang cukup dalam dan terus berdarah.
Sedang tangan kirinya harus digunakan, untuk menutupi luka di bagian perut kirinya, yang terus mengucurkan darah.
Di tempat lainnya, James juga terlihat kerepotan menghadapi 3 orang berjubah merah, dan bertopi kuning.
Kelihatannya mereka adalah 3 biksu Tibet, yang di utus untuk menghabisi James.
Meski James terlihat terdesak, tapi Andi yakin James masih sanggup bertahan.
Saat ini yang paling gawat adalah Dokter Monica, sedikit telat, Dokter itu pasti akan tewas di tangan kedua gadis berambut pirang itu.
Dokter itu pernah berjasa menolong Andi, Andi tidak mungkin tinggal diam, melihat kondisinya seperti itu.
Andi melompat keudara kemudian melepaskan dua pukulan jarak jauh, yang menimbulkan dua pusaran angin melesat kearah kedua gadis pirang itu.
Mereka berdua dengan sigap melompat menjauh menghindari serangan Andi.
Untung mereka melompat bergulingan menjauh, telat sedikit mereka berdua pasti akan terkena ledakan pukulan jarak jauh Andi, yang langsung membuat tanah tempat mereka berdiri tadi menjadi berlubang.
Saat kedua gadis pirang itu melompat berdiri, mereka melihat di hadapan mereka kini.
Berdiri seorang pria berjubah panjang selutut, sedang menatap mereka berdua sambil tersenyum dingin.
Mereka melirik kearah tanah yang berlubang, tahulah mereka Andi bukan lawan yang bisa mereka hadapi.
Sambil mengeluarkan suara lengkingan nyaring, kedua gadis itu melemparkan dua buah granat tangan kearah Andi dan Dokter Monica.
Tapi sebelum dua bom itu berhasil mencapai posisi Andi, kedua granat tangan itu sudah meledak di udara terkena serangan jarak jauh Andi.
Seiring dengan terjadinya ledakan keras, kedua gadis kembar itu sudah melarikan diri dari sana.
Suara lengkingan kedua gadis kembar itu seperti kode, pada ke 3 orang berjubah merah bertopi kuning, untuk melakukan pukulan memaksa James mundur menjauh.
Lalu mereka juga melesat meninggalkan tempat tersebut menyusul kedua gadis kembar itu.
Melihat musuh telah pergi, Andi buru-buru memapah Dokter Monica dan berkata,
__ADS_1
"Bertahanlah, aku akan membawa mu kerumah sakit."
"Tidak perlu, tolong bawa saja aku kerumah bos disebelah sana.."
ucap Dokter Monica bergelayut manja dalam pondongan Andi, sambil menunjuk kearah sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari sana.
"Tapi kondisi mu.."
ucap Andi ragu.
"Jangan lupa aku seorang dokter, asal kamu bantu aku, aku pasti tidak akan apa apa.."
ucap Dokter Monica memaksa diri Tersenyum sambil menahan rasa sakit.
Andi mengangguk, lalu dia menoleh kearah James dan berkata,
"James kamu tidak apa-apa..?!"
James menatap Andi dengan kaget dan bingung, lalu berkata,
"Andi kamu kenapa bisa di sini ? kaki mu ?"
Andi tersenyum lebar dan berkata,
"Ceritanya panjang, kamu sebaiknya pergi ke pondokku di sebelah sana, Santi dan anak mu ada di sana.."
James segera mengangguk, lalu melesat kearah yang di tunjuk oleh Andi.
Bila dulu melihat gerakan James yang begitu cepat dan gesit, Andi pasti akan berdecak kagum.
Tapi sejak dia berhasil menguasai Fu Mo Se San Cang, bagi Andi itu adalah hal biasa'.
"Mereka di dapur,.. !"
teriak Andi mengingatkan, agar James gak bingung mencari cari.
Setelah James pergi, Andi buru-buru membawa dokter Monica menuju rumah James.
Andi dengan hati-hati membaringkan Monica yang berlumuran darah, di kursi sofa diruang tamu James.
"Makasih pak Andi, tas obat dan peralatan medis ku ada di sebelah sana..tolong bawa kan kemari.."
ucap Dokter Monica sambil menahan rasa nyeri di lukanya.
Andi mengangguk dan mengambil semua barang medis yang di minta oleh Dokter Monica.
Dokter Monica lalu menggunakan pisau bedah kecil merobek celana di paha dan di betisnya lebar lebar, yang menampilkan paha dan betis yang panjang putih mulus.
Tapi disana ada di hiasi dua luka, yang terbuka cukup lebar, hingga sedikit terlihat tulang kering dan tulang paha nya.
__ADS_1
Tanpa memperdulikan tatapan mata Andi, Dokter Monica kembali merobek baju di bagian perutnya.