
"Halo selamat siang pak Andi, ini dari yayasan pusat rehabilitasi orang cacat dan tidak mampu.."
"Saya adalah Bu Nani kepala yayasan di sini, hari ini kebetulan adalah hari ulang tahun yayasan yang ke 10 dan ada peresmian gedung baru.."
"Kami ingin mengundang pak Andi hadir di sini, sebagai tamu kehormatan,.apa.pak Andi punya waktu dan bersedia datang kemari..?"
Andi mengangguk dan berkata,
"Share saja lokasinya,. aku akan kesana sekarang.."
Andi mematikan panggilannya, berjalan menuju toilet membersihkan muka, merapikan diri di depan cermin.
Lalu dia berjalan keluar dari toilet, langsung menuju halaman parkir, sesaat kemudian mobil Andi sudah terlihat meninggalkan kampus.
Langsung menuju lokasi yang di share,.ternyata lokasinya tidak terlalu jauh dari kampus lama Andi.
Mobil Andi bergerak menelusuri kawasan perbukitan yang sepi dan asri.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam lebih, Akhirnya Andi memasuki sebuah kawasan privasi yang sepi di atas bukit.
Setelah melewati dua pos penjagaan,. akhirnya Andi tiba di halaman parkir gedung yang besar luas dan memanjang, menempati seluruh kawasan puncak bukit.
Ini adalah kali pertama Andi datang ketempat ini, padahal sejak dia sukses di New York.
Dia pernah mendapat telpon dari suster kepala yayasan ini, yang menawarkan dirinya, untuk menjadi donatur utama yayasan amal ini.
Setelah melakukan pengecekan di internet, dan mencari tahu lebih jauh.
Akhirnya Andi pun memutuskan bergabung menjadi donatur yayasan ini.
Andi setelah memarkirkan mobilnya, dia pun langsung turun dari mobilnya, berjalan mendekati gedung utama.
Sambil berjalan Andi, melakukan panggilan telpon ke bu Nani.
Begitu tersambung, Andi pun berkata,
"Halo Bu Nani, saya sudah sampai di lokasi, sekarang sedang menuju gedung utama, ibu ada di.mana..?"
"Ini pak saya dan seluruh staf saya, sudah siap menyambut kedatangan bapak di lobby gedung.."
jawab Bu Nani cepat.
Andi mengangguk dan berkata, "baik saya segera kesana, sampai bertemu."
Andi mempercepat langkahnya hingga akhirnya tiba di tangga halaman menuju lobby utama.
Andi melihat sekumpulan.orang berpakaian rapi, sudah berkumpul disana.
Melihat kedatangan Andi 3 orang suster langsung berjalan menghampiri Andi sambil tersenyum gembira.
Setelah dekat salah satu dari mereka langsung berkata,
"Pak Andi kan,..? kenalkan saya suster Nani.."
"Di sebelah kanan saya suster Theresia, sedangkan yang sebelah kiri saya suster Elisabeth."
__ADS_1
Ketiga suster itu dua bule satu Negro, mereka maju menyalami Andi satu persatu.
Setelah berbincang-bincang sejenak,.mereka mengajak Andi untuk di perkenalkan sama semua pengurus di tempat tersebut.
Di sana ada hadir kumpulan dokter perawat hampir semua tenaga medis ada di sana.
Setelah berkenalan dan berfoto-foto sejenak.
Andi di ajak menuju gedung baru yang hendak diresmikan olehnya.
Andi di beri kesempatan untuk menggunting pita merah peresmian gedung baru tersebut.
Setelah acara gunting pita dan foto foto selesai,.Acara.di lanjutkan dengan doa bersama, sebelum kemudian di lanjutkan dengan makan nasi tumpeng selamatan secara bersama penuh kekeluargaan.
Selesai acara makan makan, suster Nani spesial menemani Andi berkeliling sambil ditemani beberapa perawat mereka mengunjungi satu persatu kamar orang cacat yang di rawat disana.
Andi berkeliling di gedung 3 lantai yang sangat luas, dari satu kamar ke kamar lain.
Tapi bagi Andi ini justru adalah hiburan tersendiri bagi perasaannya yang sedang galau memikirkan nasib dan keadaan Viona.
Dengan bertemu pasien pasien di yayasan rehabilitasi ini, menyemangati mereka,.sambil bercerita dan berbagi pengalaman pribadinya yang juga pernah cacat.
Bahkan hampir mati, karena gangguan syaraf di otak,.Andi memberi semangat kepada para penghuni di sana.
Setelah berkunjung ke hampir semua ruangan pasien, akhirnya mereka tiba di depan sebuah penghujung ruangan yang letaknya paling pojok.
Sebelum mereka melanjutkan langkah mendekati penghujung ruangan tersebut.
Salah seorang perawat berkata,
"Soalnya kondisi psikisnya sangat sangat terganggu, aku takut dia akan mengamuk, bila melihat orang asing datang."
"Beberapa hari lalu, seorang petugas kebersihan baru,.bahkan di gigit telinga dan lehernya oleh pasien tersebut."
"Hingga mengalami trauma dan langsung minta berhenti hari itu juga..'
ucap perawat itu menjelaskan dengan serius.
Suster Nani menoleh kearah Andi dan berkata,
"Pak Andi demi keamanan anda, bagaimana bila kita mengunjungi tempat lain saja.."
Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak perlu khawatir suster, aku bisa menjaga diri."
"Kita teruskan saja hingga tuntas."
ucap Andi malah terlihat penasaran.
Suster Nani mengangguk, kemudian dia menoleh kearah perawat tadi dan berkata,
"Lia kamu pergi panggil beberapa petugas keamanan kemari, buat jaga jaga bila ada hal tak terduga."
"Ya, suster Nani, hanya saja petugas keamanan menunggu di sini saja.."
__ADS_1
"Karena bila petugas keamanan ikut masuk takutnya pasien bisa ngamuk dan histeris."
Suster Nani mengangguk dan berkata,
"Tidak apa-apa kamu atur saja, mana yang terbaik untuk kita semua.."
"Kamu yang lebih tahu,.."
Sambil menunggu suster Lia pergi memangil petugas keamanan.
Andi yang penasaran iseng bertanya,
"Sebenarnya apa yang terjadi, mengapa pasien ini bisa ada disini..?"
"Bagian tubuh mana yang cacat dari pasien ?"
Salah satu perawat muda pun berkata,
"Pasien sebenarnya tidak cacat sama sekali, yang cacat mungkin hanya mentalnya saja."
Andi mengerutkan alis dan berkata,
"Mengapa pasien cacat mental tidak di rawat di RS cacat mental,? malah di rawat di sini.."
Perawat muda itu menghela nafas panjang, dia tidak menjawab hanya melirik kearah senior di sebelahnya.
Senior itu mengerti,.dia pun buka suara menjelaskan ke Andi.
"Dari data silsilah pasien, kami mendapat informasi sebelumnya pasien sempat di rawat di RSJ, swasta terkenal.."
"Tapi karena putusnya biaya perawatan, dia akhirnya.di kirim ke RSJ pemerintah."
"Di sini pun sama tidak sampai setahun di rawat,. dengan alasan penuh dan keterbatasan ranjang dan ruangan, akhirnya pasien di kirim kemari.."
Perawat muda itu ikut menimpali dan berkata,
"Saat pertama kali datang kondisinya benar benar sangat memperhatikan,"
"Masa seorang pasien wanita dewasa, berat badannya hanya tinggal dua puluh kilo,.pasien bahkan untuk berdiri pun tidak bisa.."
"Tidak tahu di beri makan apa,? pasien kondisinya bisa sampai seperti itu.."
ucap perawat muda itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Sekarang kondisinya gimana ?'
tanya Andi.
"Sedikit lebih baiklah, beratnya sudah 40 an kilo, tapi untuk kembali ke normal rasanya sedikit sulit.."
"Karena menurut dokter yang periksa, pasien ada mengidap kanker serviks."
"Karena keterbatasan biaya dan peralatan medis, kita hanya bisa membantunya dengan obat anti nyeri saja..."
Andi menghela nafas panjang, hatinya sedikit terenyuh mendengar nasib buruk yang menimpa pasien tersebut.
__ADS_1