AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
BERDUA DI KAMAR HOTEL


__ADS_3

Berry tidak menghiraukan Andi, dia menatap kearah Davina dan berkata,


"Bagaimana kamu mau jadi Davina atau kura kura bangsat semua terserah pada mu.?"


"Lagi pula sehabis ini, kita juga mungkin gak bakal ketemu lagi.."


"Ku sarankan sih jangan emosi sesaat menyesal seumur hidup, ikut dengan Andi pulang adalah paling bijak.."


ucap Berry sambil tersenyum mengejek, sedikit meringis karena saat akan tersenyum rahang pipi dan bibirnya terasa nyeri.


Berry selesai berkata, dia pun melangkah pergi dari sana sambil menenteng pakaian dan sepatu yang di sewanya untuk bermain Ice skating.


Tiba-tiba Davina menyusulnya, lalu membanting perlengkapan ice skating nya di sebelah Berry.


Dengan wajah kesal dia berkata,


"Ayo ke hotel,..! lakukan apa mau mu, bajingan..!"


Setelah berkata Davina tanpa menghiraukan panggilan Andi dan Violin, dia langsung berjalan pergi dari sana dengan wajah kesal.


Davina hanya di.luar saja terlihat kesal, padahal di dalam hati dia sangat takut, tapi mau menghindar dia juga tidak bisa.


Sebelum menuju tempat parkir motor Berry, Davina menyempatkan diri mampir ke apotik yang ada di dalam mall.


Dengan menahan rasa malu, Davina secara sembarangan mengambil sekotak sarung pengaman khusus pria.


Ini untuk berjaga-jaga, bila terjadi sesuatu, setidaknya dia jangan sampai hamil anak bajingan seperti Berry.


Dia masih ingin kerja bebas dan tidak mau terikat dengan hal hal bodoh karena pertaruhan sialan itu.


Kini pun dia sudah rugi besar, miliknya yang paling berharga sebentar lagi akan hilang karena kebodohannya.


Ingin rasanya dia mengingkari janjinya dengan Berry dan kabur menyelamatkan diri.


Tapi harga dirinya tidak mengijinkannya melakukan hal seperti itu.


Bila dia lakukan hal itu, kelak dia tidak akan punya muka lagi untuk bertemu dengan Andi.


Davina berjalan sambil termenung memikirkan nasibnya yang sedang sial.


Tanpa disadari, dia sudah tiba dilapangan parkir, dan di sana terlihat Berry sedang menantinya.


Ternyata kamu cukup konsekwen ya dengan janji mu?, ku pikir kamu sudah kabur melarikan diri.."


ucap Berry sambil tertawa.


"Banyak bicara, cepat jalan,...! ke hotel Hilton aku nginap di sana.."


ucap Davina sambil naik ke boncengan motor Berry.


Berry tersenyum nakal kemudian melarikan motornya meninggalkan Mall.


Tapi tiba-tiba motor Andi yang membonceng Violin datang menghadang di depan motor Berry.


Berry yang terkejut langsung ngerem mendadak, sehingga Davina pun ikut terdorong merapat ke punggungnya sambil berteriak kaget.


"Berr please..."

__ADS_1


ucap Andi mencoba membujuk dan menghentikan Berry.


"Di,...kamu gila ya, hampir aja kita semua celaka...!"


teriak Berry kesal.


"Berr kamu dengarkan aku, kamu tidak boleh memaksa Vina dengan cara seperti itu."


"Lebih baik kalian berdua berdamai saja, ok..?"


Berry menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Di,... saat ini yang memutuskan untuk ikut gua, bukan aku di,.. ini keputusan Davina sendiri."


"Kenapa kamu terus mojokin aku ?"


ucap Berry sambil menahan jengkel.


"Di,... sudahlah ini udah keputusan ku, aku yang memulai nya, aku harus bertanggungjawab hingga tuntas.."


"Terimakasih banyak kapan kapan aku akan main ke kost mu lagi.."


"Tolong pinggirkan motor mu, Sampai jumpa..."


ucap Davina berusaha bersikap tenang.


Andi menggelengkan kepalanya dengan tidak puas, tapi dia memundurkan motornya memberi Berry jalan dan berkata,


"Berr kalau kamu melakukannya, kamu harus tanggung jawab, bila tidak kita kedepannya kita jalan masing-masing.."


Berry tersenyum dan memberi tanda jempol kearah Andi, lalu motornya pun melaju melewati Andi.


"Semoga saja mereka berdua baik'baik saja.."


"Kita pulang ya Lin, udah sore.."


Violin mengangguk dan berkata,


"Baik kak.."


Setengah jam kemudian, Berry bersama Davina telah tiba di kamar Davina menginap.


Davina mengeluarkan kunci pintu kamar yang berupa sebuah card.


Setelah di sentuhkan ke handle pintu terdengar bunyi.


"Klek..!"


Davina kemudian membuka pintu kamar nya dari luar, ruangan kamar sedikit gelap dan pengab.


Tapi setelah card kunci tersebut di masukkan ke sebuah lubang dekat tombol lampu di samping pintu bagian dalam.


Lampu kamar yang kuning romantis pun menyala, begitu pula dengan pendingin ruangan dan lampu kamar mandi serta Hexos fan kamar mandi, semua menyala.


Berry melangkah masuk kedalam kamar mengikuti Davina dari belakang, kemudian dia menutup pintu kamar.


Berry sempat terkagum-kagum melihat kamar tempat menginap Davina yang begitu mewah.

__ADS_1


"Kamu sendirian aja Vin, di kamar sebesar ini..?'


tanya Berry sambil duduk di kasur yang empuk dan menepuk-nepuk nya.


Davina dengan wajah kesal berkata,


"Tadinya ya, tapi sekarang jadi tidak.."


"Nah sekarang cepat katakan apa yang kamu mau..dari ku.."


ucap Davina sambil melihat kearah Berry.


Berry sambil tersenyum dan menggosok gosok kan kedua telapak tangannya, dia berkata.


"Sekarang lepaskan pakaian mu.."


"Apa...!?"


teriak Davina dengan mata melotot marah.


Berry tertawa dan berkata,


"Maksud ku, pergilah ke kamar mandi lepaskan semua lalu mandilah."


Berry sambil tertawa meraih remote TV menyalahkan TV memindah mindahkan Chanel mencari tontonan yang dia suka.


Akhirnya dia memilih menonton film Tom and Jerry.


Melihat tingkah laku Berry, Davina hanya bisa mendengus kesal, dan melangkah menuju kamar mandi.


Dia memang merasa sedikit gerah dan lengket tubuhnya, tanpa menghiraukan Berry, dia pun masuk kedalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Davina pun keluar dari kamar mandi, mengenakan baju handuk kimono yang di sediakan oleh hotel.


Rambut nya tergerai basah, Davina terlihat sangat cantik dan menggoda.


Berry diam diam di dalam hati harus akui Davina sangat cantik dan seksi.


Setelah Davina keluar dari kamar mandi, Berry dengan santai menggantikan Davina masuk kedalam kamar mandi.


Davina duduk di kasur dengan perasaan cemas dan takut, dia benar-benar takut apa yang akan berry lakukan pada dirinya setelah ini.


Dia berusaha bersikap setenang mungkin, didalam telapak tangannya tergenggam erat sebungkus sarung pengaman pria.


Davina mengigit bibir bawahnya dengan erat, berusaha menahan bibirnya agar tidak terlihat gemetar.


Tapi dari sepasang mata nya, terlihat jelas Davina sangat ketakutan.


Ini adalah pertama kalinya baginya, tentu dia sangat cemas.


Harus nya momen ini khusus buat suaminya kelak, tapi kini dia terpaksa harus merelakan nya buat Berry.


Perasaannya saat ini bercampur aduk, yang jelas dia sangat takut dan sedih .


Saat Davina sedang termenung, Berry pun sudah keluar dari kamar mandi, Berry terlihat bert*lanjang dada, dan hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawah perutnya saja.


Bentuk tubuh berry tidak jelek, cukup atletis, tapi Davina yang ketakutan langsung bergerak mundur menjauh ke ujung ranjang dan berkata,

__ADS_1


"Berry kamu mau apa...!?"


__ADS_2