AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
PANDAI MENUNGGANG KUDA


__ADS_3

Andi dan Violin akhirnya kembali berwisata di kaki pegunungan Alpen yang indah dan memiliki suasana yang tenang dan nyaman.


"Kak alangkah bagusnya, bila kita punya satu rumah peristirahatan di sini.."


"Bila sedang suntuk dan penat kita bisa menghabiskan waktu menenangkan pikiran di sini.."


"Selain itu di hari tua kita, bila bisa menghabiskan sisa hidup kita, melewatkan masa pensiun kita di tempat ini tentu akan sangat menyenangkan..'


ucap Violin sambil berdiri di salah satu balkon hotel di mana mereka berdua memilih menginap.


Andi berdiri di samping Violin dengan posisi tubuh sedikit membungkuk, menyandarkan kedua siku tangan nya, diatas pagar pembatas balkon kamar yang terbuat dari kayu halus.


Andi menghirup nafas berulang kali dan berkata,


"Aku juga dulu berpikiran sama dengan mu, makanya aku dulu sempat memilih tempat ini, untuk menghabiskan waktu sisa hidup ku yang tidak lama lagi .."


"Tapi di luar dugaan nyawaku di tarik kembali oleh istri ku yang sangat luar biasa ini dari depan pintu neraka.."


ucap Andi sambil tersenyum menoleh kearah Violin.


Violin sambil menahan senyum berkata,


"Ya tapi setelah selamat, pria tidak berjantung itu memilih mencampakkan ku dan menikahi wanita lain..'


"Tapi bodohnya aku, aku tetap tidak pernah bisa melupakan nya, dan masih terus menanti dan berharap suatu hari dia mau menerima ku kembali kesisinya.."


"Sungguh bodoh dan naif kan aku.."


"Bahkan pria itu tidak pernah menemani ku melewati hari ulang tahun ku, apalagi yang namanya hari valentine.."


"Semua kemesraan orang lain di hari itu, semuanya tidak pernah ada hubungannya sama sekali dengan diriku.."


"Aku hanya bisa menatap dengan penuh iri atas keberuntungan mereka yang bisa berpasang pasangan menikmati hari itu..'


"Sialnya lagi bukan aku tidak ada yang bersedia menemaniku merayakan nya.."


'Tapi justru aku yang menolak mereka, karena tidak bisa melupakan pria tidak berhati itu.."


ucap Violin sambil ikut menyandarkan tangan nya di pembatas pagar di sebelah Andi.


Andi sambil tersenyum lembut, merangkul gadis itu kedalam pelukannya dan berkata,


"Maafkan pria tidak berhati itu, mulai sekarang pria itu akan membayar lunas semua hutang nya padamu.."


"Ini bunga untuk hari valentine, ini coklatnya dan ini bonusnya.."


ucap Andi sambil memberikan setangkai bunga mawar merah yang dia simpan di dalam mantel baju dinginnya yang panjang dan tebal.


Di samping itu Andi juga memberikan beberapa batang coklat yang di ikat dengan tali pita biru..


Dan terakhir Andi memberikan sebuah kotak hitam kecil yang berbalut beludru halus.

__ADS_1


Violin dengan sangat gembira langsung mengembangkan sepasang tangan nya merangkul leher Andi, lalu mendaratkan ciuman mesra di bibir Andi lalu berkata,


"Ternyata kakak ingat, ku pikir kakak lupa.."


Violin terlihat sangat gembira dan bahagia sepasang matanya yang indah terus menatap kearah Andi dengan mesra dan berbinar-binar.


Andi membalas dengan meletakkan kedua tangan nya di pinggul Violin yang bulat dan Sexy.


"Kamu gak lihat isi kotak itu, suka atau tidak lihatlah dulu, kalau kurang bisa di tukar.."


ucap Andi sambil tersenyum.


"Aku lebih suka melihat mu ketimbang melihat kado mu.."


ucap Violin sambil tertawa nakal menggoda Andi.


Andi tersenyum dan berkata,


"Gak papa melihat ku bisa di tunda, aku tidak akan pergi kemana mana, selamanya akan selalu berada di sisi mu.."


"Setidaknya di coba dulu pas tidak nya.."


ucap Andi sambil menatap kearah Violin dengan penuh kasih sayang.


Violin sambil tersenyum gembira, dia menganggukkan kepalanya, lalu sambil bersandar memunggungi Andi.


Dia perlahan-lahan dengan hati hati membuka kotak hitam itu, begitu terbuka di dalam nya terdapat sebentuk cincin berkilauan.


Andi membantu memasangkan cincin itu sambil memeluk Violin dari arah belakang.


Setelah terpasang, ternyata cincin tersebut sangat pas dengan ukuran jari manis Violin.


Violin mengangkat telapak tangan kirinya keatas dan memperhatikan jari tangan nya sendiri dengan penuh kegembiraan.


"Sayang tapi aku belum menyiapkan kado untuk mu, rencana sore ini baru mau belinya dan di kasih malam nanti."


ucap Violin sedikit tidak enak hati.


"Kamulah kado terindah dalam hidupku, ada kamu kado apapun tidak penting lagi.."


ucap Andi sambil meletakkan tangan nya yang satu di bahu yang satu lagi di paha Violin.


"Hupp,..!!"


Tubuh Violin terangkat dalam pondongan Andi ala bridal style,


"Aihhh,..!!"


teriak Violin kaget.


lalu sambil tertawa manja dia melingkarkan sebelah tangannya di belakang leher Andi, sedangkan tangannya yang lain mencengkram erat mantel di dada Andi.

__ADS_1


Andi pelan pelan melangkah masuk kedalam kamar mereka sambil memondong Violin.


Andi meletakkan Violin dengan hati hati di atas kasur, lalu dia mendaratkan ciuman hangat kearah bibir Violin bermain main di sana, hingga nafas Violin turun naik dan memburu, menikmati ciuman yang sangat dia sukai itu.


Satu persatu pakaian mereka berjatuhan di lantai, hingga tubuh mereka berdua polos.


Kemudian Andi pun menikmati kado terindah dalam hidup nya itu.


Sekarang Violin sudah terbiasa, Andi bebas mengeluarkan semua jurus yang dia kuasai tanpa perlu ragu ragu lagi.


Karena Violin sudah sangat siap menerimanya.


Hingga permainan usai, Violin meringkuk manja dalam pelukan Andi berbalut selimut hangat.


"Kak kita mau makan malam di mana, ?"


tanya Violin sambil membelai lengan Andi yang sedikit berbulu halus.


"Aku sudah booking sih tempat nya di restoran yang tidak jauh dari hotel penginapan kita ."


"Nanti kamu lihat aja, kalau kurang cocok nanti kita tukar cari tempat lain.."


ucap Andi sambil mengecup leher Violin yang putih dan halus.


Violin sedikit menggeliat kegelian, sambil tertawa geli, Violin berkata,


"Kakak mau lagi, bagaimana bila kakak berbaring santai biar Violin yang bekerja.."


Andi sambil tertawa berkata,


"Boleh saja, tapi kalau lelah dan kurang nyaman jangan maksa ok ?"


Violin sambil tertawa menganggukkan kepalanya.


Lalu mereka kembali melanjutkan aktivitas mereka.


Hingga akhirnya Violin jatuh tersungkur dengan nafas tersengal-sengal di atas dada Andi yang bidang.


Seluruh bagian punggung Violin yang putih halus dan lembut, terlihat di penuhi butiran keringat seperti mutiara halus berkilauan.


Andi hanya tersenyum kecil menanggapi sikap istri kecilnya yang lucu tapi sangat menggoda.


"Sayang aku benar-benar gak nyangka deh kamu bisa seliar ini.."


"Padahal bila melihat mu dalam balutan seragam putih dengan stetoskop, selalu tergantung di leher dan kacamata bening yang selalu menghiasi wajah mu."


"Siapa yang akan menyangka, ternyata Dokter Violin sangat pandai menunggang kuda ."


"Kakak,..!!"


tegur Violin dengan suara manja, sambil menahan tawa..

__ADS_1


__ADS_2