
Andi dan rombongannya begitu tiba di hotel Int C, di bawah komando Ko Ahong yang berpengalaman.
Setelah mereka semua check in, Ko Ahong langsung mengajak mereka semua pergi melakukan peninjauan, tempat di adakan pertandingan besok malam.
Andi dan ko Ahong setelah berbincang dengan panitia pertandingan sebentar, mereka pun di antar meninjau arena pertarungan dan ruang ganti serta kamar mandi.
Selesai melakukan peninjauan, pihak panitia memberitahukan bahwa besok ada acara sesi timbang badan, yang mungkin ada beberapa wartawan yang ikut hadir di sana, memberikan beberapa pertanyaan.
Mereka berharap Andi tidak keberatan di interview oleh beberapa wartawan, yang terkadang suka melontarkan pertanyaan yang terlalu bersifat pribadi.
"Bagaimana pak Andi apa anda siap..?"
tanya panitia acara.
Andi mengangguk dan berkata,
"Aku akan mengikuti apapun aturan yang sudah di tetapkan oleh pihak panitia, aku sama sekali tidak keberatan.."
Panitia langsung mengucapkan terimakasih ke Andi dengan senang, karena Andi sangat kooperatif, berbeda jauh dengan lawannya yang sangat banyak maunya.
Tapi mereka tidak berdaya, karena lawan Andi memang saat ini sedang terkenal terkenalnya, karena menyandang dua sabuk gelar juara.
Setelah berbicara basa basi sejenak, Andi pun kembali ke kamarnya bersama ko Ahong dan rombongannya.
Karena hari itu free, waktu masih cukup banyak Andi pun memutuskan untuk berjalan ke kampus dan berbagai tempat yang memiliki kenangan indah berkenaan dengan dirinya dan Viona.
Sayangnya Viona tidak bisa hadir menemaninya, karena masih terikat kontrak kerja dengan perusahaan tempat dia magang.
Andi juga tidak bisa menemui maupun menghubunginya.
Akhirnya Andi memutuskan untuk pergi sendirian, setelah memberitahukan rencananya pada ko Ahong dan Berry lewat telpon kamar.
Baik ko Ahong maupun Andi sama sama memberi nasehat, agar Andi berhati hati dan tidak pulang terlalu larut malam.
Menjaga kondisinya buat pertarungan penting besok malam..dan Andi menyetujui saran mereka.
Andi kemudian meninggalkan kamarnya, hendak menuju lapangan parkir mengambil mobilnya lalu cabut dari hotel.
Tapi saat pintu lift Andi hampir tertutup, sebuah tangan halus kecil menahan pintu lift.
Andi pun buru-buru memencet tombol pintu kembali terbuka.
Agar tangan gadis itu jangan sampai terjepit pintu lift, yang bisa sangat berbahaya bila pintu lift bergerak turun
Begitu pintu lift kembali terbuka, terlihat wajah cantik seorang gadis imut yang sangat mirip dengan Viona, sedang tersenyum kearah Andi sambil berkata,
"Kak Andi mau kemana ? Lin ikut ya..?'
Andi tersenyum tak berdaya dan berkata,
"Kalau kakak bilang tidak emangnya kamu bakal nurut..?"
__ADS_1
"Enggak .."
jawab violin cepat sambil tersenyum .
Andi menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum tak berdaya, dia berkata,
"Kalau sudah ketemu kamu ataupun kakak mu, aku sudah kehilangan hak untuk menolak "
Violin sambil tertawa melangkah masuk kedalam lift berdiri disebelah Andi dan menggandeng tangan Andi lalu berkata,
"Jadi kita kemana ?"
"Kembali ke kamar masing masing.."
jawab Andi sambil tertawa.
Violin langsung cemberut dan melepaskan pegangan tangannya dari Andi, lalu memutar tubuhnya memunggungi Andi.
Andi hanya menanggapi sikap gadis kecil itu sambil tersenyum, lalu dia memencet tombol lift untuk turun ke basemen. setelah itu baru berkata.
"Udah jangan ngambek lagi, kakak mau jalan jalan ke kampus kakak dan kakakmu Viona ."
Violin langsung memutar badannya menghadap kearah Andi, sambil tersenyum gembira, lalu kembali merangkul lengan Andi.
Andi hanya tersenyum menanggapi sikap Violin yang lucu dan menggemaskan itu.
Tak lama kemudian Andi pun membawa mobilnya meninggalkan hotel bersama Violin.
"Kak apa ada kabar terbaru kak Viona..?"
tanya Violin santai.
Andi menggelengkan kepalanya, menanggapi pertanyaan Violin
Karena setelah kejadian kemaren yang membuat dirinya khawatir setengah mati.
Rabu malam berikutnya saat mereka ngobrol, Andi bisa merasakan obrolan mereka terasa singkat dan hambar.
Andi merasakan Viona seperti buru buru ingin mengakhiri pembicaraan.
Tidak seantusias biasanya, Andi juga tidak tahu ini perasaan dirinya sepihak, yang terlalu sensitif ataupun itu kenyataan nya.
Andi sendiri tidak begitu paham dan bingung.
Yang jelas malam itu pembicaraan mereka memang sangat singkat, tidak sampai 10 menit Viona sudah memutuskan sambungan nya.
Chat pesan yang Andi kirimkan pun hanya di jawab dengan singkat singkat.
Sangat berbeda dengan sebelumnya, bila mereka ngobrol terkadang bisa hampir sejam, paling cepat juga 45 menit.
Dan chat mereka juga tidak pernah putus, sepanjang perjalanan Viona pulang ke pabrik.
__ADS_1
Andi selalu merasa ada sesuatu yang salah, tapi dia tidak tahu di mana letak kesalahannya.
Untuk menanyakan ke Viona, Andi jelas tidak berani takut membuat Viona kesal dan marah, bila dia terlalu banyak bertanya.
"Loh kenapa kak..? kalian bertengkar ya ?"
tebak Violin sembarangan sambil melihat kearah Andi
Di dalam pikiran Violin bila pun mereka bertengkar, pasti yang memulainya adalah kakak nya Viona.
Tidak mungkin berasal dari Andi yang terkenal sangat sabar kesiapapun juga.
Andi sambil menyetir, melirik sekilas ke Violin dan berkata,
"Tidak kami tidak bertengkar, hanya kakak merasa Viona seperti sedang ada beban pikiran."
"Mungkin berkaitan dengan pekerjaannya, yang tidak bisa di bahas dengan ku, karena itu rahasia perusahaan.."
ucap Andi mereka reka sendiri.
Violin mengangguk dan menatap kearah Andi penuh simpati dan kasihan.
Tapi dia juga tidak tahu harus berbuat apa dalam hal ini.
"Sudah lah kak, tidak usah terlalu di pikirkan, Minggu depan juga kan kakak sudah bisa bertemu langsung dan berkumpul lagi."
"Terkadang pembicaraan lewat telpon, memang suka terasa garing, ketimbang obrolan langsung."
ucap Violin sebisanya menghibur.
Andi mengangguk sambil tersenyum pahit.
Tanpa terasa akhirnya mobil Andi sudah memasuki area parkir kampus.
Kampus terlihat tidak terlalu ramai, karena jam saat ini sudah menunjukkan pukul 12 siang.
Di tambah lagi saat ini adalah hari Jumat, sehingga wajar bila kampus terlihat sepi.
Andi setelah memarkirkan mobilnya, dia pun mengajak Violin berkeliling kampus, sambil menunjukkan dan menceritakan di mana dia pertama bertemu Viona.
Di mana tempat Viona dan dirinya biasa duduk saat kuliah, di mana tempat mereka biasanya nongkrong saat senggang.
Andi sambil berjalan bercerita sambil bernostalgia, sedangkan Violin mendengarkan semua nya dengan penuh ketertarikan.
Setelah sempat berkeliling hingga ke perpustakaan, akhirnya mereka berdua duduk santai ngobrol dan bercerita di kantin sambil minum teh botol
Dari sana Andi menyempatkan diri mampir ke kost Viona, menunjukkan pada Violin, di mana Viona tinggal.
Violin sangat tertarik dan ingin masuk kedalam melihat lihat, Andi terpaksa membeli dua bungkus rokok di warung meniru cara Sarah dulu.
Setelah mengobrol sejenak dengan penjaga kost, akhirnya Violin diijinkan untuk masuk melihat lihat kedalam.
__ADS_1