AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
BERSULANG UNTUK VIONA


__ADS_3

Andi mengangguk dan berkata sambil tersenyum


"Jangan lupa masih ada Ronaldo yang menunggu mu.."


"Kakak...! sebel deh.."


ucap Violin sambil mempelototi dan mencubit Andi dengan gemas.


Andi hanya tertawa sambil meringis, dan berkata,


"Hei.. itu di lihatin orang, apa kamu gak malu..?"


"Biarin..siapa suruh kakak nyebelin..!"


ucap Violin ketus.


"Nyebelin itu nyenengin betul, jadi benar kamu mulai suka dengan Ronaldo..?"


"Kakak..!!"


teriak Violin semakin cemberut.


"Kakak bila terus nyebut namanya, pulang dari sini, Violin tidak akan mau lagi belajar bersama nya.."


ucap Violin kesal.


Melihat reaksi Violin, Andi pun tersenyum lebar dan melanjutkan berkata,


"Menurut ku anak itu cukup baik, hanya saja lebih baik lagi setelah kalian sama sama jadi dokter.."


"Kakak..!"


teriak Violin sambil melotot dan berdiri dari kursi nya.


Membuat tamu lain pada melihat kearah mereka berdua dengan heran dan ingin tahu.


Andi buru-buru menganggukkan kepalanya kearah tamu lain dan meminta maaf.


Lalu dia buru-buru menarik tangan Violin, untuk duduk kembali dan berkata,


"Sudah sudah, kakak yang salah ok, kakak janji gak bahas dia lagi."


"Jangan marah lagi duduklah, ok..?"


ucap Andi membujuk Violin dengan lembut.


Violin kembali duduk dengan bibir manyun tanda masih kesal.


Tiba-tiba pembawa acara berteriak, meminta para hadirin untuk berdiri menyambut kehadiran sepasang pengantin yang akan segera memasuki ruangan resepsi.


Violin pun terpaksa ikut berdiri memandang kearah pintu dengan bibir di cemberutkan.


Andi yang tadinya tertawa menggoda Violin, kini berdiri di samping Violin, terus menatap kearah pintu gerbang masuk ruangan resepsi dengan wajah pucat dan tangan gemetar.


Yang pertama kali masuk ruangan adalah Doddy dan Rina yang sudah di sulap menjadi pasangan anak kecil yang berpakaian indah.


Masing-masing membawa sebuah keranjang di tangan mereka.


Mereka berdua bertugas menaburkan bunga keatas, untuk menyambut hadirnya sepasang pengantin.


Viona dan Rio masuk kedalam ruangan bergandengan tangan mesra sambil tersenyum bahagia menatap kearah depan.


Di belakang mereka terlihat pasangan Ferdinand Chu orang tua Rio, di susul oleh pasangan Wiliam Lin.orang tua Viona.


Viona terlihat sangat cantik luar biasa, dalam balutan pakaian pengantinnya yang putih polos, seputih kulitnya yang putih dan mulus.

__ADS_1


Rio juga terlihat sangat gagah dan tampan dalam balutan jas pengantinnya, yang berwarna abu-abu.


Rio terus melemparkan senyuman bahagia nya, kearah para tamu undangan.


Untuk menyambut kedatangan kedua pasangan pengantin yang berjalan dengan lambat dan santai.


Lagu The Wedding (Ave Maria), mulai berkumandang indah memenuhi seluruh ruangan pesta.


Alunan musik lembut itu semakin menambah suasana syahdu dan bahagia bagi pasangan pengantin, yang sedang melangkah masuk kedalam ruangan.


Tapi bagi Andi alunan musik itu justru seperti sembilu yang terus menerus menggores luka di hatinya, yang belum kering dan terus berdarah.


Andi terus menatap kearah Viona dengan wajah semakin pucat, perlahan-lahan sepasang air bening mulai menggantung di pelupuk matanya.


Tangannya semakin bergetar hebat, saat Viona dan Rio berjalan hampir melewati dirinya..


Violin yang meski tadi agak kesal dan jengkel dengan candaan Andi, tapi kini melihat reaksi Andi.


Hatinya menjadi tidak tega, semua kemarahannya tadi langsung hilang bagaikan tersapu angin.


Dengan mata sedikit basah, dia menyentuh tangan Andi dan menggenggamnya dengan erat.


Seolah ingin memberikan kekuatan pada Andi, untuk melewati semua ini dengan tabah.


Saat Viona dan Rio berlalu, dari hadapannya, Andi memejamkan sepasang matanya.


Sepasang air bening yang menggantung di pelupuk matanya, langsung mengalir turun dari sudut matanya, jatuh membasahi pipinya.


Tubuh Andi sedikit limbung.


Bila tidak di sangga oleh Violin, ada kemungkinan dia akan jatuh terduduk, dan menimbulkan kehebohan di tempat tersebut.


Andi menatap kearah Violin, dia menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Terimakasih Lin.."


Andi bergumam pelan di dalam hati sambil menatap kearah punggung Viona,


"Meski sebenarnya aku sangat ingin meneriakkan 1000 kali, aku sangat mencintaimu.."


"Tapi aku sadar saat ini semua sudah terlambat dan percuma."


"Saat ini yang bisa kulakukan adalah mendoakan semoga kamu hidup bahagia bersamanya.."


"Biarlah ku simpan perasaan cinta dan rindu ku, serta semua kenangan indah kita di dalam hati ku saja.."


"Selamat tinggal Vi,..Semoga kamu bisa hidup bahagia selamanya.."


Tiba-tiba kembali terdengar suara pembawa acara berkata,


"Para tamu undangan sekalian, mari kita semua bersulang untuk kebahagiaan pasangan pengantin kita,.. Rio dan Viona..!!"


Andi tersenyum pahit, dia menyambar sekaleng bir Hitam yang ada di hadapannya.


Lalu Andi mengangkat kaleng itu tinggi tinggi, dan berkata pelan,


"Aku mengucapkan selamat untuk mu..Vi.."


"Sekali lagi, untuk terakhir kalinya perjumpaan kita, ada jodoh tapi tidak ditakdirkan bersama.."


"Semoga bahagia..."


ucap Andi sedih.


Lalu dia menegak sampai habis sekaleng bir itu, setelah itu dengan sekali remas kaleng itu pecah berkeping-keping.

__ADS_1


Pecahan kaleng itu melukai telapak tangannya yang berdarah.


Tapi Andi seolah tidak merasakan nya, karena luka di hatinya jauh lebih parah ketimbang luka di tangannya yang berdarah.


Setelah bersulang terakhir buat Viona, Andi dengan perasaan hampa dan tubuh terhuyung-huyung berjalan seorang diri meninggalkan ruangan pesta.


Violin tanpa berkata apa-apa, dia berlari kecil menyusul Andi dari belakang.


Dia tahu bagaimana hancurnya perasaan Andi, dia tidak mau mengganggunya, hanya mengikutinya saja kemanapun Andi melangkah.


Viona di atas mimbar bukannya tidak melihat, tentu dia melihat semuanya.


Bahkan sejak awal memasuki ruangan pun, diam diam dia sudah melihat dan memperhatikan Andi, dengan perasaan penuh sesal dan sedih.


Tapi dia juga tidak berdaya, hanya bisa menangis sedih di dalam hati, melepas kepergian kekasih yang sangat dia cintai itu.


Dan berharap Andi bisa secepatnya melupakan dirinya.


Tapi Viona tidak tahu, hati dan perasaan Andi sudah terkunci rapat rapat oleh dirinya.


Jadi harapan nya tidak pernah mungkin bisa terwujud, kecuali Andi mati ataupun lupa ingatan.


Melupakan semua nya, baik dirinya sendiri maupun semua kenangan tentang Viona.


Andi yang berjalan terhuyung-huyung hingga ke balik mobilnya, langsung memuntahkan semua bir yang di minumnya tadi.


Setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya, Andi berjongkok sambil bersandaran lemas di balik mobilnya.


Violin yang tiba di sana berdiri diam di samping Andi, tanpa berkata apa-apa, dia menyodorkan selembar tissue buat Andi.


Andi menerimanya, lalu menghapus sisa bekas muntahan di bibirnya, dan berkata,


"Makasih Lin, maaf membuat mu harus melihat semua kebodohan, kekonyolan yang memalukan ini.."


"Tidak kak sebaliknya violin sangat kagum, dengan keberanian dan pengorbanan kakak, yang begitu besar buat kebahagiaan kak Viona..'


"Kak Viona sungguh beruntung..bisa mengenal kak Andi.."


ucap Violin jujur sambil menatap Andi dengan penuh simpati.


"Terimakasih Lin, bagi mu mungkin ya."


"Tapi bagi orang sedunia, aku adalah sebuah lelucon besar, yang patut di tertawakan dan sangat menyedihkan."


"Aku tidak takut di benci dan ditertawakan oleh orang sedunia, tapi yang aku sulit terima adalah pada akhirnya semua jadi percuma.."


"Yang tersisa hanya ke hampaan kekosongan dan kesepian tak berujung.."


ucap Andi sambil membenamkan kepalanya di balik lengannya, dan menangis sedih seperti anak kecil.


Ini semua terjadi karena Andi dalam keadaan antara sadar dan tidak.


Andi masih berada dalam pengaruh alkohol bir, yang di paksa minumnya tadi.


Violin ikut berjongkok di samping Andi, tanpa berkata apa-apa, dia dengan penuh perhatian membersihkan luka di tangan Andi.


Menaburkan obat luka, kemudian menggunakan kasa perban membungkus nya dengan rapi.


Violin setelah beberapa kali menyaksikan Andi terluka dalam pertarungan.


Belajar dari pengalaman itu, dia selalu menyimpan beberapa perlengkapan P3K di dalam tasnya, untuk keperluan keperluan mendadak bila Andi terluka.


Dan secara kebetulan saat ini, semuanya jadi terpakai.


Violin selalu fokus mendalami ilmu kedokteran dari Ronaldo, sehingga ilmu ilmu perawatan pertama begini dia sudah menguasainya dengan baik.

__ADS_1


Jadi bukan hal sulit baginya untuk merawat luka Andi.


Andi tidak perduli dengan apa yang di lakukan Violin pada tangannya, dia hanya terus menangis sedih.


__ADS_2