AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
VIOLIN DEMAM


__ADS_3

Violin menggelengkan kepalanya, tapi dia tidak bisa menjawabnya masih terus menangis sedih.


Andi menyentuh lembut bahu Violin yang berkulit halus dan menciumi nya dengan lembut.


"Lin jangan bersedih lagi, ini murni salah kakak maafkanlah kakak, kamu mau kan.."


"Kegagalan adalah awal dari pembelajaran menuju ke kesuksesan.."


"Mari kita lupakan, dan kita bisa mencobanya lagi lain waktu."


"Kakak yakin semua pasti akan lebih baik.."


ucap Andi dengan lembut penuh kesabaran.


Violin membalikkan badannya, kemudian memeluk Andi erat-erat, sambil terisak, dia berkata pelan.


"Ini bukan salah kakak, ini salah Violin yang tidak bisa menjadi istri yang baik.."


"Violin sangat malu kak,.."


ucap Violin sedih sambil terisak.


Andi memeluk dan mendekapnya sambil terus menciumi kepala Violin dengan lembut.


"Itu pikiran yang salah, Lin lupa dengan sumpah pernikahan kita di depan pendeta.."


"Ini cuma masalah kecil, apanya yang perlu di buat malu.."


"Kita suami istri, sudah sewajarnya kita menikmatinya, kenapa harus malu.. dan merasa bersalah.."


"Apalagi yang menjadi biang keladinya adalah suami mu.."


"Sudah kita saling memaafkan, jangan bersedih lagi.."


"Sekarang lebih baik kita beristirahat dengan puas.."


"Besok malam kalau Lin sudah segar badannya kita bisa coba lagi.."


"Ok? jangan bersedih lagi, kalau kamu bersedih kakak pasti semakin menyesal dan merasa bersalah pada mu.."


Violin mengangguk kecil dan mengeratkan pelukannya dan berkata,


"Makasih kak pengertiannya, sekarang Lin sudah jauh merasa lebih enak.."


"Kak mengapa kakak bisa tahu begitu banyak dan terlihat sangat ahli.."


"Apa sewaktu kakak di Nanjing, putri bos Wang Nicole itu yang mengajari kakak.."


"Dia kelihatannya sangat mencintai kakak, mungkin dia tidak bisa melupakan permainan kakak kali ya ?"


ucap Violin yang kembali menjadi cerewet penasaran dan menaruh curiga.


Andi tersenyum, dan berkata,

__ADS_1


"Lin tataplah kakak, kakak akan menjelaskan sejujurnya pada mu."


"Semua nya sejujur jujurnya.."


Violin akhirnya mengangkat wajahnya dengan malu malu melirik kearah Andi.


Andi tersenyum lebar melihat gaya yang di tunjukkan oleh istri kecilnya ini.


"Sayang yang mengajari ilmu sesat ini bukan Nicole kamu jangan salah faham.."


"Yang mengajari ku adalah Berry, dan Berry belajar ilmu ini dari artis artis bule manca negara, yang datang ke Hollywood mengadu nasib."


Violin mulutnya sedikit terbuka mendengarnya, dia sangat kaget dan tidak menyangka.


Pantas saja Andi yang biasanya begitu polos bisa menjadi begitu agresif hingga dia benar benar kuwalahan habis habisan..


Seluruh tubuhnya sampai kini masih sakit sakit dan pegal pegal.


Terutama di bagian yang sempat kram sampai sekarang pun masih terasa agak nyeri, bila bergerak berlebihan masih terasa seperti mau kram.


Ini adalah pertama kalinya Violin merasakan hal itu hingga lima kali, mungkin itu adalah yang sering di sebut or gas me di majalah dewasa .


pikir Violin dalam hati.


Melihat reaksi Violin Andi pun berkata,


"Lin percaya lah aku dan Nicole tidak punya hubungan apa apa, "


"Dia memang sangat baik, dan sangat tulus mencintai ku, sama seperti kamu mencintai ku.."


"Dia pun sudah menyadari hal itu dari awal pertemuan kita.."


"Karena tidak pernah bisa menerima nya itu lah, makanya, aku pindah ke Swiss dan memilih mengundurkan diri dari perusahaan ayahnya.."


"Tapi ayahnya tidak mengijinkan ku berhenti total, jadi aku kini hanya menjadi konsultan perusahaannya dan saham ku di sana masih tetap aktif.."


ucap Andi menjelaskan.


Violin mengangguk dan berkata,


"Dia sangat cantik kak, sangat mirip dengan artis Yang Mi.."


"Andai kata kakak tak mengenali ku lebih dulu, mungkinkah..?"


tanya Violin sambil tersenyum penuh arti.


Andi menghela nafas panjang dan berkata,


"Ini adalah andai tapi semuanya hanya bisa andai dan tidak mungkin terjadi.."


"Hanya ada dalam khayalan seperti cerita novel cinta.."


"Bila aku mengenalnya lebih dulu ketimbang kakak mu dan kamu, aku pasti akan bersama nya.."

__ADS_1


"Andai kata, kamu tidak datang mencari ku, sudah hidup bahagia bersama DoDo memiliki keluarga kecil yang harmonis."


"Sedangkan aku tidak sedang di ujung tanduk nyawaku, aku pasti akan mencoba membuka pintu hati ku menerimanya..'


ucap Andi sejujurnya.


Meski sedikit menyakitkan dan ada perasaan cemburu, tapi Violin menghargai kejujuran Andi.


Kejujuran terkadang memang menyakitkan, tapi ketimbang menutupinya dengan kebohongan, saat ketahuan tentu akan jauh lebih menyakitkan.


"Nah sekarang, ayo mari kakak temani kamu tidur.."


"Jangan berpikir yang bukan bukan lagi, mulai saat ini hingga akhir nanti, kakak selamanya hanya milik mu seorang.."


ucap Andi sambil memegangi wajah Violin lalu mendaratkan ciuman mesra nya.


Andi tidak berani berlama, dia paham kondisi Violin tidak memungkinkan untuk itu.


Meski dia sangat ingin, terpaksa dia harus menahan diri.


Setelah melakukan kiss ringan Andi pun mengajak Violin untuk kembali tidur.


Jam 6 seperti biasa, Andi pun sudah bangun, melihat Violin masih pulas.


Andi pun tidak menganggunya, Andi memutuskan sendirian kembali kerumah, mengambil semua perlengkapan dan pakaian mereka berdua untuk di bawa ke hotel.


Saat Andi kembali lagi ke hotel sudah jam 9 an, tapi saat menemukan Violin masih tidur tertutup selimut tebal dengan wajah basah keringat.


Andi buru-buru memegangi dahi dan leher Violin, menemukan tubuh Violin begitu panas.


Sadarlah Andi hiburan semalam yang berlebihan telah membuat istri nya kelelahan hingga demam.


Andi buru-buru mengambil obat anti demam, yang dia bawa dari rumah buat jaga jaga.


"Sayang bangunlah sebentar, minumlah obat ini, biar demam mu cepat turun.."


ucap Andi sambil membantu Violin untuk bangun duduk, dan memberikan segelas air putih dan sebiji obat demam ke telapak tangan Violin.


Violin tanpa membantah langsung meminumnya.


Dia sebenarnya juga sadar dirinya sedang demam tinggi, tapi selain diam tidur menunggu Andi kembali.


Dia tidak punya cara lain, karena seluruh tubuhnya sakit semuanya, sangat sulit di gerakkan, apalagi mau turun dari ranjang.


Kepalanya juga terasa pusing, bila dia bangun untuk sekedar duduk, selain itu dia juga sadar di kamar hotel ini tidak ada obat.


Tiada pilihan lain baginya, dia hanya bisa diam tiduran menunggu andi kembali.


Dia yakin bila Andi kembali, Andi pasti akan mengurusnya, Andi juga tidak mungkin meninggalkan dirinya pergi berlama-lama.


Dia terlalu paham dengan Andi suaminya, makanya dia tenang tenang saja berbaring di balik selimut.


Setelah Violin minum obat demam, Andi membantunya berbaring lagi, lalu Andi pergi kekamar mandi menyiapkan kompresan untuk mengompres dahi dan leher Violin.

__ADS_1


Selain itu Andi juga membantu Violin berganti baju dan membantu memakaikan kaos kaki agar tubuh Violin tidak kedinginan..


__ADS_2