AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
GALAU


__ADS_3

",Baik pak silahkan terimakasih,.."


ucap Andi sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan sopan.


Viona memegang tangan Andi dengan lembut, dan berkata,


"Di,.. mendekat lah, aku sangat ingin memeluk mu.."


Andi mengangguk, lalu dia berjongkok di samping kursi roda Viona, sehingga Viona bisa memeluk dan menciumi pipi dan kening Andi untuk meluapkan perasaannya.


Andi juga membalas memeluk Viona dengan lembut dan berkata,


"Tak ada yang perlu di sesali, yang lalu tak mungkin kembali.."


"Kenangan lama hanya untuk mengingatkan kita, betapa beruntung dan bahagia nya kita saat ini, masih bisa bersama sama menjalani hari bahagia.."


"Bukan untuk di sesali,.."


Viona mengangguk dan berkata,


"Kamu benar sayang, aku hanya terlalu terharu saja."


Perlahan-lahan dia melepaskan pelukannya dan berkata,


"Yuk di,.. kita jalan lagi"


Setelah puas berkeliling di area SD, mereka berdua melanjutkan bernostalgia ke area SMP.


Di,..di sebelah sana dan sana kamu.."


ucap Viona sambil menutupi mulutnya sendiri menahan tawa.


"Ya,.. "


ucap Andi sambil tersenyum.


"Di sebelah sana aku membentur tiang itu karena kamu tersenyum pada ku.."


"Di sebelah situ aku jatuh kedalam selokan karena kamu mengedipkan mata dan tersenyum pada ku,.."


"Hari itu aku terpaksa pulang dan bolos sekolah..karena seluruh seragam ku kotor dan bau.."


ucap Andi sambil tersenyum mengingat pengalaman nya dulu.


"Dan gadis penggoda itu kini adalah istri ku ."


ucap Andi sambil tersenyum dan menciumi pipi Viona.


"Di aku ingin kamu menggendong ku, melihat ke kelas kelas itu boleh."


ucap Viona manja.


Andi mengangguk, lalu dia berjongkok memunggungi Viona.


Tak lama kemudian Andi sudah menggendong Viona di punggungnya, mengelilingi satu persatu kelas mereka dahulu.


Karena proses belajar mengajar sedang berlangsung, mereka berdua tidak berani bercakap-cakap.


Mereka hanya melihat lihat dan berkeliling saja, agar tidak menganggu proses belajar dan mengajar di sana.


Setelah semua kelas terkelilingi, mereka berdua pun memutuskan meninggalkan sekolah tersebut.


Di,.. jangan langsung pulang aku ingin berkeliling melihat kota J.."

__ADS_1


ucap Viona pelan sambil menatap kearah jendela.


Andi mengangguk, lalu dia membawa mobilnya berkeliling kota J, hingga Viona tertidur di dalam mobil.


Andi baru mengendarai mobil nya kembali kerumah orang tua Viona.


Saat tiba di halaman depan rumah, Andi sedikit tertegun melihat mobil Maybach yang sangat di kenal nya itu.


Tidak salah lagi batin Andi dalam hati, itu pasti mobil Violin.


Dengan perasaan tidak enak hati, Andi menggendong Viona turun dari dalam mobilnya.


Lalu menggendong nya melewati teras dan masuk kedalam rumah.


Di ruang tamu sana terlihat ada Violin Ronaldo juga prof Peter, sedang asyik ngobrol dengan papa dan mama Viona.


Kedatangan Andi membuat semua orang menoleh kearah nya, Andi menganggukkan kepalanya kearah semua orang.


Lalu dia terus menggendong Viona berjalan masuk kedalam kamar nya.


Andi dan Violin sempat bertemu pandang sejenak, mereka berdua sama sama terlihat agak canggung dan tidak tahu mau berkata apa.


Mama Viona lah yang bangun dari duduknya menghampiri Andi dan berkata, dengan cemas


"Viona kenapa di,..?"


Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Hanya tertidur saja ma.."


Mama Viona mengangguk dan berkata,


"Kalau perlu apa panggil saja di,.."


"Terimakasih ma,.."


Setelah itu Andi pun menghilang kedalam kamar.


Violin diam diam terus memperhatikan semua gerak gerik Andi.


Ronaldo yang menyadari hal itu, dia menyentuh tangan Violin dengan lembut.


Saat violin menoleh kearahnya sambil tersenyum pahit.


Ronaldo menggelengkan kepalanya memberi kode pada Violin jangan perdulikan Andi dan Viona.


Violin mengangguk sambil tersenyum pahit.


"Jadi bagaimana bila acara pernikahan nya di buat bulan depan saja ?"


tanya prof Peter sambil tersenyum.


Papa dan mama Viona saling pandang, kemudian mama Viona berkata,


"Kami pada dasarnya tidak berkeberatan, semua kembali pada keputusan putri kami Violin.."


"Bila dia setuju, kami pun setuju.."


Prof Peter menoleh kearah Violin dan berkata,


"Bagaimana pendapat mu nak Violin..?"


Violin terdiam, kepalanya tertunduk kebawah, dia terus meremas jari jemari tangannya sendiri.

__ADS_1


Violin terlihat gelisah dan ragu ragu, untuk memberikan keputusan.


Hingga Ronaldo akhirnya kembali menyentuh tangan nya dengan lembut.


Violin baru mengangkat kepalanya menatap kearah wajah Ronaldo dengan sepasang mata sedikit berkaca kaca.


Melihat tatapan mata Ronaldo yang lembut dan penuh harap.


Violin akhirnya menghela nafas panjang dan berkata,


"Semua mengikuti pengaturan dari prof saja.."


"Maaf prof,.. maaf DoDo,.. Lin mau kembali ke kamar dulu.."


ucap Violin memberi hormat dengan menganggukkan kepalanya.


Kemudian dia langsung berlalu masuk kedalam kamar nya.


Violin begitu masuk.kedalam kamar, dia langsung mengunci pintu kamar.


Menjatuhkan diri nya tengkurap di atas kasurnya, menutupi wajahnya dengan guling dan bantal.


Dia menangis dengan sedih dalam diam, hanya terlihat bahunya yang terus berguncang hebat.


Dia telah menunggu Andi sekian lama tanpa kepastian, penantian nya selama 7 tahun dalam sekejab kalah dengan pertemuan Andi dengan kakaknya Viona, yang hanya beberapa jam, tentu hatinya sangat sedih dan terluka.


Dia telah berulang kali memberi Andi kesempatan untuk kembali kesisinya.


Tapi hingga batas waktunya lewat,.Andi tetap tak kunjung kembali ke sisinya.


Andi juga tidak pernah memberinya kepastian, Andi juga tidak pernah berinisiatif menghubunginya.


Seolah-olah seluruh waktu dan hidup Andi hanya sepenuhnya di berikan kepada kakaknya.


Violin sangat kecewa, dia juga sangat iri terhadap kakaknya yang bisa mendapatkan perhatian yang begitu besar dan tulus dari Andi.


Meski perih sakit dan tidak rela, Violin terpaksa harus belajar merelakan Andi.


Dia harus menata ulang perasaannya terhadap DoDo, yang selama ini memang sangat setia dan tulus mencintai dan menanti dirinya.


Tapi tidak tahu kenapa, setelah tanggal pernikahan mereka di tetapkan, dia malah merasa sangat tidak bahagia dan sedih..


Sehingga dia akhirnya hanya bisa menangis seorang diri di kamar nya.


Melampiaskan semua kekesalan, kesedihan, kekecewaan dalam sebuah tangisan panjang dalam diam.


Andi sendiri yang berbaring di dalam kamar di samping Viona, dia juga terlihat termenung sambil tersenyum pahit.


Adalah dia yang mencampakkan dan meninggalkan gadis yang begitu tulus mencintai nya.


Tapi entah kenapa saat melihat situasi, di mana dia akan segera menjadi milik orang lain, hati Andi merasa tidak rela dan sangat sedih.


"Di,.. di,.. kamu adalah bajingan egois yang paling tidak masuk akal.."


"Jangan bersikap memalukan.."


ucap Andi dalam hati memaki maki dirinya sendiri.


Andi akhirnya menghela nafas pelan, kemudian mencoba memejamkan matanya dan berusaha berpikir lebih jernih.


Beberapa saat kemudian Andi sudah mulai bisa tersenyum, dia lalu menatap kearah Viona dan bergumam kecil.


"Maafkan aku sayang.."

__ADS_1


__ADS_2