
"Kentut,..! kamu tentu membelanya karena kalian berada di perahu yang sama..!"
teriak Joni mencoba memprovokasi
Keempat kepala desa dan putra Tang Lung langsung berdiri dari kursi dan menunjukkan dukungan mereka kepada Joni.
"Cepat kamu tarik ucapan mu, dan berlutut minta maaf, bila tidak pembicaraan tidak perlu di lanjutkan..!!"
teriak Joni sambil menunjuk pak Yang.
Joni selain berusaha memprovokasi, dia juga memanfaatkan situasi itu, untuk balas dendam pada pak Yang..
"Andi menggelengkan kepalanya, lalu berkata pak Jimmy Huang bagaimana menurut mu..?"
Jimmy Huang berdehem kecil, lalu bangkit berdiri dan berkata,
"Siapa yang berani maju menjamin orang lain, selamanya tidak akan pernah melakukan kesalahan dan perbuatan melanggar hukum.."
"Bila ada boleh berdiri keluar, bila kelak ada salah satu dari warga keempat desa yang terbukti melakukan perbuatan hukum."
"Biar anda yang menggantikannya menerima hukuman, bagaimana siapa ?"
"Kamu Joni, apa kamu Asu, atau ada di antara kalian yang lain yang mau maju ngasih jaminan..?"
Mendengar tantangan dari Jimmy Huang kepala inspektur kepolisian, semua langsung tertunduk tidak ada yang berani bersuara..
Melihat situasi sudah kembali tenang, Jimmy Huang pun memberi kode agar Andi melanjutkan berbicara.
Andi mengangguk dan berkata,
"Terimakasih pak Jimmy, "
Lalu Andi menatap ke perwakilan warga dan berkata,
"Mengenai masalah yang di kemukakan oleh pak Yang saya sudah memikirkan solusinya."
"Nanti di sepanjang pinggir parit sebelah pabrik, akan di buat pagar kawat yang di aliri listrik tegangan tinggi."
"Selain itu akan ada dua pos menara pengawas di sana.."
"Itulah solusi untuk keamanan pabrik."
ucap Andi.
Pak Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tapi pak Andi pagar kawat listrik biayanya tidak kecil, apa kamu yakin..?"
Andi tersenyum dan berkata,
"Bila hal itu, nanti kita akan cari solusinya, tapi hal itu kita tidak bahas disini, ok..?"
Pak Yang mengangguk lalu kembali duduk di kursinya, tanpa membantah lagi.
Joni juga bungkam setelah di ancam balik oleh Jimmy Huang.
__ADS_1
Tang Lung kembali berkata,
"Baiklah bila tidak ada tanggapan lain, saya anggap tuntutan kedua sudah selesai ya..?"
"Aku akan masuk ke tuntutan ketiga.."
Setelah mengedarkan pandangannya sejenak, Tang Lung kemudian berkata,
"Tuntutan ketiga adalah kami meminta pabrik memprioritaskan tenaga pekerja dari keempat desa sekitar.."
Andi tersenyum mendengar tuntutan ketiga ini, sesaat kemudian dia baru berkata,
"Pabrik ini kelak adalah pabrik otomotif, semua orang berprestasi rajin jujur dan memiliki skill sesuai kebutuhan pabrik, tentu akan selalu jadi prioritas kami."
"Bila keempat desa memiliki orang yang seperti di atas, silahkan kirim lamarannya, setelah melalui tahap seleksi.."
"Mereka terbukti memiliki kemampuan dan semua yang dituntut oleh standar pabrik kami.."
"Tentu mereka akan di terima, tapi bila orang seperti ini dan ini.."
ucap Andi sambil menyalakan layar monitor.
Di mana di sana terlihat Joni dan beberapa rekannya terlihat sedang merokok minum hingga teler.
Lalu mereka molor di saat semua karyawan lain sedang sibuk bekerja.
Tak lama kemudian .muncul pak Yang datang menegur mereka, karena Joni melawan dan ingin memukul pak Yang, akhirnya Joni di usir oleh pihak keamanan pabrik.
Joni langsung pucat wajahnya melihat tayangan dirinya muncul di layar monitor.
Joni langsung memandang kearah Andi dengan geram dan penuh emosi.
Dia langsung menerkam kearah Andi dan berteriak,
"Bangsat penghianat,..!!"
"Berani kau menjebak ku,.!!?"
Tapi terkaman Joni, disambut oleh Andi dengan santai,. dengan mudah Andi melempar tubuh joni.
Membentur tembok lalu jatuh terkapar diatas lantai dengan kondisi babak belur.
Tang Lung sebagai ahli kungfu, dia menatap kearah Andi dengan kaget.
Dia tidak menyangka pemuda lumpuh yang kelihatannya biasa biasa saja ternyata adalah seorang ahli yang bila kakinya tidak lumpuh.
Mungkin bisa menandingi dirinya.
Setelah melempar Joni hingga babak belur, Andi baru menoleh kearah yang lain dan berkata,
"Itulah keputusan ku atas tuntutan ketiga, perusahaan ku ini didirikan dengan modal besar, bukan untuk main main dan memelihara karyawan yang tidak produktif."
"Bila ada yang tidak setuju silahkan saja, tapi bila berani menganggu baik lewat jalan hukum maupun jalan kekerasan aku tidak akan mundur selangkah pun."
"Manusia cacat yang sombong, kalau aku mau main kekerasan kamu bisa apa,..!?"
__ADS_1
teriak putra Tang Lung.Kalu dia pun mulai memainkan beberapa jurus keluarganya, sebelum maju melepaskan beberapa pukulan dan tendangan kearah Andi.
Andi menunggu hingga serangan Asu mendekat, lalu dengan satu hentakan tangannya yang berisi Fu Mo Se San Cang kedepan.
Tubuh Asu langsung terbang terpental hampir menabrak jendela, tapi keburu di tangkap oleh Tang Lung.
Tang Lung dengan kesal membanting tubuh Asu keatas lantai dan berkata,
"Berlutut kamu disini,..! Dasar memalukan.."
Tang Lung kemudian menjura kearah Andi dan berkata,
"Maafkan sikap putra ku yang tidak sopan.."
Andi tersenyum dan berkata,
"Bukan masalah pak Tang, tak perlu terlalu di pikirkan."
"Pak Andi sebagai seorang ahli bela diri bolehkah saya, meminta sedikit petunjuk dari pak Andi, untuk mengobati rasa penasaran di hati saya..?"
"Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Maaf pak Tang, aku tidak bisa menerimanya lebih baik kita kembali ke pokok permasalahan saja.."
Tang Lung yang mendapatkan jawaban Andi merasa penasaran juga kecewa.
Tapi dia juga tidak bisa memaksa, pertandingan adu kepandaian harus di sepakati bersama.
Bila salah satu pihak terus memaksa dan yang lainnya menolak, itu hanya akan membuat yang memaksa terlihat sebagai penindas.
Dia tidak bisa melakukan hal itu, itu akan membuat nya jatuh kedalam dosa merusak nama baik leluhur.
Andi tanpa memperdulikan reaksi Tang Lung, dia kembali berkata,
"Itulah keputusan ku, atas tuntutan ketiga, bagaimana ada yang punya pendapat lain..?"
Keempat pria perwakilan desa tidak berkata apa-apa, menurut mereka penjelasan Andi sudah cukup memuaskan.
Mengenai tuntutan ketiga meski untuk kepentingan warga, tapi itu juga sedikit kelewatan bila terlalu di paksakan.
Dimana yang mau bekerja tidak memiliki kemampuan bagaimana mau di paksakan.
Apalagi setelah ada perwakilan dari desa mereka yang cuma membuat malu seperti Joni.
Mereka memang tidak punya alasan kuat untuk memaksa kan tuntutan ketiga mereka itu.
Keempat kepal desa menjadi ragu, setelah melihat Joni dan Asu habis di permalukan oleh Andi.
Mereka khawatir bila memaksa, mereka bisa jadi akan di permalukan seperti Joni.
Bila itu terjadi, bagaimana mereka akan punya muka bertemu dengan warga.
Andi bisa punya rahasia Joni dan Asu, bukan tidak mungkin rahasia mereka juga di pegang oleh Andi.
Memikirkan hal itu, keempat kepala desa memilih bungkam.
__ADS_1