AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
KEDATANGAN JAMES DILOKASI


__ADS_3

Mendapatkan jawaban yang dingin dan agak kasar itu, Santi pun mundur teratur dengan wajah bersungut-sungut,


Dia terpaksa kembali ketempat duduk yang di sediakan khusus buat pasien.


Santi memilih tempat duduk paling belakang dan pojok, sambil duduk di sana, Santi mengedarkan pandangannya melihat kearah para pasien yang sedang duduk menunggu Dokter sama seperti dirinya..


Di sana Santi melihat ada 3 pasien ibu ibu berumur 40 an yang terlihat kusut, dari pakaian dan wajah mereka bisa terbaca mereka berasal dari keluarga kurang mampu.


Di sana juga ada 4 pasangan yang berpakaian seragam sekolah, mereka terlihat takut-takut dan cemas.


Terutama wajah ke empat gadis muda yang masih SMA itu, wajah mereka terlihat pucat dan cemas ketakutan.


Sesekali mereka akan menyandarkan kepala mereka dalam pelukan pria yang mendampingi mereka.


Menurut Santi kemungkinan besar pria pria itu lah pelaku tidak bertanggung jawab, yang hanya mau enaknya sendiri itu.


Tapi bagaimana pun, kondisi mereka masih jauh lebih baik ketimbang dirinya, yang bahkan tidak tahu siapa pelaku dan ayah kandung calon bayi di dalam kandungan nya ini.


Selain ke 7 orang tadi masih ada 3 pasien lain yang merupakan gadis kuliahan sama seperti dirinya.


Dua di antaranya datang di temani om om berusia 40 an.


Sedangkan satu lagi datang bersama pria yang seusia dengan nya, kemungkinan mereka adalah pasangan anak kuliahan.


Santi menghitung hitung jumlah pasien yang menunggu di sana hanya ada 10 orang, berarti dua pasien lainnya, bila tidak mundur ada kemungkinan mereka belum datang.


Tak lama kemudian, satu persatu pasien mulai di panggil kedalam, padahal Santi belum melihat kapan dokter itu datang.


Santi berpikir Dokter pasti datang dari arah lain, yang langsung masuk keruangan prakteknya, tanpa melewati ruang tunggu pasien.


Pasien pertama yang di panggil masuk adalah seorang mahasiswi cantik yang datang di temani oleh seorang Om Om, berusia sekitar 40 an tahun.


15 menit setelah mereka berdua masuk kedalam, hanya terlihat si Om Om yang berjalan keluar dari dalam ruang praktek.


Sedangkan si gadis tidak ikut keluar, setengah jam kemudian pasien kedua adalah sepasang anak SMA kembali di panggil untuk masuk.


Setelah 15 menit si pria pun keluar sama seperti si Om Om tadi,.


Hal itu terus berlangsung hingga pasien ke 6 di panggil masuk, gadis pertama tidak juga kunjung keluar dari dalam ruangan praktek.

__ADS_1


Hanya pasangan pria mereka yang keluar setiap 15 menit setelah mereka berdua masuk.


Santi terus mengamati semua hal itu, dengan perasaan takut dan cemas sepasang tangannya terasa sangat dingin.


Akhirnya Om Om yang yang pasangannya menjadi pasien pertama tadi, di panggil masuk kedalam ruangan praktek oleh petugas yang menjadi asisten sang dokter di dalam ruangan tersebut.


Maka masuklah bapak itu, tidak sampai 5 menit, keluarlah bapak itu sambil merangkul mahasiswa cantik itu, yang kini wajah nya sepucat kertas.


Terlihat mahasiswi itu terus mengerutkan alisnya dan mengigit bibir bawahnya, seperti menahan rasa nyeri.


Mahasiswi itu berjalan dengan sangat pelan dan lemah, dia juga terlihat terus memegangi perut bawahnya seperti menahan nyeri hebat di bagian tersebut.


Menyaksikan hal itu wajah Santi semakin pucat ketakutan, jantungnya berdetak dengan sangat cepat seolah olah mau copot dari tempat nya.


Sepuluh menit kemudian terlihat pasangan pria yang menjadi pasien kedua yang terlihat masih mengenakan seragam SMA di panggil masuk kedalam ruangan praktek.


Lima menit kemudian, pasangan anak SMA itu keluar dari dalam ruangan praktek, dengan kondisi lebih mengenaskan lagi.


Gadis SMA itu terus menangis dan merintih mengeluhkan perut bagian bawah nya, yang kesakitan kepada pasangan pria yang membantunya berjalan.


Santi sampai tidak berani melihat kondisi yang ada di hadapannya itu.


Bila tidak di tangani dengan baik, bisa merusak rahim dan terjadi pendarahan dengan resiko kehilangan nyawa.


Dalam kondisi ringan ada kemungkinan kelak akan kesulitan punya anak lagi, tapi dalam kondisi berat pasien setiap waktu bisa menanggung resiko kehilangan nyawa.


Teringat hal ini Santi semakin ketakutan dan gelisah, dia terus meremas sepasang tangannya yang semakin dingin.


Di saat Santi sedang berada di puncak dilema, tiba-tiba dari arah depan melangkah masuk seorang pria bertubuh tinggi besar, mengenakan setelan jas dan celana panjang hitam mewah sangat rapi dan elegan.


Pria itu menyapukan pandangannya, saat menemukan yang di cari nya,


Pria itu tanpa berkata apapun, langsung melangkah kan kakinya mendekati Santi.


Lalu dia langsung menggendong Santi meninggalkan tempat tersebut.


Santi yang sangat terkejut dengan kehadiran James di tempat itu, semakin terkejut saat James tanpa bicara apapun langsung membungkuk menggendong dirinya, seperti sedang menggendong bayi.


Santi sampai berteriak kaget, menanggapi sikap yang dilakukan oleh James padanya.

__ADS_1


Tapi Santi tidak bisa meronta atau menolak nya, karena takut jatuh, dia malah melingkar kan tangan kanannya di belakang leher James, sedangkan tangan kirinya memegang jas di bagian dada James dengan erat.


"James apa apa an...!?"


"Cepat turunkan aku,..!? memalukan di lihat oleh semua orang..!"


teriak Santi dengan suara tertahan.


"Kamu mau membawa ku kemana ?!"


tanya Santi setengah berteriak dengan wajah merah padam menahan malu, karena mereka kini menjadi pusat perhatian orang orang.


Petugas penjaga pendaftaran ikut berdiri dari kursinya dan berteriak dengan galak,


"Hei,..! nomor antriannya kembalikan dulu bila mau pergi dari sini..!"


James tidak menyahut atas teriakan dan sikap penolakan dari Santi.


Tapi saat mendengar teriakkan petugas pendaftaran itu.


Dia menoleh kearah belakang, mengedikkan kepalanya keatas sedikit, sehingga kacamata hitam nya terangkat keatas kepala nya.


Sepasang mata nya yang mencorong tajam bagaikan mata seekor naga sakti marah. langsung kontan membuat gadis jutek penjaga pendaftaran itu jatuh terduduk keatas kursinya dengan ketakutan.


Seperti habis melihat Monster yang Setiap saat akan melahap dirinya hingga habis tanpa sisa.


Dia ketakutan hingga tidak bisa bersuara, hanya terdengar suara gigi gemerutukkan gigi beradu, karena mengigil ketakutan.


James sambil menggendong Santi, dia merebut kartu nomor antrian di tangan Santi.


Tanpa berkata apa-apa dia langsung melemparkan kartu pasien yang ringan dan lembek karena hanya terbuat dari potongan plastik tipis.


Tapi kartu itu dengan anehnya bisa menancap di dinding dekat kepala si penjaga kartu, yang terlihat semakin pucat ketakutan, bahkan kini dia terlihat berhenti bernafas.


Tanpa memperdulikan keterkejutan semua orang, James mengedikkan sedikit kepalanya kebawah.


Sehingga kacamata nya kembali ke posisi semula.


Dengan tenang dia melangkah meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2