
Andi tersenyum pahit dan berkata,
"Andi paham maksud Tante, Tante tidak perlu khawatir."
"Aku tidak akan melakukan perbuatan yang bakal membahayakan Viona dan keluarganya."
"Mama...!"
tegur Violin kurang puas.
Tapi Mama Viona tidak memperdulikan reaksi putrinya.
Dia kembali berkata,
"Terimakasih banyak nak Andi atas pengertian mu, Tante benar kagum dengan sikap mu..tapi dalam hal ini, Tante juga tidak bisa apa-apa, mungkin ini semua adalah takdir hubungan mu dan Viona harus berakhir seperti ini.."
Andi menganggukkan kepalanya, tanpa berkata apa-apa, Andi cukup maklum mengapa Mama Viona bersikap demikian.
Semua ini demi keutuhan dan kepentingan keluarga nya.
Memang sekilas terlihat egois, tapi Andi bisa memaklumi dan memahaminya.
Dia sama sekali tidak menyalahkan sikap yang di ambil mama Viona.
Berbeda dengan Andi, Violin terlihat sangat marah dan tidak puas dengan sikap mamanya yang di luar prediksi nya.
Violin tidak menyangka mamanya bisa bersikap seperti itu terhadap Andi, Violin merasa sangat malu dan tidak enak hati dengan Andi.
Dia benar-benar sangat menyesal telah membawa Andi datang bertemu mamanya.
Tentu saja mama Violin tahu anaknya sangat marah dan tidak puas dengan sikap nya.
Tapi dia pura-pura tidak tahu dan tidak mau menanggapinya.
"Nak Andi sekarang kuliah di mana ? Nak Andi masih ikut kegiatan badminton..?"
tanya Mama Viona kembali.
"Saya kuliah malam di kampus T Tante, saya sudah gak ikut kegiatan badminton lagi Tante."
""Terus pagi sampai sore, kamu isi dengan kegiatan apa selama ini ?"
tanya Mama Viona curiga sambil melirik Violin.
Andi paham mama Viona pasti menyangka, dia pengangguran yang hari hari cuma di isi dengan kegiatan mendekati putri ke 2 nya.
Sehingga Violin terlihat begitu nempel dan dekat dengan nya.
Andi meski sedikit tidak puas dengan cara pandang mama Viona, tapi dia memaklumi kekhawatiran seorang ibu, terhadap pergaulan anaknya.
Ini adalah sikap proteksi seorang ibu terhadap anak.
__ADS_1
Jadi Andi berusaha memaklumi dan kembali menelannya.
"Dari pagi sampai sore aku kini bekerja sebagai OB di Sasana TAH.."
ucap Andi apa adanya.
"Maaf ngomong nak Andi, mengapa kamu tidak coba mencari kerja, di tempat lain ? bukannya gaji di sana sangat kecil ? mana cukup untuk biaya kuliah dan biaya hidup di kota j ini..?"
ucap Mama Viona menatap Andi dengan heran.
"Mama...! cukup mama... hentikan...!"
teriak Violin tidak bisa menahan kesal.
Andi menoleh kearah Violin, dia lalu menggelengkan kepalanya, memberi kode agar Violin jangan bersikap tidak sopan terhadap mamanya.
"Ya Tante, makasih perhatian dan nasehatnya, Andi akan ingat itu, nanti bila ketemu yang lebih baik Andi akan pindah kerja."
ucap Andi sabar, tidak menanggapi sikap mama Viona.
Setelah pembicaraan tersebut ,
mama Viona tidak terlalu banyak bertanya lagi, dan mereka hanya mengobrol ringan sekedar basa-basi.
Andi yang melihat jam sudah menunjukkan pukul 9.30 Andi pun berkata,
"Terimakasih banyak Tante, bila tidak ada hal lainnya.Andi mohon pamit permisi dulu.."
ucap Andi menyalami mama Viona dengan sopan, setelah itu dia pun langsung permisi.
Andi tidak berani melihat kearah Violin maupun mengucapkan kata apapun.
Dia tidak mau menimbulkan prasangka yang semakin besar, dan bukan bukan dari mama Viona, terhadap hubungan nya dan gadis kecil itu.
Tapi Violin tidak perduli dengan sikap Andi, dengan tanpa malu-malu. dia ikut berdiri menemani Andi hingga ke halaman rumah.
Setelah tersisa mereka berdua, yang berdiri berhadapan, sedangkan mama Viona hanya menatap mereka dari jauh.
Violin pun berkata,
"Di... maafkan sikap mama ku ya..aku benar-benar tidak menyangka mama akan bersikap seperti itu pada mu.."
"Aku..."
Andi tersenyum lembut dan berkata,
"Jangan salahkan mama mu, mama mu punya alasan kuat, dia hanya ingin melindungi keluarga ini.."
"Berusahalah untuk memahaminya, mama mu sungguh tidak mudah..menjalani semua ini, kamu harus lebih pengertian dan dewasa."
"Kamu jangan khawatirkan kakak, kakak tidak masalah tenang saja.."
__ADS_1
"Terimakasih banyak kamu sudah banyak bantu kakak bicara tadi.."
"Sampai jumpa, cepat tidur jangan pikir macam-macam, besok masih harus sekolah.'
Setelah berucap Andi pun melambaikan tangannya kearah mama Viona, kemudian bergerak meninggalkan halaman depan rumah Viona.
Setelah Andi pergi, Violin menghapus dua butir airmata nya, yang tidak tertahankan lagi untuk runtuh kebawah dan bergulir di pipinya.
Violin menengadahkan wajahnya menatap kearah bulan sabit yang bersinar terang, setelah menghela nafas sejenak.
Dia pun melangkah masuk kedalam rumah,
di dalam hati gadis kecil itu.
Dia semakin kagum dengan sikap Andi yang begitu sabar dewasa dan penuh pengertian.
Setelah dirinya di bombardir dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan, seperti sedang menginterogasi maling.
Padahal kurang berjasa apa coba Andi terhadap keluarganya, mulai dari memperhatikan dirinya dan adiknya hingga membantu melunasi SPP dan hutang keluarganya.
Semua itu diperoleh dengan taruhan nyawa darah dan keringat, dan sebagai balasan dari semua itu dia malah memperoleh sikap mama nya yang menginterogasinya seperti maling
Tapi Andi masih begitu pengertian dan bahkan masih membela sikap mamanya.
Violin benar benar merasa Andi tidak pantas berkorban segitu banyak demi keluarganya.
Violin langsung masuk kedalam rumah melewati mamanya tanpa banyak bicara, langsung masuk ke kamarnya.
Mama Viona hanya menghela nafas panjang menanggapi sikap anaknya yang sepertinya sangat kesal dengan nya.
"Nak suatu hari kamu akan mengerti sendiri, kenapa mama bersikap seperti itu padanya.."
"Charles Huo kamu adalah pria yang sangat baik, adalah salah ku dulu yang menyia nyiakan cinta mu demi harta dan kekuasaan."
"Kini apa yang ku terima adalah karma ku."
"Kamu adalah pria yang sangat baik, Wilona kamu sungguh beruntung memiliki suami dan anak yang sangat baik..'
"Andi maafkan sikap Tante, Tante yakin suatu hari kamu akan menjadi orang besar yang sangat sukses, lupakan saja Viona, dia hanya akan membawa penderitaan yang tiada habisnya untuk mu.."
"Tante doa kan kamu akan bertemu dengan jodoh yang jauh lebih baik dan sempurna.."
gumam mama Viona seorang diri sebelum menutup pintu ruang depan dan masuk kedalam kamar nya.
Setelah kejadian malam itu, besok paginya Andi pagi-pagi sudah berangkat ke kantin di sekolah Dody dan Rina Andi memantau dan mencari tahu kantin yang terbesar dan terlengkap di sekolah itu.
Kemudian Andi menemui pemilik kantin bernegosiasi dan menitipkan uang DP bulanan di sana.
Sehingga Dody maupun Rina bebas jajan sarapan di kantin yang telah bekerjasama dengan Andi.
Setelah dari kantin disekolah Dody dan Rina, Andi pindah kesekolah Violin.
__ADS_1
Disana Andi juga melakukan hal yang sama.