AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
JAMES TURUN TANGAN


__ADS_3

Rio sambil tertawa canggung, menarik kembali tangannya, dia teringat ucapan bapaknya.


"Pria sejati tahu saat nya maju saatnya mundur, jangan menuruti emosi dan memaksa itu hanya merugikan diri sendiri."


Teringat dengan nasehat ini, Rio tersenyum dan berusaha menahan emosinya,.atas penghinaan yang di berikan oleh James padanya.


Rio sudah menyelidiki tentang James, saat ini dia bukan lah lawan nya, baik secara adu fisik maupun ada kekuasaan, dia jelas masih jauh di bawah keluarga group KL ini.


Tapi dia sudah bicarakan hal ini dengan ayahnya, dan ayahnya sudah berjanji akan mengurusnya dan memintanya untuk bersabar.


Ujung tombak group KL terletak pada kakeknya James, mau melumpuhkan Group ini, harus di mulai dari kakeknya.


Tapi ini bukan pekerjaan mudah, jadi ayah Rio harus sangat berhati-hati.


Rio berdiri di hadapan mereka bertiga sambil tersenyum canggung, dia tetap memilih berdiri, sebelum ada yang persilahkan dia untuk duduk.


Agar dirinya tidak kembali di permalukan oleh mereka, melihat Viona yang bersikap sangat tenang dan membawa bawa James kesini.


Rio di dalam hati sudah menebak pasti ada yang tidak beres, kini dia tinggal menunggu Viona membuka kartu rahasianya.


Sebelum dia nanti bisa memikirkan langkah selanjutnya.


"Rio silahkan duduk, ada yang ingin ku bahas di sini dengan mu.."


Rio tersenyum mengangguk, sambil menarik kursi untuk duduk dia berkata,


"Ada apa Vi.. kelihatannya sangat serius, katakan saja aku siap mendengarkannya.."


"Baiklah kita langsung saja ke intinya, aku ingin kita mengakhiri kontrak pacaran kita malam ini.."


Rio tersenyum santai dan berkata,


"Boleh saja, tapi apa kamu sudah siap dengan konsekwensinya..?"


"Lebih baik kamu pikirkan dan pertimbangkan lagi matang matang.."


Viona semenjak tahu bahwa otak di balik kejadian Mimi dan Maya, juga perbuatan Rio, yang diam diam menghapus chat Andi kepadanya, termasuk Chat Andi saat dalam perjalanan ke kota J.


Hatinya benar-benar sudah tawar terhadap pria brengsek ini.


Makanya saat dapat tawaran berangkat ke PT PC, yang terisolasi dengan senang hati Viona menerimanya agar bisa menjauhi Rio.


Dan selama di sana hampir 3 bulan ini, Viona tidak pernah sekalipun bersedia menanggapi pesan pendek yang di kirim Rio padanya.


"Tidak perlu Rio, aku sudah pikir kan itu, terimakasih atas perhatiannya.."


ucap Viona menyindir.


Lalu dia kembali berkata,

__ADS_1


"Saat ini juga berikan nomor rekening mu, aku akan transfer dan lunasi hutang ayah ku."


"Sedangkan kamu tolong tanda tangan surat pembatalan kontrak ini, dan buatkan kwitansi tanda terima pelunasan hutang ayah ku.."


"Setelah itu kedepan nya, kita jalan masing masing tidak saling berhubungan lagi.."


Rio melirik kearah James, dia menduga ini semua pasti ulah James, dulu Sarah, kini James, keluarga ini memang cukup menyebalkan.


Dia bersumpah dalam hati, suatu hari nanti, dia pasti akan membalasnya dan membuat James ini mati tanpa kuburan.


Rio tidak menduga bahwa uang Viona sama sekali bukan datang dari James, melainkan dari Andi saingannya selama ini.


Bila tahu dia pasti akan semakin kesal.


"Vi emangnya berapa uang yang kamu punya, ingin melunasi hutang ayah mu ?"


"Apa kamu tahu berapa hutang ayah mu saat ini..?"


ucap Rio sambil tersenyum sinis.


Viona sedikit terkejut dan berkata,


"Kamu jangan mencoba untuk berbuat macam-macam, bukankah kamu dan aku sama-sama tahu hutang ayah ku adalah 35 M."


"Sekarang uangnya sudah ada, kamu mau mengingkari nya..!?"


teriak Viona melotot emosi.


"Harusnya aku malah bersyukur, uang ku bisa kembali."


"Tahan emosi mu Viona, kamu orang berpendidikan tentu juga tidak akan lupa dengan yang namanya bunga bank kan "


"Kita bisa hitung sesuai bunga Bank, Ok.."


"Nah berdasarkan perhitungan ku, dengan masa tempo hutang ayah mu yang sudah mulur pembayarannya 1,5 tahun."


"Maka yang harus di lunasi saat ini, bukanlah 35 M lagi, tapi 50 M.."


"Apa....!!"


teriak Viona sampai berdiri dari kursinya lalu menatap kearah Rio dengan penuh kebencian dan tubuhnya bergetar hebat.


"Ka...ka..kamu jangan kelewatan Rio..!?"


ucap Viona sedikit gugup, matanya mulai merah dan berkaca kaca.


Rio tersenyum santai sambil duduk bersandar di kursinya, merentangkan tangannya lebar lebar dan berkata,


"Aku hanya berbicara sesuai fakta dan angka.. nyata, semua sesuai dengan hukum."

__ADS_1


James yang merasa kasihan dengan Viona akhirnya berdiri menyentuh bahu Viona, dengan lembut dan berkata,


"Vi kamu duduk dulu, biar aku yang bicara dengannya.."


Viona mengangguk lemas kemudian duduk di samping Santi, dengan wajah pucat dan lesu.


Semangat dan kepercayaan diri nya yang tadi sempat mengebu gebu kini hilang tak berbekas.


Mirip dengan Awan tebal, yang tersapu bersih oleh angin, dalam waktu sekejap.


Rio sambil tersenyum santai berkata,


"Maaf kaka, urusan ini rasanya tidak ada hubungannya deh dengan kakak, bukannya dari awal kakak juga bilang sendiri datang kesini hanya sebagai pengawas saja.."


"Apa kakak lupa, atau ingin menjilat ludah sendiri..?"


ucap Rio sambil tertawa sinis.


James tersenyum dingin dia tidak menjawabnya hanya terus menatap Rio dengan tajam, seperti setiap saat dia bisa melenyapkannya dengan mudah..


"Hei kakak tahan emosi mu, ini negara hukum, hukum rimba tidak berlaku disini."


"Bila anda berani anarkis, bahkan kakek dan ibu tiri mu juga tidak bisa menolong mu.."


ucap Rio gugup karena dia sangat takut James benar'benar akan membuatnya menjadi tepung seperti batu pualam dulu.


James tersenyum dingin dan berkata,


"Bila aku mau, kamu tidak bisa bicara sebanyak itu di sini.."


"Aku hanya mau tanya kamu hitung pakai rumus bank apa ? siapa yang mengajari mu..cara berhitungnya.?"


"Tentu...tentu.. saja, aku hitung dengan rumus bank X dan yang menghitungnya adalah kepala cabang Bank x kota ini.."


ucap Rio mengarang dengan gugup.


"Sebutkan namanya dan pangkatnya..?"


ucap James semakin dingin..


"Dia kepala cabang Bank x namanya Dion Sastra, kenapa tak percaya, ini aku punya nomor telponnya, kalau mau kamu boleh telpon langsung ke dia.."


ucap Rio menggertak padahal nomer yang akan dia berikan adalah nomor telpon asisten ayahnya.


James tersenyum dingin dan berkata,


"Bank X ya, ok kebetulan presiden direktur Bank X paman Salim sedang ada di kota ini."


"Ini menjadi mudah, aku akan undang Paman Salim kemari dan kamu undang Dion Sastra kemari untuk berhitung.."

__ADS_1


"Bila cocok aku akan bayar 55M padamu, bila tidak maka bayaran nya cukup bulat 35M tanpa bunga gimana ? deal..?"


ucap James sambil mengulurkan tangannya kearah Rio.


__ADS_2