AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
KEPUTUSAN ANDI


__ADS_3

Andi tersenyum pahit mendengar penjelasan Violin, dia tidak berkomentar, hanya menganggukkan kepalanya saja.


Violin memilih tidak bercerita, Andi juga tidak mau banyak bertanya.


Tapi ini justru semakin membuat Andi yakin, antara tunangannya dan Ronaldo, pasti memiliki hubungan khusus.


Bisa jadi Violin selama ini memilih bersamanya, hanya karena tidak mau hidup dengan perasaan bersalah, membatalkan pertunangan dan meninggalkan dirinya, di saat dia sedang susah.


Andi yakin hal itu mungkin saja bisa terjadi, karena Violin adalah gadis yang sangat baik dan tidak egois, sebaliknya sangat pengertian dan lembut.


Andi kemudian mencoba mengalihkan pembicaraan ke hal lain, dengan mengobrol kan kegiatan Violin hari ini disekolah.


Violin menceritakan nya dengan penuh semangat, Andi hanya menjadi pendengar setia, dan sesekali sebagai penyambung ceritanya saja.


Hingga malam saat mama Violin dan Berry datang, membawa makan malam untuk Andi.


Secara bergantian Violin dan mamanya pun pulang, di gantikan oleh Berry yang bertugas menemani Andi di rumah sakit.


Setelah sisa Berry dan Andi, Andi pun berkata,


"Berr bila esok pagi kita berangkat ke Swiss jalan jalan, kamu bisa aturkan gak ya..?"


"Kenapa begitu mendadak di..? apa Violin dan yang lainnya udah tahu hal ini..?"


"Bukannya kamu masih mengikuti sesi terapi rumah sakit..?"


tanya Berry heran bercampur kaget saat mendengar permintaan Andi.


Andi tersenyum dan berkata,


"Aku sudah bosan terapi Berr, aku ingin refreshing."


"Tapi tolong rahasia kan kepergian kita, jangan ada yang tahu ..kemana kita pergi.."


"Terutama Violin, aku tidak ingin sekolah nya terganggu, oleh keadaan ku yang sangat merepotkan dan menyita waktunya.."


"Termasuk kedua orang tua ku yang harus bolak balik dari desa kemari.."


"Kurasa cukuplah 3 bulan ini, aku merepotkan mereka.."


ucap Andi sambil menatap Berry penuh permohonan.


Berry menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak benar, kamu kenapa tiba-tiba ingin pergi, ? kamu pasti bertengkar dan marah dengan gadis kecil itu ya..?"

__ADS_1


"Di,... dia masih kecil, kamu lebih dewasa harusnya kamu lebih memakluminya.."


"Dia sudah sangat banyak berkorban untuk mu, selama kamu koma hingga sekarang, apa kamu tega meninggalkan nya begitu saja..?"


Andi di hatinya menjawab, kamu tidak tahu Berry, keputusan ini aku ambil justru karena aku terlalu mencintainya, dan ingin melihat dia hidup bahagia..


Hanya saja di luar Andi memilih diam, sambil mendengarkan pendapat Berry yang lain nya.


Melihat Andi tidak ada respon, Berry kembali melanjutkan berkata,


"Dia pasti akan sangat sedih menyesal dan merasa bersalah di,.. bila kamu pergi dengan cara itu.."


ucap Berry mencoba membujuk Andi membatalkan niatnya.


Meski dia juga tahu, itu akan percuma, karena Andi bila sudah memutuskan sesuatu, tidak akan ada orang yang pernah bisa merubahnya, kecuali Viona yang sudah pergi meninggalkannya dengan luka mendalam.


Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak Berr hubungan kami baik baik saja, aku hanya tidak ingin merepotkan siapapun dengan kondisi ku, yang tidak kunjung ada perubahan ditempat ini.."


"Aku sudah jenuh ingin melihat dunia luar, menenangkan pikiran ku.."


"Mengenai Violin aku tahu,


"Tapi dengan kepergian ku, nantinya dia bisa fokus sekolah, dan bisa menggapai impiannya."


"Itu akan jauh lebih baik ketimbang dia terus membuang waktu bersama seorang cacat tak berguna seperti aku.."


Mendengar penjelasan Andi, yang panjang lebar dan penuh pertimbangan.


Akhirnya Berry angkat tangan menyerah dan berkata,


"Aku bisa apa, kamu takut merepotkan semua orang, kecuali tidak takut merepotkan aku..?"


"Aku juga tidak tahu mau gembira atau sedih dapat kehormatan ini..?"


"Yang jelas setelah ini, jangan sampai aku jatuh ketangan gadis kecil itu, bila tidak dia pasti akan memotong ku hidup hidup.."


ucap Berry mengomel sambil menggelengkan kepalanya seorang diri.


Setelah membereskan semua barang Andi kedalam tas, Berry pun berkata,


"Aku akan urus kamu keluar dari rumah sakit dulu, setelah beres kita baru keluar dari rumah sakit kembali ke kost bentar.."


Andi menganggukkan kepalanya tidak membantah, dia memanfaatkan waktu selagi Berry pergi, untuk menulis sepucuk surat buat Violin kekasih kecilnya.

__ADS_1


Demi masa depan dan kebahagiaan gadis itu, Andi setelah menyaksikan bagaimana hubungan antara Violin dan Ronaldo.


Dia sudah mengambil keputusan untuk mundur menjauhi Violin, semua ini demi kebaikan masa depan gadis itu.


Bila dirinya tidak cacat, tentu Andi akan memperjuangkan perasaan nya pada gadis itu, dan tidak akan mundur selangkah pun dari Ronaldo.


Tapi kini kondisinya sendiri, dia sendiri lebih paham dari siapapun,.


Bukan dia mudah putus asa, tapi ini adalah cara dia belajar, untuk menerima kenyataan..bahwa dia kedepannya hanya seorang cacat.


Dia hanya akan merepotkan dan menyusahkan Violin, bila memaksa bersama nya.


Andi jelas tidak bisa bersikap egois, sehingga dia memang tidak punya pilihan lain, selain memilih diam diam meninggalkan Violin.


Andi ingin semua orang tahu, dia lah yang memilih meninggalkan Violin, bukan Violin yang meninggalkan dirinya, di saat dia sedang dalam kondisi tidak berdaya.


Setelah menyelesaikan suratnya, Andi melipat dengan rapi, lalu dia masukkan kedalam sebuah amplop, siap untuk di kirimkan ke alamat rumah Violin, yang juga merupakan rumah nya sendiri.


Karena Andi menggunakan fasilitas asuransi, tanpa kesulitan Berry dan Andi pun malam itu juga, langsung bisa keluar dari rumah sakit.


Berry terlebih dahulu membantu membereskan semua barang milik Andi, yang bisa di bawa.


Setelah itu dia baru membereskan semua barang miliknya sendiri.


Mereka berdua hanya membawa barang seperlunya saja, yang terlalu besar dan sulit di bawa, Berry memilih di hibahkan, untuk penghuni kost berikutnya saja.


Sedangkan motor mobil Andi sejak Andi di RS, kedua benda itu sudah lama di titipkan di rumah Violin.


Sedangkan mobil Berry dia terpaksa menjualnya ke showroom dengan harga seberapa adanya saja.


Dia tidak punya banyak waktu untuk mengurus hal seperti itu, meski kalah banyak, tapi Berry bisa dengan mudah mencari uang itu kembali, lewat investasinya.


Jadi dia tidak khawatir.


Saat tiba di bandara sebelum berangkat, Andi menyempatkan diri untuk mengirim surat itu lewat kotak pos.


Setelah itu kedua orang itu pun dengan mudah masuk kedalam ruang tunggu, menunggu panggilan naik ke pesawat.


Segala prosedur dan hal hal kecil sudah Berry urus dengan rapi.


Mereka berdua hanya duduk santai saja menunggu panggilan pesawat.


Bahkan karena Andi menggunakan kursi roda, Berry sudah mengurus fasilitasnya, agar Andi dibantu oleh pramugari, untuk di dahulukan saat masuk dan turun dari pesawat nantinya.


Berry sengaja membeli tiket bisnis yang jauh lebih mahal, agar lebih mudah dan bisa mendapatkan pelayanan lebih saat naik dan turun pesawat.

__ADS_1


__ADS_2