
Setelah bergumam seorang diri, James berjalan menuju mobil Wrangler hitam nya, yang terparkir tidak jauh sana.
Tak lama kemudian mobil Wrangler hitam yang di kendarai James meluncur meninggalkan restoran mewah tersebut.
James tidak khawatir soal black card-nya, dia yakin besok pihak restoran pasti akan mengembalikan kartu tersebut kerumahnya.
Kini yang dia khawatirkan cuma Santi, sebelum Santi kembali ke kostnya, hati James belum bisa tenang.
James yang tadinya ingin pulang, tiba-tiba menghentikan mobilnya, dia parkir ditepi jalan yang gelap dan terlindungi oleh pohon besar, yang tumbuh memayungi tepi jalan.
James mematikan lampu mobilnya, sehingga mobilnya benar-benar terkamuflase di sana, tidak terlalu terlihat dari jalan.
Sedangkan di tempat restoran yang barusan ini , terjadi keributan.
Viona terlihat sudah lebih tenang dan tidak menangis lagi.
Tapi dia terlihat agak cemas dan takut.
"Di..menurut mu..Rio bakal menuntut ku dengan kontrak itu tidak ?"
tanya Viona sambil menatap Andi dengan cemas.
"Andi mengerutkan keningnya, tidak berkata apa-apa hanya menggelengkan kepalanya saja.
Setelah beberapa saat sambil menghela nafas panjang Andi baru menatap Viona dan berkata,
"Aku juga tidak tahu Vi.."
"Semoga saja tidak Vi, mudah-mudahan setelah kepalanya dingin dia akan meminta maaf dan berbaikan dengan mu.."
ucap Andi ragu.
"Tapi kalau dia benar menuntut bagaimana di..?"
tanya Viona khawatir.
Andi tersenyum pahit dan berkata,
"Maka tidak ada jalan lain,.aku akan menghabisi pamannya dan dia, seolah-olah itu adalah kasus perampokan.."
"Apa..apa maksud mu di.. tidak .. tidak kamu tidak boleh lakukan itu di.."
"Aku tidak setuju..kamu bisa terkena hukuman penjara seumur hidup, aku tidak setuju itu.."
Andi tersenyum dan berkata,
"Kamu tenang saja, itu hanya pilihan terakhir bila semua jalan menemui kebuntuan.."
Viona menggelengkan kepalanya dengan kuat airmatanya mulai mengembang.
"Apa yang sedang kalian berdua bicarakan, kenapa begitu serius.."
ucap Sarah yang baru kembali dari Toilet bersama Santi.
"Ini..Andi barusan bilang, bila Rio menuntut dia mau menghabisinya.."
ucap Viona menatap Sarah dengan cemas.
Sarah menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Kenapa harus berbuat konyol begitu..?"
"Sekarang kalian ikut dengan ku menemui kakek, aku jamin masalah Viona pasti beres.."
"Rio tidak bakal pernah mendekati Viona lagi."
ucap Sarah penuh keyakinan.
__ADS_1
Andi ingin mengucapkan sesuatu menolak tawaran Sarah, tapi Viona langsung meresponnya lebih dulu dan berkata,
"Sar benar kakek mu bisa membantuku, dan keluarga ku terlepas dari cengkraman Rio.."
Sarah tersenyum dan berkata,
"Tenang saja Vi, asal kakek bersedia turun tangan semua pasti beres."
"Di..mungkin ini harapan terakhir kita, kamu mau kan temani aku pergi menemui kakek Sarah.."
Andi sebenarnya sangat tidak setuju, dia tidak ingin melibatkan Sarah dalam hal ini.
Dia tidak mau banyak berhutang Budi dengan Sarah, karena dia jelas-jelas tidak bisa menerima perasaan Sarah, jadi mana boleh dia terus menerus menerima bantuan dari Sarah.
Andi merasa jika melibatkan Sarah, ini sangatlah tidak adil buat Sarah.
Tapi kini Viona memintanya secara langsung, terhadap Viona Andi tidak pernah bisa menolaknya.
Tatapan Viona yang penuh permohonan, Andi tidak tega untuk menolaknya..
Akhirnya dengan sangat terpaksa, Andi menganggukkan kepalanya.
Menerima permintaan dari Viona .
"Baiklah kalau begitu, kita berangkat sekarang jangan menundanya lagi.."
ucap Sarah cepat.
Viona tahu Andi segan melibatkan Sarah dan keluarganya dalam hal ini.
Dia sendiri juga tidak ingin.
Tapi kini mereka tidak punya pilihan lain, daripada nanti semakin berlarut-larut semakin ruwet.
Apalagi sampai Andi melakukan hal yang melanggar hukum, lebih baik mereka mengambil jalan ini.
"Ayo di.."
Andi melangkah dengan segan, mengikuti arah tarikan tangan Viona.
Sarah dan Santi berjalan di depan,. sedangkan Andi dan Viona mengikuti di belakang mereka.
Begitu masuk kedalam mobil Sarah pun berkata,
"Pak ke rumah kakek sekarang.."
"Siap non.."
ucap pak Larjo lalu melarikan mobilnya dengan cepat menuju rumah kakek Sarah.
Rumah kakek Sarah terletak di sebuah komplek perumahan elit, yang di bangun di kawasan pegunungan yang berhawa dingin dan sejuk.
Saat mereka tiba dirumah kakek Sarah, hari sudah malam, sehingga cuaca terasa sangat dingin.
Begitu keluar dari mobil, Viona sedikit mengigil kedinginan, melihat hal ini Andi melepaskan Jas nya menyelimuti bahu Viona.
Viona menoleh kearah Andi menatapnya dengan penuh rasa terimakasih dan mesra.
"Kamu sendiri gimana di... udara di sini sangat dingin loh..?"
"Andi tidak apa-apa, kan ada cinta mu yang menghangatinya,"
ucap Santi sambil tertawa.
Sarah pun ikut tertawa, dan berkata.
"Ayo kita masuk kedalam agar gak mati kedinginan di luar."
__ADS_1
Andi hanya tersenyum menanggapi candaan Santi, yang terkenal ceplas-ceplos.
Dia sudah terbiasa dengan gaya Santi.
Viona mempelototi Santi, tapi Santi bukan nya takut dia malah tertawa semakin keras.
Viona pura-pura melihat kearah belakang Santi dan berkata,
"Ehh James kamu juga kemari ya ?"
Santi yang sedang tertawa, tiba-tiba jadi diam, dia buru-buru menoleh kebelakang.
Tapi dia tidak melihat ada siapapun di sana.
Mendengar suara Viona yang sedang menertawainya, Santi pun sadar Viona sedang mengerjainya.
"James... keluarlah..Santi butuh mesin penghangat nih.."
ucap Viona sambil tertawa.
Sarah yang melihat kekonyolan kedua sahabatnya inipun ikut tertawa.
Kini berbalik Santi yang cemberut, tapi dia tidak berani banyak bersuara lagi.
Karena kelemahannya kini di pegang oleh Viona.
Sarah membawa mereka berempat menuju sebuah ruang tamu, yang luas dan terlihat sangat mewah interior di dalam nya.
"Kalian duduk dulu sebentar, aku mau pergi temui kakek..'
ucap Sarah kemudian berlalu dari sana.
Sarah langsung naik kelantai dua menuju ruang baca kakeknya.
Karena kakeknya biasanya memang suka menghabiskan waktunya dengan membaca.
"Tok..tok..tok..!"
Sarah mengetok pintu ruang baca beberapa kali.
"Masuk...! Siapa..?!"
"Kakek aku Sarah..."
ucap Sarah sambil masuk dan berlari merangkul kakeknya dari belakang dengan manja..
"Ehh cucu ku.. yang nakal..tumben kamu datang malam-malam menemui kakek.."
ucap Kakek Sarah sambil tertawa senang, dan membelai rambut cucunya dengan penuh kasih sayang.
"Ya ..tentu kangen dengan kakek lah.. kenapa gak boleh..?"
tanya Sarah cemberut.
Kakek Sarah tertawa terbahak-bahak dan berkata,
"Kamu ini paling pintar bicara, ya sudah katakan saja kamu mau apa ?"
"Kakek....!"
ucap Sarah cemberut sambil menggelayut manja di lengan kakeknya.
"Ya sudah ayo kita duduk di sana, cerita kan sama kakek pelan-pelan."
"Kakek pasti akan memenuhi apa pun permintaan mu, anak nakal.."
ucap Kakek Sarah sambil tertawa.
__ADS_1
Setelah mereka berdua duduk berhadapan, Sarah mulai menceritakan semua yang dia tahu ke kakeknya, dan meminta kakeknya untuk menolong Andi dan Viona .