AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
MELAWAN TOMY DAN SARAH


__ADS_3

Tapi berkat gerakan langkah kaki Andi yang cepat dan lincah serta pukulannya yang keras akurat dan terarah, usaha Toni dan Yana untuk mengimbangi Andi dan Santi menjadi sia-sia.


Mereka tetap gagal menahan laju angka di pihak Andi dan Santi yang terus bertambah.


Santi kini mulai bisa berpartisipasi aktip membantu bagian depan Andi.


Hatinya sangat puas dan gembira, saat dia berhasil menorehkan beberapa point' untuk kemenangan mereka.


Santi biasanya menyambar bola yang terlalu tinggi di atas net.


Bahkan dua kali bola yang disambarnya mendarat di wajah dan kepala Yana.


Hal ini membuat Yana secara reflek cepat-cepat mundur menghindar bila ada bola tanggung didepan net.


Karena gerakan inilah Santi beberapa kali hanya menyentuh ringan bola di hadapannya, hingga membuat bola jatuh tipis di dekat net.


Seberapa keras usaha Toni mengembalikan bola tersebut tetap saja tidak keburu.


Akibat kejadian ini yang berulang beberapa kali, Toni dan Yana sampai ribut mulut.


Toni menyalahkan Yana yang tidak siaga menjaga wilayahnya.


Sedangkan Yana menyalahkan Toni yang tidak bisa mengembalikan bola dengan baik, sehingga selalu tanggung dan membuat dirinya jadi sasaran empuk smash dari Santi.


Alhasil Yana bermain dengan wajah cemberut, Toni bermain dengan wajah kesal.


Akibat keributan kecil itu Permainan mereka bukannya membaik tapi malah semakin kacau.


Akhirnya Yana tidak bisa menahan emosinya lagi, ditengah Permainan di mana point' mereka 6 point' Andi dan Santi 12.


Yana membanting raketnya ke atas lantai, kemudian berlari meninggalkan lapangan, sambil menangis menutupi mukanya dengan kedua telapak tangan.


Toni yang merasa tidak enak hati mengejarnya, pertandingan pun akhirnya di bubarkan, Andi dan Santi dianggap keluar sebagai pemenang karena lawannya menyerah.


Andi dan Santi di nyatakan lolos dan dapat melangkah ke babak selanjutnya.


Pertandingan berikutnya adalah Rio dan Viona melawan Romi dan Silvi.


Permainan di mulai dengan dominasi oleh Rio, yang seperti bermain seorang diri, Viona seperti patung yang terparkir di samping.


Beberapa kali bola jatuh didekat Viona, tapi baru saja Viona akan menyambutnya.


Rio sudah menyambarnya dengan cepat,


Terkadang bila Rio datang terlambat raket mereka berdua menjadi beradu keras karena berebut bola.


"Vi lepaskan aja biar aku yang urus.."


ucap Rio sedikit menegur Viona saat raket mereka kembali beradu keras untuk ketiga kalinya.


Viona mengangguk tidak membantah, tapi sebenarnya hatinya sangat kecewa dan tidak puas dengan Rio.


Cuma dia yang pada dasarnya bersifat halus dan lembut, malas berbantahan dengan Rio yang nantinya malah berakhir ribut.

__ADS_1


Viona sebisa mungkin menghindari pertengkaran agar jangan sampai seperti Toni dan Yana.


Tapi hati kecil Viona membantah keras dan berkata


"Buat apa ada Permainan ganda campuran, bila yang main cuma satu orang, lebih baik Rio maju aja sendiri."


"Tidak perlu melibatkan dirinya yang hanya menjadi patung hiasan, tidak tahu mau ngapain."


"Bila seperti ini aku jadi terlihat sangat memalukan dan tidak berguna."


Diam-diam Viona mulai membanding-bandingkan Rio dan Andi.


Viona mulai iri dengan keberuntungan Santi yang berpasangan dengan Andi.


Andi sangat baik dan pengertian, bahkan Santi yang mainnya jauh lebih jelek dari dia.


Bisa di beri kepercayaan oleh Andi untuk ikut terlibat dalam permainan.


Sangat berbanding terbalik dengan dirinya, yang bahkan memukul pun tidak diijinkan oleh Rio.


Rio dan Viona berhasil memenangkan pertandingan dengan gemilang, tapi Viona terlihat tidak terlalu menikmati kemenangan tersebut.


Viona memilih duduk di sebelah Santi dan memilih mengobrol dengan Santi, sesekali dia memperhatikan Andi yang menurutnya, Andi sekarang semakin dewasa Terlihat semakin tampan.


Andi yang tahu Viona sering mencuri' pandang melihatnya, tentu hatinya sangat senang dan berbunga-bunga.


Tapi justru penampilan luarnya terlihat beda, Andi terlihat grogi dan salah tingkah.


Pertandingan terus berlanjut, pasangan lain berganti-ganti maju menjalani pertandingan babak penyisihan.


Andi yang melihat Viona seperti kepanasan dan kehausan, mengeluarkan dua botol air mineral dingin dari tasnya.


Dia tidak berani menyerahkan langsung ke Viona, dia memberikan dua botol air mineral itu ke Santi.


Santi jelas mengetahui maksud Andi, dia segera menyerahkan ke Viona sambil berkata,


"Nih minum biar segar.."


Viona menerimanya kemudian mengacungkannya Kearah Andi dan berkata,


"Makasih ya di.."


Andi tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan terimakasih dari Viona.


Viona membuka tutup botol tersebut dan minum dengan buru-buru, karena dia memang sedang haus.


Tapi baru satu tegukan, Rio merebutnya dan berkata,


"Tubuh sedang panas tidak baik minum air es.."


"Nih minum ini aja,"


ucap Rio sambil memberikan sebotol Pocari Sweat.

__ADS_1


Lalu Rio dengan terang-terangan dengan tatapan mata menantang, melempar Air mineral dingin Andi ke tempat sampah.


Andi hanya menanggapi sikap Rio dengan tersenyum tidak berdaya.


Bukan Andi takut dengan Rio tapi Andi memang tidak menyukai keributan dan permusuhan tidak perlu.


Santi sangat marah dan tidak puas dia ingin menegur Rio, tapi tangannya di sentuh dengan lembut oleh Andi yang memberinya kode dengan menggelengkan kepalanya.


Santi menghela nafas menahan sabar, tapi hatinya yang panas sedikit terobati dengan sentuhan hangat tangan Andi barusan.


Viona dengan terpaksa menerimanya dan meminumnya, rasanya yang sedikit Bergas dan asem sedikit kurang nyaman.


Tapi Viona tetap mengucapkan terimakasih kepada Rio.


Rio pun tersenyum senang dan terlihat puas.


Tak lama kemudian nama Rio dan Viona kembali di panggil untuk mengikuti pertandingan penyisihan babak 16 besar.


Di sini mereka bertemu sepasang muda-mudi, yang pria bernama Tomy yang wanita bernama Sarah.


Tomy cuma pemain biasa, yang terkenal adalah Sarah karena dia adalah salah satu atlet badminton yang mewakili kota Madya.


Melihat yang menjadi lawannya, Rio pun berbisik dengan serius di telinga Viona.


"Hati-hati dengan Sarah, dia pemain Pelatda.."


"Apa itu Pelatda ?"


tanya Viona bingung.


Rio tersenyum dan berkata,


"Pelatda itu, atlet yang berlatih di pemusatan pelatihan daerah, dia mewakili kota B bila ada pertandingan antar daerah."


Mendengar ucapan Rio sepasang mata Viona yang indah menatap Rio dengan terbuka lebar.


"Jadi...jadi... bagaimana kita ?"


tanya Viona gugup dan cemas.


Rio tersenyum tenang dan berkata,


"Kamu tenang saja, yang penting kamu berdiri di depan dekat net saja, dengan kepala sedikit menunduk."


"Sisanya biar aku yang urus, dia atlet pemain single."


"Mungkin hal ini bisa sedikit membantu, karena Permainan single sedikit berbeda dengan double."


ucap Rio memberi penjelasan dengan suara pelan.


Kini keempat pemain sudah memasuki lapangan mereka terlihat sudah bersiap menjalani pertandingan.


Servis pertama di lakukan oleh Sarah, karena hasil undian koin dimenangkan oleh nya.

__ADS_1


__ADS_2