AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
PERTARUNGAN ANDI RIO


__ADS_3

"Jangan ko Ahong, aku mohon jangan libatkan dia, aku tidak ingin sekolah nya terganggu.."


"Dia tidak boleh tahu hal ini, jangan libatkan dia, kalau berry tidak apa-apa.."


"Tolong lah aku ko Ahong, aku janji sekali ini saja.."


Ko Ahong terdiam cukup lama, sebelum akhirnya berkata


"Di,.apakah ini semua adalah permintaan mantan mu, yang tidak berjantung itu..?"


"Di,.. sadarlah dengarkan nasehat ku, jangan begitu bodoh, dia sudah begitu tidak berperasaan pada mu, mengapa kamu masih saja..."


"Di,.. dia tidak pantas untuk itu, sadarlah.."


ucap ko Ahong berusaha menasehati Andi.


Andi menghela nafas panjang dan berkata,


"Ko Ahong aku tahu dan mengerti niat baik mu, tapi meski seluruh orang dunia menertawai kebodohan ku.."


"Aku tetap akan melakukannya, apapun itu asal dia bahagia aku pun sudah cukup merasa puas.."


Ko Ahong memejamkan matanya, kemudian berkata,


"Baiklah di,.. aku akan membantu mu, karena kamu adalah saudara ku yang layak ku bantu.."


"Kamu tunggu saja kabar dari ku.."


ucap ko Ahong tak berdaya.


"Makasih banyak ko Ahong, makasih .."


ucap Andi gembira.


"Kamu jangan senang dulu, urusan dengan gadis cilik nekad itu, sebaiknya kamu selesaikan sendiri."


"Jangan libatkan aku.."


ucap ko Ahong serius.


Lalu tanpa menunggu jawaban dari Andi, dia langsung menutup telponnya.


Kini tinggal Andi duduk diam di dalam pondok, yang sepi gelap dingin dan sunyi.


Andi tersenyum sedih, sesaat kemudian terlihat dia berjalan dengan lesu, naik keatas bukit menuju tempat kediaman kakek nya.


Sebulan kemudian terlihat Andi di dampingi ko Ahong , kru nya dan Berry, mereka kembali muncul di arena yang merupakan tempat pertandingan Andi melawan Ginting sebelumnya.


Di sisi lainnya terlihat Rio hadir di sana bersama pelatih dan krunya serta di temani Istrinya Viona.


Andi sejak muncul di arena, dia diam diam terus menatap kearah Viona.


Viona sendiri tidak menatap kearah Andi hingga saat pertandingan hampir di mulai, dia baru menatap Andi penuh rasa terimakasih, menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Andi pun akhirnya tersenyum puas, dan membalas anggukkan Viona.


Di tempat lain Ko Ahong dan Berry saling menatap melihat sikap Andi.


Sambil menggelengkan kepalanya ko Ahong berkata,

__ADS_1


"Teman mu itu sungguh keras kepala, aku benar benar angkat tangan untuk nya.."


"Sudahlah ko, ikutin saja apa maunya, kita bisa apa..?"


"Di dunia ini selain gadis di seberang sana itu, tidak akan ada orang yang bisa merubah keputusannya.."


"Bahkan meski Violin hadir sekalipun, tidak akan bisa merubah apapun.."


"Mungkin di kehidupan lalu nya, kak Andi berhutang terlalu banyak padanya, sehingga harus melunasi nya di kehidupan ini.."


ucap Berry sambil menyimpan barang-barang pribadi Andi kedalam tas.


Tadi saat Andi hendak memasuki Arena, dia menitipkan jam tangan kesayangan nya.


Dan meminta berry untuk menjaga nya dengan hati hati.


Meski ini bukan untuk pertama kalinya.


Tapi Andi setiap kali turun bertanding, dia pasti akan selalu mewanti wanti agar Berry membantu menjaga jam tangan dan patung ukiran nya dengan hati-hati.


Di saat Berry sedang merapikan barang Andi, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Saat hendak di angkat, Berry langsung menatap kearah ko Ahong, dengan wajah sedikit pucat.


"Ada apa ? siapa..?"


tanya ko Ahong heran.


"Violin ko,.. gimana nih..?"


tanya Berry gugup.


"Sesuai perjanjian awal, aku hanya


urus pertandingan, kamu urus dia..aku tidak mau terlibat..."


ucap ko Ahong lalu buru-buru menjauh.


Berry dengan sangat terpaksa mengangkat telpon masuk itu, dan berkata,


"Ya Lin ada apa..?"


Berry berusaha bersikap setenang mungkin saat berbicara.


"Kak Berry ada di mana sekarang..?"


tanya suara Violin dari seberang sana.


"Aku..aku...aku sedang belanja di supermarket, kenapa kangen ya..?"


ucap Berry meski gugup, tapi dia berusaha bercanda dan mencoba bersikap setenang mungkin.


"Jangan bohong,.. katakan dengan jujur, kakak dan kak Andi ada di mana sekarang..?"


tanya Violin dengan nada mulai meninggi.


"Aku..aku..di supermarket TA, kamu kenapa sih Lin..? kamu kan tahu kak Andi ada di rumah kakeknya.."


tanya Berry masih berpura-pura bodoh.

__ADS_1


"Kak Berry...! kakak jangan coba macam macam, kalau terjadi sesuatu dengan kak Andi..aku.tidak akan mengampuni mu, cepat katakan..kalian ada di mana..?"


Berry menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian sambil berbicara pelan dia berkata,


"Kami ada di kota B di arena yang sama dengan pertandingan kemarin... udah dulu ya,? pertandingan udah di mulai tuh.."


Berry lalu buru-buru mematikan hpnya, tidak menghiraukan teriakan kesal Violin diseberang sana, yang Berry yakin pasti sedang marah marah.


Dan yang pasti dirinya sedang di maki maki dan di kutuk oleh gadis judes itu habis habisan.


Violin diseberang sana selesai memaki Berry, dia segera naik kedalam taksi dan meminta supir taksi mengantarnya ke Hotel tempat pertandingan tersebut berlangsung.


"Pak tolong cepat sedikit.."


ucap Violin mengingatkan supir taksi di depan nya..


"Ya siap neng.."


ucap sopir taksi tersebut sambil mengangguk sopan.


Sepanjang jalan violin terus melihat jam tangannya.


Dia terlihat gelisah panik dan cemas.


Dia sendiri baru tiba di kota B, dia baru dapat kabar tadi siang saat ngantar catering ke kost Berry.


Begitu mendengar kabar Berry berangkat ke kota B, dia langsung merasa curiga.


Dia lalu buru buru menelpon Andi, karena tidak diangkat, dia lalu nelpon ko Ahong, saat tidak di angkat juga, dia langsung datangi Sasana.


Setelah melalui paksaan dan ancaman, akan membongkar hubungan Maria ke bini Ko Ahong.


Akhirnya dia mendapatkan informasi ko Ahong, sedang berangkat ke kota B, membantu mengurus pertandingan Andi dengan Rio kakak iparnya.


Dengan perasaan marah, sedih, kecewa, cemas, khawatir dan panik, violin nekad langsung berangkat dengan kereta cepat menuju kota B.


Kini dia sedang mengejar waktu, datang ketempat lokasi yang di infokan oleh Berry tadi.


Selagi Violin sedang berpacu dengan waktu mendatangi lokasi diselenggarakan nya pertandingan.


Di tempat lain pertarungan antara Andi melawan Rio sudah sedang berlangsung.


Dari awal ronde babak pertama hingga usai, Andi hanya terus menghindari serangan Rio tanpa membalas sedikitpun.


Setiap Rio merangkulnya, Andi selalu berkelit sambil mendorongnya menjauh.


Hal ini membuat Rio sangat marah dan merasa Andi sengaja menghina dan mempermalukannya.


Di babak kedua saat ada berkesempatan berangkulan, Rio sengaja berbisik memancing emosi Andi.


"Hei pecundang jangan hanya bisa terus menghindar."


"Pantas saja dia memilih di genjot oleh ku, daripada bersama mu.."


"Dasar lambat.."


Mendengar ucapan Rio ketenangan Andi terganggu.


Tadinya dia berencana, setelah ronde ketiga, dia akan pura-pura capek.

__ADS_1


Kemudian akan mengalah pada Rio secara tidak kentara di ronde ke 4.


__ADS_2