AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
DI SERANG GORILA


__ADS_3

Viona memilih diam saja, malas mau menjawab dan berbantahan dengan Rio yang arogan.


Toh dia saat ini juga sudah memilih mengikuti pilihan Rio.


Saat ini dia hanya bisa berdoa cepat tiba di pos 2 tanpa halangan.


Berbeda dengan Viona, 3 orang lainnya, yang merupakan pengikut setia Rio.


ke3 penjilat itu memuji-muji pilihan Rio, yang sangat tepat dan brilian.


Rio sebenarnya ingin memaki dan mengumpat Andi, tapi dia memilih menahan diri di depan Viona.


Agar tidak membuat Viona semakin sebal dan tidak respek dengan nya.


Rio dan ke 3 penjilat nya berjalan sambil ngobrol, sedangkan Viona memilih berjalan dengan kepala tertunduk tidak memperdulikan mereka.


Setelah berjalan beberapa saat, mereka mulai memasuki kawasan hutan, di mana jalan mulai menyempit.


Tapi masih bisa di lalui oleh 4 orang.


Saat memasuki jalan hutan yang agak sedikit gelap.


Dan banyak suara bintang seperti monyet burung dan lain lain mulai terdengar.


Hal ini membuat Viona mulai berjalan lebih cepat, dia buru-buru mempercepat langkahnya merapat pada Rio.


Viona mulai merasa tidak tenang, dan agak sedikit takut.


Rio tersenyum tipis melihat reaksi Viona, dia merangkul bahu Viona dan berkata,


"Jangan takut Vi, santai saja aku akan menjaga mu."


"Tak perlu takut.."


Viona tidak berkata apa-apa, dia hanya melirik kearah Rio dan kearah tangan Rio, tapi Rio kini adalah kekasihnya.


Jadi tidak ada alasan baginya untuk menolak sikap yang Rio tunjukkan ini.


Hanya saja dia kurang nyaman saja, apalagi setelah insiden di perjalanan menuju pos 1 tadi.


Di dalam hati Viona, dia semakin tidak respek dengan Rio.


Tiba-tiba di hadapan mereka terdengar bunyi berkresekan dari balik semak belukar yang bergoyang goyang.


Padahal tidak ada angin besar yang membuat rumput itu bergoyang.


Itu hanya menandakan di balik semak, ada binatang yang sedang bergerak.


Rio memberi kode agar rekan+rekannya tidak bergerak, dan diam di tempat dan jangan bersuara.


Sebenarnya tanpa Rio memberi kode pun, semua peserta Rombongan sudah menatap kearah rumput, yang bergoyang dengan wajah pucat ketakutan.


Jangankan bersuara, bahkan untuk bernafas sekalipun mereka menahannya, agar tidak menimbulkan suara berisik.

__ADS_1


Setelah mereka menunggu beberapa saat, ternyata yang berjalan keluar dari balik semak adalah serombongan ayam hutan.


Ayam hutan yang kecil pendek, tapi lincah itu menatap kearah rombongan Rio sejenak, kemudian mereka bergerak melintasi jalan di depan rombongan Rio.


Setelah melintas rombongan ayam hutan itu kembali masuk ke semak-semak di seberang mereka.


Rio dan rombongannya, kini bisa melepaskan nafas mereka dengan lega.


"Ternyata cuma rombongan ayam, tak pikir tadi ada harimau atau macan lewat."


"Aku benar-benar was was di buatnya tadi.."


ucap ketiga orang penjilat itu sambil tertawa tawa.


Rio sambil tersenyum memberi kode agar mereka melanjutkan perjalanan.


Tapi baru berjalan 10 meter dari arah kiri depan mereka, berjalan keluar serombongan Gorila.


Seekor gorila Jantan bertubuh besar berdiri di sana, menghadang di depan jalan Rombongan Rio.


Dia berdiri sambil menggereng kearah Rio, Dia menatap tajam kearah Rio dan memamerkan taring nya yang panjang.


Seakan-akan memperingatkan Rio dan rombongannya, agar tidak menganggu rombongan yang sedang di pimpinnya melintasi jalan tersebut.


Rio dan rombongannya berdiri tak bergerak, Viona dengan ketakutan merapat dalam pelukan Rio.


Tapi setelah rombongan gorila betina dan anak-anaknya lewat.


Muncul serombongan Gorila jantan bertubuh besar, mengelilingi rombongan Rio.


Viona mulai ketakutan dan bersembunyi di belakang punggung Rio.


Begitu pula dengan ketiga penjilat itu, mereka malah bersembunyi di balik punggung Viona.


Rio mengeluarkan pisau komandonya, dari pinggang untuk berjaga-jaga.


Dengan di koordinir oleh pimpinan rombongan gorila, yang berdiri di hadapan Rio, para gorila mulai bergerak maju menyerang Rombongan Rio sambil memamerkan taring mereka.


Viona mulai berteriak-teriak histeris ketakutan...


"Ahhhh....! Ahhhhh....! Ahhhh..!"


"Jangan...! Jangan...! mendekat hush...! hush...!'


teriak Viona panik.


Rio berusaha bersikap tenang, mengacungkan pisau nya, kearah para gorila yang mengepung dan mulai bergerak mendekati mereka.


Gorila itu mengikuti instruksi pimpinan mereka, mulai melompat menerkam kearah Rio dan Rombongannya.


Rio berusaha mempertahankan diri dengan pisaunya sambil melindungi Viona.


Tapi naas menimpa ketiga penjilat itu, mereka hanya berdiri ketakutan, tidak bisa mengelak saat di terkam oleh rombongan gorila.

__ADS_1


Teriakkan ketakutan dan pergumulan pun terjadi, tapi hanya berlangsung sebentar saja.


Karena ketiga orang itu sudah kehilangan kesadaran mereka .


Saat kepala dan wajah mereka di pukuli oleh gorila, yang menerkam mereka secara bertubi-tubi.


Kini tinggal Rio yang dengan gesit masih berhasil menghindar dari terkaman dua ekor gorila Jantan, yang berusaha menghentikan perlawanan Rio.


Viona menjerit-jerit histeris ketakutan sambil menangis.


Tapi anehnya para gorila itu, kini semua hanya fokus meringkus Rio, sesuai instruksi pimpinan gorila.


Mereka tidak ada yang menganggu atau memperdulikan Viona.


Viona hanya bisa menjerit ketakutan dengan tubuh gemetar.


Rio berhasil melukai dua ekor gorila yang menyerang nya, dengan pisau komando di tangan nya.


Tapi saat gorila yang mengepung nya semakin banyak, Rio mulai kuwalahan dan pontang panting menghindari terkaman dari para gorila yang mengerubutinya.


"Viona cepat lari...!!"


teriak Rio saat merasa dirinya tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi.


Viona menjadi tersadar dari ketakutannya, setelah mendengar teriakkan Rio.


Dia buru-buru memutar tubuhnya berlari kembali kearah di mana mereka tadi datang.


Tapi baru saja viona berlari beberapa meter, pimpinan gorila yang bertubuh paling besar.


Melompat menghadang di depan Viona, tanpa memperdulikan teriakan ketakutan Viona.


Gorila itu langsung menangkap kedua tangan Viona, dengan satu tangannya.


Tangan yang lain langsung memukul tengkuk Viona, yang sedang menjerit meronta berusaha melepaskan diri.


Begitu tengkuk Viona terpukul, Viona pun kehilangan kesadarannya.


Gorila besar itu langsung memanggul tubuh Viona yang pingsan di pundaknya, lalu dia tanpa memperdulikan rekannya yang masih sedang melawan Andi.


Gorila itu melarikan diri ke balik semak belukar, memanjat keatas pohon, lalu melompat dari satu pohon ke pohon lain, menggunakan akar rotan pohon yang bergelantungan .


Dalam sekejap dia sudah menghilang dari lokasi tersebut.


Di lokasi kini hanya tersisa Andi yang mulia terlihat payah, pisau komando di tangan nya kini sudah terlepas tidak tahu jatuh di mana.


Dia bahkan tidak menyadari Viona telah di bawa pimpinan rombongan gorila meninggalkan tempat tersebut.


Rio terlalu sibuk mempertahankan keselamatan dirinya sendiri.


Wajahnya mengalami luka lecet bekas cakaran dan memar di mana-mana.


Pakaiannya sudah robek di sana sini, bagian punggung dada dan bahunya juga berdarah, terkena bekas cakaran dan gigitan yang dilakukan gorila yang mengerubutinya.

__ADS_1


.


__ADS_2