AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
KEMBALI KE KOST


__ADS_3

Saat melihat kondisi Berry yang terpental oleh tendangan nya, Davina buru-buru memeriksa keadaan dirinya.


Tapi saat menyadari dirinya dalam keadaan baik-baik saja, tidak kekurangan apapun, adalah Berry yang kini terluka parah di bagian hidung dan kepala belakangnya.


Davina sedikit demi sedikit mulai teringat kejadian semalam, dan samar samar dia mulai ingat, Berry bukan hanya tidak melakukan apapun yang menyakiti dirinya.


Bahkan Berry membantu mengeringkan rambutnya merapikan pakaiannya dan membantu membenarkan posisi tidurnya.


Kemudian menjaganya sampai pagi, meski dia mabuk berat, tapi samar samar dia masih ingat apa yang Berry lakukan untuk nya.


Tapi kini dia malah melukai Berry hingga seperti ini, Davina tiba-tiba merasa sangat bersalah terhadap Berry.


Davina meski merasa kepalanya masih sedikit sakit, tapi dia tidak menghiraukan nya, dia buru-buru bergerak membantu Berry bangun dari lantai.


Kemudian menggunakan handuk untuk membantu mengeringkan darah yang mengucur dari hidung Berry.


Setelah itu dia membantu mengompres kepada Berry yang benjol sambil terus mengucapkan permintaan maaf ke Berry.


"Sorry ya Berr maaf ya, aku..aku.. tidak sengaja."


ucap Davina berulang kali.


Berry sambil menahan sakit berkata,


"Sudah tidak apa-apa, ini juga karena salah ku yang bercanda kelewatan semalam."


"Sudah lebih baik kamu pergi bersiap-siap mandi dan lain-lain agar tidak telat dan ketinggalan pesawat.."


"Kini kamu sudah sadar, aku mau pulang dulu.."


ucap Berry sambil hendak berlalu dari kamar Davina.


Tapi Davina menahan tangan Berry dan berkata,


"Berr kamu tunggu aku sebentar, kita sarapan bersama sama dulu, baru kamu pulang..ok..?'


"Anggap saja itu sebagai permintaan maaf dari ku.."


Berry menatap Davina dengan tatapan kurang percaya.


Davina tersenyum dan berkata,


"Kamu tunggu aku sebentar.."


Lalu Davina membuka lemari mengambil seragam pramugarinya yang di gantung dan langsung membawanya masuk ke kamar mandi.


Tak lama kemudian Davina sudah keluar dari kamar mandi dalam keadaan rapi.


Dia langsung menghampiri Berry dan berkata,


"Bagaimana hidung mu masih berdarah tidak sini aku lihat."

__ADS_1


Davina memegang dagu Berry dan mencoba melihatnya dengan hati-hati.


Davina tidak menyadari tindakan nya ini hampir membuat Berry kembali mimisan.


Davina yang begitu cantik dan anggun dalam pakaian seragam pramugarinya.


Di tambah lagi wangi tubuhnya, Berry yang terpesona hampir tidak kuat menahan diri untuk kembali mimisan.


"Vin kalau kamu begini terus, aku benar-benar bakalan mimisan deh..."


ucap Berry polos.


Mendengar ucapan Berry, Davina pun bergerak mundur dengan wajah merah, dan dia menutupi mulutnya sendiri menahan tawa.


Sesaat kemudian dia menggandeng tangan Berry dan berkata,


"Ayo temani aku, kita pergi sarapan.."


Saat mereka berdua keluar dari kamar, pramugari teman sekamar Davina, yang pindah ke kamar pilotnya.


Kebetulan juga keluar dari kamar bersama pilot nya, mereka berdua menatap tak percaya kearah Davina dan berkata,


"Wow fantastik, ternyata diam diam dia juga...wow... benar'benar surprise."


Davina menanggapi sikap mereka dengan santai dan berkata,


"Ini kenalkan calon suami ku,... Berry.."


"Berr ini pilot Henry dan ini teman sekamar ku Merlin."


Dia pun mengerti dan langsung melengkapi Sandiwara Davina, menyalami kedua orang itu satu persatu.


Berry menebak, Davina terpaksa melakukan hal itu, karena mereka berdua keluar dari kamar yang sama.


Bila tidak mengatakan dirinya calon suaminya, pasti Davina akan sangat kehilangan muka dan harga diri didepan rekan rekannya.


Karena telah menginap semalaman dengan pria tak di kenal.


Saat mereka berjalan bersama menuju ruang breakfast, Merlin mulai melancarkan aksi interogasinya pada Berry.


Dengan bermodalkan sedikit pengetahuannya tentang saham, Berry mengaku dirinya adalah investor permodalan yang bergerak di bidang jual beli saham.


Pilot Henry sempat bertanya tanya tentang saham ke Berry, untungnya Berry ada baca baca sedikit.


Sehingga dia bisa menjawab semuanya dengan cukup baik dan tidak sampai ketahuan bohongnya.


Davina diam diam cukup kagum dengan pengetahuan dan ketenangan Berry dalam bersikap menghadapi berbagai interogasi yang di lakukan oleh kedua rekannya itu.


Saat tiba di restoran, Davina, dengan cerdik membawa Berry untuk Duduk menjauh dari kedua rekannya itu.


"Sorry ya Berr aku terpaksa.."

__ADS_1


ucap Davina menatap Berry dengan tidak enak hati.


Berry tersenyum dan berkata,


"Tidak apa-apa, kalau benaran juga gak papa."


Davina tertawa menutupi mulutnya, kemudian dia mencubit lengan Berry dengan gemas.


Berry menatap Davina dan berkata,


"Vin nanti kalau pesawatnya sudah ready, aku pasti akan merubah nya menjadi nyata."


Davina tertawa sambil menutupi mulutnya, menanggapi kata kata Berry, dia lalu memukul lengan Berry yang di anggap nya sebagai candaan gombal dari Berry.


Davina tidak tahu Berry benar benar mengucapkan nya dengan serius.


Melihat tanggapan Davina, Berry pun merubahnya berpura-pura bahwa dia sedang bercanda.


Di dalam hati Berry berkata,


"Siapa juga yang akan percaya, seorang gembel mau jadi milyarder yang punya pesawat pribadi."


"Adalah wajar, bila Davina menanggapinya sebagai candaan, tidak menganggap nya dengan serius."


Selesai sarapan Beery dan Davina pun berpisah, Davina kembali ke kamarnya bersiap-siap untuk berangkat.


Sedangkan berry pergi kelapangan parkir mengambil motornya, lalu meninggalkan hotel kembali ke kost.


Davina sendiri saat tiba di dalam kamar, baru menyadari ternyata Berry sudah membantunya membereskan semua barang bawaannya.


Sehingga tanpa perlu repot lagi, dia tinggal menarik tasnya meninggalkan kamar hotel.


Di dalam hati, Davina mulai kagum dengan Berry yang meski awalnya terlihat sangat tidak bisa dipercaya dan di andalkan.


Tapi setelah bergaul dan mengenalnya lebih dekat, ternyata Berry adalah sosok pria yang cukup menarik jujur dan mengagumkan.


Dan yang menjadi point pertama adalah Berry, sangat bisa di percaya.


Padahal bila Berry mau berbuat jahat padanya, dalam kesempatan pertama maupun yang kedua.


Dia tidak akan pernah bisa menghindari nya, bila yang bersamanya saat itu adalah pria lain selain Andi, dia yakin saat ini dirinya pasti akan sangat menyedihkan nasibnya.


Davina berpikir sayangnya, mereka tidak tinggal sekota, bila tidak bukan tidak mungkin dia akan mempertimbangkan Berry untuk menjadi kekasihnya.


"Ahh,..Davina kamu ini sudah ngaco sampai kemana ? kelihatannya kamu sudah mulai kebelet dan gila kawin.."


gumam Davina mengomeli dirinya sendiri.


Sedangkan Berry saat kembali ke kost, dia menemukan Andi sedang menunggunya dan menatap nya dengan tajam.


Andi seperti sedang menunggu penjelasan dari nya.

__ADS_1


Berry menatap Andi dengan tersenyum lalu maju merangkul bahu Andi dan berkata,


"Ayo ke kamar mu, aku berjanji akan menceritakan semuanya pada mu secara detail, ok..?"


__ADS_2