
Violin menahan senyum dan berkata,
"Kakak ini mikir kemana ?aku cuma bilang seandainya.."
"Jangan khawatir begitu aku sehat sehat aja kok.."
ucap Violin sambil tertawa.
"Kamu mengangetkan ku, tapi gak papa, sore kita ada waktu luang kita cek up aja, gakda salahnya.."
ucap Abdi serius.
"Ihhh kakak buang buang uang dan waktu, Lin sehat sehat kok.."
protes Violin dengan bibir cemberut..
Andi tersenyum dan berkata,
"Tidak apa-apa kakak juga mau cek up, jadi hitung hitung temani kakak, suami istri cek up bersama,"
"Setuju,..?"
"Kenapa gak pulang kekota J aja kak ?"
tanya Violin mencoba menawar.
Andi tersenyum dan menggeleng,
"Tidak di sini alat lebih lengkap hasil lebih akurat, sudah kita lakukan di sini aja.."
Violin tak bisa menawar lagi, Andi sudah memutuskan.
Violin menarik tangan Andi dan berkata,
"Yuk kita baring santai di sana."
Dia tidak membahas tentang cek up lagi, dia tahu persis bila Andi sudah mutuskan sesuatu.
Selain almarhum kakak nya, tidak pernah ada yang bisa merubahnya, termasuk dirinya.
Sebenarnya bisa saja, bila dia memaksa dan pura pura sedih dan kecewa, dan tidak bahagia.
Tapi dia tidak pernah bisa tega melakukan nya, untuk menipu Andi.
Melihat wajah Andi yang cemas dan khawatir untuk nya, dia selalu tidak tega.
Makanya dia lebih sering memilih menuruti kemauan Andi, yang biasanya semua memang demi kebaikan dirinya.
Sambil berbaring santai di pangkuan Andi, Violin kembali berkata,
"Kakak belum jawab pertanyaan Lin tadi.."
Andi berpikir sejenak kemudian berkata,
"Aku akan melewatkan sisa hidup ku dengan mengenang mu, hingga hari itu tiba aku baru pergi menyusul mu..'
"Kenapa kakak tidak mencoba membuka pintu hati kakak, untuk orang lain yang juga sangat mencintai kakak ?"
tanya Violin ingin tahu.
__ADS_1
Andi tersenyum dan berkata,
"Aku sudah pernah mencobanya, saat kita pernah berpisah dulu.."
"Sayang nya, jawabannya adalah aku tidak bisa.."
ucap Andi sambil menatap Violin dengan tatapan mata sejujurnya.
"Kakak tahu kah kakak,.. kakak itu sangat menggemaskan.."
"Ayo gendong aku ke kamar,.. aku jadi ke pengen.."
ucap Violin sambil tersenyum menggoda.
"Kamu serius Lin, semalam kan udah 3 kali,.. nanti sakit."
Violin cemberut dan berkata,
"Kakak kalau gak penuhi, aku malah benar benar akan sakit.."
Andi pun tersenyum lebar, dia langsung menggendong Violin masuk kembali kedalam kamar, untuk memenuhi tuntutan Violin.
Andi dan Violin akhir nya kembali ke kota J, setelah mengakhiri tur panjang mereka.
Setelah pulang mereka berdua memutuskan beristirahat santai di rumah selama seminggu.
Setelah itu, Violin baru mulai mengirim surat lamaran kerja nya lewat email ke berbagai RS besar di kota J.
Sedangkan Andi juga mulai kembali sibuk dengan pemantauan kinerja investasinya yang sudah cukup lama tidak dia urus dengan serius.
Untungnya semua berjalan cukup lancar, ada beberapa yang mengalami kerugian,.tapi ada beberapa justru untung besar.
Pabrik di Nan Jing sejak Andi tinggalkan tidak ada lagi ekspansi, tapi semua berjalan cukup stabil.
Sesuai prediksi Andi, mereka kini lebih fokus ke omzet suku cadang, yang modalnya kecil untung nya bisa jauh lebih besar.
Group Wang di pusat juga masih stabil, hanya saja Andi mendapat kabar tambahan dari Bos Wang, putrinya Nicole kini sedang berangkat ke Beijing untuk melanjutkan sekolah S3 bisnis investasinya.
Andi berpikir dalam hati pantas saja, selama dia dan Violin jalan jalan di Beijing, terutama saat di tembok besar dan di lapangan Tian An Men, dia seperti melihat ada gadis yang terus mengikuti dan memperhatikan mereka secara diam diam dari jarak jauh.
Andi memilih tidak menceritakan hal ini pada istrinya, takut Violin jadi paranoid dan cemburu.
Kini Andi bisa menyimpulkan ada kemungkinan penguntit itu adalah Nicole Wang, putri tunggal Bos nya.
Tapi Andi hanya menyimpan semuanya di dalam hati.
",Sayang lihat aku keterima kerja di JMC, besok di suruh masuk kerja, lihat ini ruang kerja ku keren ya kak, dan ini fasilitas kendaraan ku.."
"Ini juga ada fasilitas apartemen, tapi aku gak mengambilnya.."
ucap Violin penuh antusias sambil menunjukkan laptopnya ke Andi.
"Secepat itu kah ? baru 3 hari kamu kirim lamaran, ini baru hari ke 4."
'Aku juga gak lihat kamu di panggil pergi interview atau psikotes, kok bisa ya. ?"
tanya Andi heran.
Sambil tertawa Violin berkata,
__ADS_1
"Kakak ingat gak kemaren aku ngunci kamar gak boleh kakak masuk ke kamar ?"
"Ya,.. ingat kenapa ?"
tanya Andi heran, sambil minum teh nya dan menatap Violin lekat lekat.
"Itu hari aku sedang ada interview kerja kak,.."
"Interview secara online,.psikotes dan lain sebagainya juga dilaksanakan secara online dari rumah semua kak.."
ucap Violin sambil tersenyum bangga.
Andi langsung merangkul bahu Violin dan menciumi pipinya.
"Istri ku memang hebat luar biasa, aku benar benar bangga pada mu.."
"Selamat ya,.."
"Mau kado dan perayaan apa ini, menyambut keberhasilan mu ?"
ucap Andi sambil tersenyum gembira.
"Kado gak usahlah udah banyak, kita rayakan dengan makan malam bersama saja di rumah bagaimana..?"
ucap Violin sambil tersenyum.
Andi mengangguk dan berkata,
"Baik kalau begitu sore ini aku akan siapkan segala nya, aku akan masak untuk mu..'
Violin tersenyum gembira dan berkata,
"Malam ini aku harus menikmati sepuasnya, karena setelah masuk kerja nanti aku yakin, pasti tidak akan ada waktu untuk menikmatinya lagi..'
"Kakak nanti kalau aku selalu sibuk dan menelantarkan kakak kesepian di rumah, kakak jangan marah ya..?"
Andi tersenyum dan berkata
"Tidak apa-apa, aku akan selalu mendukung mu sayang.."
"Kamu jangan khawatir, aku akan antar dan jemput kamu pulang pergi kerja seperti dulu..'
"Jadi kita tetap punya waktu dan momen untuk bersama.."
ucap Andi mencoba memberi dukungan dan semangat buat Violin.
Violin menatap Andi dengan penuh haru, lalu dia dengan cepat sudah maju melingkarkan sepasang tangannya di leher Andi.
Lalu dia mendaratkan ciuman lembut di bibir Andi, untuk meluapkan semua perasaan nya.
Andi membalasnya, kemudian dengan lembut menggendong Violin kedalam kamar dan melanjutkan kegiatan ketahapan lebih lanjut.
Karena mereka berdua sadar, setelah Violin mulai masuk kerja, intensitas waktu kebersamaan mereka pasti akan jauh berkurang.
Setelah Violin mulai bekerja di rumah sakit itu, diam diam sedikit demi sedikit Andi mulai mengumpulkan saham saham RS JMC yang beredar di pasar saham, ada berapa pasti Andi beli.
Setiap ada yang kepepet dana, pemilik saham dominannya ingin menjual sahamnya.
Andi tanpa berpikir pasti akan membelinya, hal ini Andi lakukan agar punya akses mengontrol kebijakan manajemen di RS tersebut untuk menjaga istrinya nyaman bekerja.
__ADS_1