AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
ALASAN KETERLAMBATAN VIOLIN


__ADS_3

Keesokan paginya, Andi di temani oleh ibunya, mulai mengikuti sesi terapi untuk bisa kembali berjalan.


Tapi kedua kaki Andi yang mati rasa, membuat Andi harus bekerja keras, dengan sepasang tangan nya secara ekstra sebagai penopang badannya.


Berulang kali Andi jatuh bangun, hingga tubuhnya basah keringat.


Tapi tetap saja belum terlihat hasilnya.


Setelah sesi terapi selesai, di lanjutkan dengan sesi pijat dan sesi penyinaran dengan sinar ultraviolet, keseluruh bagian kaki Andi.


Dari ujung jari kaki, hingga ke pinggang Andi,terus di Sinari dengan sinar hangat hangat panas itu.


Sore nya, Andi ditemani oleh Violin kekasih kecilnya, yang datang memberi semangat pada nya.


Setiap Andi terjatuh, Violin pasti akan berteriak kaget dan menatap Andi yang sedang berjuang keras dengan sedih.


Tanpa terasa 3 bulan sudah berlalu, tapi Andi belum menunjukkan ada tanda-tanda perubahan pada kedua kakinya maupun daya ingatnya.


Bila tidak ada Violin yang terus menemani dan menyemangatinya, Andi pasti sudah putus asa, dengan terapi yang dia lakukan tanpa hasil itu.


Tapi karena kehadiran Violin yang dengan penuh perhatian, dan kasih sayang terus menyemangatinya.


Andi masih terus bertahan dan berjuang meski selalu tanpa hasil.


Kini tubuh dan otot Andi semua sudah pulih kembali.


Tubuh dan kedua lengan Andi sekarang sangat kekar, jauh lebih kekar dari sebelumnya.


Ini karena latihan terapi Andi selama 3 bulan ini, selalu bertumpu pada kedua lengan dan badannya.


Tapi berbanding terbalik dengan bagian pinggang kebawah, yang mengalami penyusutan drastis menjadi kurus dan kecil.


Sehingga akhirnya Andi sekarang hanya diijinkan, untuk mengikuti terapi renang, karena dengan memaksa terapi berjalan, di khawatir kan malah nanti mematahkan kaki Andi, yang terlalu kurus.


Sore itu terlihat Andi duduk melamun seorang diri, sambil menunggu kedatangan Violin, yang akan menemani nya, untuk melakukan terapi sore.


Tiba-tiba sepasang mata Andi tertegun melihat kejadian yang terjadi di hadapan nya.


Andi melihat Violin yang sedang berjalan melewati taman, tiba tiba langkah nya, di halangi oleh seorang Dokter ganteng, yang dikenalinya sebagai Ronaldo.


Sudah hampir 3 bulan Andi tidak pernah melihat Ronaldo, ini adalah kali pertamanya Andi kembali melihat pria ini.


Setelah terakhir kali bertemu, saat dia baru siuman dari komanya, setelah itu mereka tidak pernah bertemu lagi.


Andi diam diam memperhatikan apa yang terjadi antara Violin dan Ronaldo.


Andi melihat dari jauh tanpa bisa mendengar, apa yang sedang mereka berdua bicarakan.


Mereka berdua terlihat sedang melakukan pembicaraan serius.

__ADS_1


Dari gerak gerik mereka, Andi melihat Ronaldo terlihat sedikit terbawa emosi, sedangkan Violin terlihat berusaha membujuk dan menjelaskan sesuatu, untuk meyakinkannya.


Akhirnya Ronaldo yang terlihat kesal uring uringan, membalikkan badannya hendak berjalan menuju kearah Andi.


Tapi tangannya di tahan oleh Violin yang masih berusaha, menahan dan membujuknya.


Tiba-tiba Ronaldo membalikkan badannya, balas menarik Violin kedalam pelukannya.


Lalu dia dengan setengah memaksa mendaratkan ciuman nya dibibir Violin.


Awalnya Violin terkejut dan berusaha meronta, tapi sesaat kemudian Violin pun terdiam, dan memejamkan matanya, dia terlihat cukup menikmati ciuman dari Ronaldo.


Andi yang melihat hal itu dari tempat persembunyiannya, tersenyum perih.


Dia merasakan perasaan nya saat ini seperti tidak asing, seperti dulunya dia juga pernah merasakan hal ini.


Sambil memejamkan matanya, menahan rasa perih di hatinya, perlahan-lahan Andi bergerak meninggalkan tempat itu, kembali ke kamar nya dengan menggunakan kursi rodanya.


Andi tidak tahu di saat, dia membalikkan badannya, justru Ronaldo juga terpaksa melepaskan ciumannya, karena bibirnya di gigit dengan keras oleh violin hingga berdarah.


Tidak sampai di sana saja, Violin juga menghadiahinya, dengan sebuah tamparan di pipi kirinya.


Dilanjutkan dengan sebuah tendangan tepat kearah burungnya, sehingga Ronaldo langsung jatuh tumbang meringkuk di atas rumput taman, seperti seekor udang kering .


Terdengar suara teriakan marah dari Violin,


Setelah itu Violin langsung meninggalkan tempat itu, dengan wajah merah padam.


Saat tiba di depan kamar Andi, Violin baru menghirup dan menghela nafas berulang kali, menenangkan diri nya.


Setelah jauh lebih tenang, sambil berlagak gembira, Violin berusaha tersenyum ceria masuk kedalam kamar Andi.


Violin tidak menemukan Andi di dalam ruangan, setelah mencari cari akhirnya dia menemukan Andi, sedang duduk termenung di balkon menatap kearah langit.


Violin langsung buru-buru berjalan menghampiri Andi dan memberikan sebuah ciuman di pipi Andi, sambil tersenyum dia berkata,


"Sayang kamu sedang apa di sini ? ayo siap siap kita harus keruangan terapi.."


Andi menoleh kearah Violin sambil memaksakan diri tersenyum, lalu dia berkata,


"Lin kamu sudah datang,.. duduklah dulu..kamu pasti lelah.."


"Aku hari ini sedang kurang bersemangat dan malas ikut terapi, kamu temani aku duduk dan ngobrol di sini mau kan. ?"


"Kamu kenapa sayang ? apa kamu kurang sehat ? aku panggilkan Dokter ya ?"


ucap Violin memegang dahi Andi dengan cemas.


Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,

__ADS_1


"Kamu tenang saja, aku tidak apa-apa, tidak perlu repotin dokter, aku hanya sedang malas terapi saja.."


Violin duduk di samping Andi dan berkata,


"Kamu kenapa sayang ? apa ada yang menganggu pikiran mu.."


"Kamu gak sedang marah dan kecewa dengan ku kan ?, karena aku datang agak telat ?"


tanya Violin hati hati.


Andi tersenyum lembut dan berkata,


"Kamu berpikir kemana ? jangan ngelantur, kamu begitu baik dan sempurna.."


"Aku bahkan takut terlambat mengucapkan terimakasih kepada mu, bagaimana mungkin aku akan bisa kecewa, apalagi marah pada mu..?"


"Tidak sayang, sebaliknya aku sangat bersyukur dan berterima kasih, kamu sudah selalu menyediakan waktu untuk ku setiap hari.."


"Akulah yang selalu merepotkan mu,.."


ucap Andi sambil tersenyum lembut.


Mendengar jawaban Andi, Violin pun tersenyum lega dan berkata,


"Syukurlah kalau kakak baik baik saja, terus kak Andi ingin ngobrol apa ?"


"Ayo kita ngobrol-ngobrol saja.."


"Gakpapa kalau kak Andi sedang gak mood ikut terapi, biar Lin temani kakak ngobrol ngobrol di sini saja.."


ucap Violin sambil tersenyum mesra.


Andi mengangguk, kemudian dia menoleh kearah Violin dan berkata,


"Sayang kamu hari ini sangat sibuk ya,? sehingga agak telat, gak seperti biasanya..?"


"Kalau kamu sedang sibuk, gak perlu maksa untuk datang lah kesini.."


"Cukup ngobrol lewat telpon juga gak papa.."


ucap Andi sambil menatap mata Violin.


Violin tidak berani beradu tatap mata dengan Andi.


Dia memilih menatap kearah lain, seolah olah sedang mengingat kejadian sebelum kemari.


"Itu tadi ada bis yang mogok ditengah jalan, aku sedikit terjebak macet, macetnya cukup panjang dan sedikit agak parah di sana, sehingga aku sedikit telat, maaf ya sayang.."


ucap Violin sambil menyentuh tangan Andi dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2