
Dengan kondisi Andi yang seperti ini, mau tidak mau demi kenyamanan bersama, Berry harus merogoh kocek lebih dalam.
Tapi tabungan dia dan Andi kini sudah cukup banyak, soal keuangan tidak ada yang perlu di khawatirkan..
Sementara itu Violin setelah selesai dari sekolah dengan penuh semangat, dia langsung membawa motor nya menuju RS M seperti biasanya.
Tapi saat tiba di kamar Andi menginap, dia sangat kaget mendapati kamar Andi kosong melompong tidak ada siapa-siapa.
Bahkan semua barang Andi pun sudah tidak ada semuanya.
Dengan panik Violin langsung menelpon Berry, karena Berry adalah orang terakhir yang menjaga Andi semalam.
Tapi saat terhubung HP Berry terus mereject nomornya, seolah olah nomornya sudah diblock oleh Berry, sehingga semua panggilan nya tidak bisa masuk.
"Keparat kamu Berry, berani main main dengan ku.!
"Awas bila ketemu nanti..!"
teriak Violin kesal.
Violin coba menghubungi HP Andi, tapi selalu terdengar jawaban,
"Maaf,.. telpon yang anda tuju belum terpasang..."
Dia terus mencoba menghubunginya beberapa kali tapi hasilnya selalu sama.
Violin lalu buru-buru berlari kearah meja perawat jaga di lantai 3 tersebut, untuk menemui beberapa perawat yang sedang bertugas di sana.
Dengan nafas sedikit terengah dan wajah panik, Violin langsung bertanya,
"Mbak maaf, pasien atas nama Andi di kamar 301 VIP kemana ya mbak ?"
tanya Violin dengan wajah cemas
Salah satu dari petugas jaga itu berkata,
"Sepertinya dari semalam pasien yang ganteng dan lumpuh itu, sudah keluar deh dari rumah sakit.."
"Sebentar mbak coba saya cek dulu datanya di komputer.."
ucap perawat jaga lainnya, yang kebetulan duduk depan meja komputer.
Sesaat kemudian dia menatap Violin dengan heran dan berkata,
"Maaf nona,.. siapanya pasien ya ?"
"Aku tunangannya.."
ucap Violin singkat.
Melihat seragam SMA dan wajah Violin, perawat itu kurang percaya.
Tapi hal itu bukan urusan nya.
Dia kemudian berkata,
"Nona,.. pasien dari semalam sudah cek out dari Rumah Sakit, pengurusnya adalah Berry..."
"Kemana mereka pergi..?"
tanya Violin dengan wajah kesal,.dia semakin kesal dengan Berry, yang berani membawa pergi Andi tanpa mengabarinya.
__ADS_1
"Maaf nona,.. kalau hal itu kami tidak tahu, yang jelas mereka tidak sedang pindah Rumah sakit.."
ucap perawat di depan komputer memberi penjelasan.
"Baiklah mbak, terimakasih.."
ucap Violin dengan wajah lesu.
Dengan langkah lemas, dia berjalan menuju parkiran motornya, sambil berjalan sambil berpikir sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
Kenapa Andi tiba-tiba keluar dari rumah sakit secara diam-diam, hp juga tidak aktif.
Berry tidak mungkin berani membawa Andi meninggalkan rumah sakit, bila bukan atas permintaan Andi sendiri.
Sambil melangkah dia terus berpikir, hingga bunyi klakson mobil Honda CRV warna putih.
Membuat dia terlonjak kaget,.dan kembali tersadar dari lamunannya.
Saat dia menoleh melihat siapa pengendara mobil yang mengagetkan dirinya.
Saat melihat pengendaranya adalah Ronaldo, yang sedang tersenyum ramah.
Emosi Violin langsung naik, saat melihat pengendaranya adalah Ronaldo.
Dia langsung teringat perbuatan yang Ronaldo lakukan padanya kemaren, ditambah dengan keusilannya sekarang.
Violin langsung melampiaskan semua emosi dan kekesalan nya pada Ronaldo.
Violin diam diam mengeluarkan sebuah botol kecil, dari dalam tasnya.
Setelah berdiri di samping Ronaldo tanpa banyak bicara, dia langsung menyemprotkan botol ditangan nya kearah mata Ronaldo.
jerit Ronaldo kesakitan sambil menggunakan tangannya, untuk menutupi kedua matanya yang terasa perih.
Cairan gas airmata itu, langsung membuat sepasang matanya merah dan sulit di buka.
"Sukurin.. rasakan itu bajingan..!!"
teriak Violin kesal.
Kemudian dia langsung berlalu dari sana, meninggalkan Ronaldo yang sedang kesakitan.
Saat sampai di motor nya, Violin yang sedang mengomeli Ronaldo.
Tiba-tiba dia teringat dengan pembicaraan nya kemaren sore dengan Andi, yang bersikap aneh.
Tidak biasanya Andi memilih bolos dari acara terapinya dengan alasan lelah.
Dan memilih duduk ngobrol dengan nya, padahal biasanya Andi selalu semangat dan pantang menyerah saat menjalani terapinya.
Violin wajahnya menjadi pucat saat teringat Andi kemaren menanyakan dirinya kenapa datang terlambat.
Kemarin karena malu dan takut Andi cemburu, dia memilih berbohong, bahwa jalanan macet, karena ada kecelakaan lalulintas.
Kelihatannya pertanyaan Andi kemaren hanya ingin menguji kejujurannya.
Padahal Andi pasti sudah melihat semua yang terjadi antara dia dan Dodo.
Pasti inilah alasan Andi, memilih pergi darinya secara diam-diam.
Batin Violin dengan wajah pucat dan mata sedikit berkaca kaca.
__ADS_1
Dengan buru buru dia mengendarai motornya, menyusul ke kost Andi.
Dia hanya bisa berharap Andi masih di sana, dan bersedia mendengarkan semua penjelasan nya dan memaafkan kebohongannya kemaren.
"Aih mengapa aku begitu bodoh, dan tidak peka dengan perubahan sikap kak Andi kemaren.."
"Violin kamu telah mengacaukan kebahagiaan, yang sudah ada di depan mata mu.."
gumam Violin memaki dirinya sendiri.
Saat tiba di depan kost Andi, Violin langsung memarkirkan motornya, lalu berjalan terburu-buru ingin menuju ke kamar Andi.
"Hei Lin mau nyari Andi dan Berry ya ?"
tanya salah seorang penghuni kost yang sedang ngumpul di depan kost bersama teman temannya.
Violin mengenali pemuda itu, karena mereka adalah langganan katering ibunya.
"Ya Don kak Andi dan Berry ada ?"
tanya Violin tidak jadi melangkah masuk kedalam kost, melainkan berbelok arah menghampiri Doni.
"Kamu telat Lin, dari semalam mereka berdua sudah pindah dari sini.."
"Emangnya kak Andi gak ngabarin kamu ?"
tanya Doni sambil menatap kearah Violin dengan heran.
Mendengar ucapan Doni,.seluruh tubuh Violin langsung lemas.
Bila tidak ingat di situ banyak orang, ingin rasanya dia duduk di lantai dan menangisi kebodohannya sendiri.
"Mereka berdua pindah kemana Don ?"
tanya Violin putus asa.
"Pastinya aku kurang tahu, cuma menurut Berry mereka berdua pindah keluar negeri."
ucap Doni sambil menatap Violin dengan kasihan.
Sedikit banyak sebagai penghuni lama di kost ini, dia tahu hubungan Violin dan Andi yang sedikit tidak biasa.
Mendengar jawaban Doni, violin semakin putus asa dan sedih.
Sekali ini dia tidak bisa menyalahkan siapa siapa, semua adalah murni salahnya.
"Makasih ya Don,.. infonya,.. bye aku cabut dulu.."
ucap Violin lesu lalu berlalu dari sana.
Violin sudah tidak punya arah tujuan, selain pulang kerumahnya, sekali ini, dia benar-benar tidak akan pernah bisa bertemu dengan Andi lagi.
Saat tiba di rumah, baru saja memarkirkan motornya HP Violin tiba-tiba berbunyi, ada telpon masuk datang dari Wilona Ciu ibunya Andi.
Tiba-tiba timbul harapan Violin, Andi mungkin saja cuma pulang ke rumah orang tua nya saja.
Dengan buru buru violin mengangkat telepon tersebut dan menjawabnya.
"Ya halo ma,..apa kabar ?"
"Baik nak, gimana kabar kalian di sana,? tadi mama telpon ke Andi gak angkat, telpon ke Berry juga gak nyambung."
__ADS_1