AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
MELAWAN RIO DAN SUSI


__ADS_3

Andi menatap Viona dengan kasihan, dia lalu berkata,


"Sar aku temani mereka kesana sebentar, bila ada panggilan pertandingan, telpon saja aku akan langsung kembali."


Sarah mengangguk dan berkata,


"Pergilah, di sini serahkan ke aku."


Andi tertawa gembira dan berkata,


"Terimakasih banyak Sar.."


Lalu dia berjongkok depan Viona menunjuk punggungnya.


Viona tertawa gembira, dia langsung maju nemplok di sana sambil berkata,


"Makasih sayang.."


Andi mengangguk kemudian melirik kearah Santi, memberi kode agar ikut dengan nya.


Ketiga orang itu pun bergerak meninggalkan area pertandingan menuju depan gedung olahraga.


Benar saja seperti yang Sarah katakan, di depan pagar gedung olahraga hanya ada dua tempat makan.


Yang satu jual bakso yang lainnya jual soto Betawi.


Yang Soto Betawi tidak terlalu ramai, tapi yang bakso ramai sekali yang antri.


Andi menurunkan Viona, Kemudian berkata,


"Aku akan bantu pesankan untuk kalian, kalian tunggu di depan gedung aja."


"Di sana terlalu ramai orang yang berdesak-desakan.."


Santi dan Viona mengangguk setuju.


Andi pun buru-buru mengikuti barisan antrian berdesakan di sana.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Andi berhasil mendapatkan 3 mangkok bakso buat Santi dan Viona.


Andi tidak hapal selera makan Viona, apakah menggunakan kecap saos tomat dan cabe lengkap atau polos atau saos kecap tanpa cabe.


Jadi buat jaga-jaga dia sengaja pesan 3 macam, untuk dipilih.


Untungnya Andi mengambil langkah seperti itu, karena ternyata Viona memang suka nya yang polos, tanpa saos kecap dan hanya menggunakan sedikit sambal.


Saat kedua gadis itu mulai makan, panggilan telepon dari Sarah masuk.


Andi langsung mengangkatnya dan berkata,


"Ya Sar.."


"Sekarang di.."


ucap Sarah cepat..


"Ok.."


jawab Andi sambil mematikan HP nya dan berkata,

__ADS_1


"Aku kedalam dulu ya, kalian makan aja dengan santai."


Kedua gadis yang mulutnya sedang penuh, hanya bisa menjawab dengan menganggukkan kepala mereka.


Andi meletakkan sebotol air mineral di depan mereka.


Lalu dia buru-buru berlari masuk kembali ke lapangan pertandingan.


Andi langsung menemui Sarah yang sedang menunggu nya.


Sarah berbisik kepada Andi ,


"Di,... lawan kita kali ini sangat berat hati-hatilah.."


"Kita akan bertanding di lapangan 3 melawan Rio dan Susi."


"Rio kamu pasti sudah kenalkan,?"


"Tapi yang perlu kamu waspadai bukan Rio, tapi sepupunya Susi."


"Susi pemain nasional, sering ikut berbagai ajang besar mewakili negara, dan langganan medali emas di setiap pertandingan nya."


ucap Sarah memberi penjelasan sambil berjalan disisi Andi .


Andi mengikuti Sarah menuju lapangan 3, di pinggir lapangan ada sebuah bangku, Andi meletakkan tasnya di sana.


Andi menukar raket bagusnya dengan raket buruknya yang sudah tua dan sedikit berkarat.


Sarah menatap Andi dengan heran dan berkata,


"Kamu serius mau pakai raket jelek itu ? sini aku lihat raketnya.."


"Anjrit raket mu di,.. berat banget, dari baja ya di,... ?"


Andi Tersenyum dan mengangguk, kemudian menerima kembali raket itu dari Sarah,


"Kalau aku pakai raket itu pasti pergelangan tangan ku bakal cedera di buatnya."


"Tapi kepala raket sangat berat, itu sangat cocok dengan orang yang memiliki pukulan keras.."


ucap Sarah sambil menatap Andi.


Andi mengangguk sambil tersenyum berkata,


"Kamu benar Sar..khasiat raket ini baru akan terlihat saat kita main nanti."


"Aku sengaja pakai raket ini , sebagai antisipasi terhadap sepupu Rio."


"Tapi kelincahan mu dalam mengembalikan bola, akan terganggu bila gunakan raket itu.."


ucap Sarah mengingatkan.


Rio tersenyum penuh percaya diri dan berkata,


"Kamu tenang saja Sar, kita lihat sikon nanti.."


Andi dan Sarah kemudian turun kelapangan melakukan pemanasan ringan, bersebelahan dengan Rio dan sepupunya Susi.


Andi tidak ingin musuh mengetahui Permainan nya, jadi dia hanya memukul asal mengembalikan bola dari Sarah saja.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian pertandingan pun di mulai, sekali ini Andi beruntung, saat di undi dengan koin.


Andi mendarat giliran servis duluan, Andi berencana ingin secepatnya menyelesaikan pertandingan ini, kalau bisa tidak perlu pakai pindah bola.


Andi memberikan servis pertama ke Rio yang menatapnya dengan tajam, seakan-akan ingin menghabisi nya.


Andi menanggapinya dengan tersenyum tenang.


Semua gerak-gerik Andi dari awal hingga pertandingan berlangsung, selalu di amati oleh Susi dengan penuh ketertarikan.


Insting juara Susi berbisik pada nya, dia harus berhati-hati dan mewaspadai Andi.


Andi melakukan servis bola pendek kearah Rio, Rio langsung maju menyambar dengan cepat memberikan tekanan.


Tapi Sarah berhasil mengembalikan bola dengan baik Kearah belakang Rio.


Rio tidak bergerak mundur, dia mempercayakan ke Susi untuk mengambil bola itu.


Susi membalas dengan pukulan Lop tinggi kebelakang secara menyilang Kearah Andi.


Dia ingin menguji Andi, ujiannya di sambut baik oleh Andi, yang sudah mundur kebelakang melompat tinggi dan memberikan sebuah Smash mengerikan lurus kearah kiri Susi.


Pukulan Andi sangat keras, karena didukung dengan raketnya yang berat.


Bola melesat dengan kecepatan tinggi seperti peluru kearah lapangan kiri Susi.


Susi Bergerak cepat mengantisipasi serangan tersebut.


Susi sangat lincah gerakan nya juga gesit dan cepat, dia berhasil mengembalikan Smash yang keras dari Andi dengan sangat baik.


Andi kembali melompat dan memberikan Smash kedua, yang lebih keras lagi secara menyilang kearah Rio.


Rio yang berdiri di posisi agak kedepan, hanya membungkuk menghindar bola yang sangat keras dan cepat itu lewat.


Tapi Susi yang kakinya seperti punya per, dia sudah kembali ke posisi kanan kembali menyambut dan mengembalikan bola tersebut lurus kebelakang.


Sarah tidak mau mundur mengganggu Andi, dia tetap fokus menunggu pengembalian tanggung dari Susi.


Andi kembali melakukan Smash tipuan, di mana bola hanya di gesek dengan raket di miringkan.


Sehingga bola jatuh dengan cepat, tapi ada di belakang Rio dan di depan Susi agak nanggung bolanya.


Tapi lagi-lagi dengan lincah Susi, bisa mengembalikan bola kearah kanan Andi.


Andi terpaksa harus berlari mengejar kearah itu, sambil melepaskan tembakan ketiga yang jauh lebih keras lagi secara menyilang.


Sekali ini Susi menyerah, saat dia sampai di lokasi, bola sudah terlanjur menyentuh lantai didalam garis. Maka point' pun bertambah buat Andi,


Sepanjang pertandingan, penonton hanya menonton dengan tegang, sehingga lupa berteriak, baru saat bola masuklah mereka baru pada berteriak.


.


Susi terus mengumpan Andi melakukan smash keras.


Susi ingin menguras tenaga Andi, tapi hingga point' 15 0 nafas Andi tetap biasa-biasa saja.


Di sini Susi baru menyadari kesalahannya, Andi tidak berhasil dia buat lelah sama sekali.


Maka pertandingan pun di lanjutkan ke babak kedua.

__ADS_1


__ADS_2