
Setelah melakukan pemeriksaan berulang kali di bagian kaki Andi, Prof Peter Ho menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Maaf pak Andi, kaki mu mungkin untuk sementara waktu mengalami kelumpuhan.."
"Anda tidak akan bisa menggunakan nya untuk sementara waktu ini.."
Andi menatap kearah Prof Peter Ho dengan cemas dan berkata,
"Kapan kaki ku bisa normal kembali dok..?"
"Itu sulit di pastikan pak Andi, bisa seminggu bisa setahun, bahkan mungkin bisa seumur hidup.. tidak ada yang bisa memastikan nya.."
"Andi terduduk lemas sambil bersandaran di sandaran kasur."
Diam diam Andi melirik kearah kekasihnya, untuk melihat reaksi kekasihnya saat tahu dirinya lumpuh.
Tapi Andi tidak menemukan reaksi kaget, menyesal, dan kecewa di wajah kekasihnya.
Dia menemukan Violin, malah sedang tersenyum lembut penuh pengertian, dan memberikan anggukan dan gerakan tangan sebagai dukungan moril penuh padanya.
Andi merasa terharu dengan sikap yang di tunjukkan oleh kekasih kecilnya ini.
Tapi di sisi lain hatinya juga merasa
sedih dan kasihan dengan nasib kekasih kecilnya itu.
Bagaimana dia akan menjalani kehidupannya bersama dirinya, bila dia benar-benar lumpuh seumur hidup.
Ini sangat tidak adil bagi seorang gadis seumur dia, untuk hidup bersama pria dewasa yang cacat.
Andi di dalam hati merasa sedikit ragu untuk meneruskan hubungan yang sangat tidak adil bagi Violin.
Tadi saat Ronaldo yang jauh lebih muda darinya hadir di dalam ruangan.
Dia bisa merasakan reaksi tidak wajar dari Ronaldo, maupun violin yang berada di dalam dekapan nya.
Andi merasakan sepertinya diantara kedua orang itu memiliki suatu rahasia tersembunyi.
Meski Andi sudah memutuskan tidak akan bertanya, ataupun mencari tahu lebih lanjut, yang hanya akan menyakiti perasaan nya sendiri dan Violin.
Tapi di dalam hati, dia harus akui Ronaldo lah yang lebih sepadan, bila berdampingan dengan Violin, ketimbang dirinya yang jauh lebih tua dan cacat pula.
Tapi semua ini hanya muncul di dalam pikiran Andi saja.
Andi tentu tidak ingat lagi siapa Ronaldo, dia hanya mengenali Ronaldo lewat name tag nya.
"Pak Andi, kami datang untuk membawa pak Andi pergi melakukan pemeriksaan, secara lebih detil.."
"Pak Andi tidak berkeberatan bukan..?"
__ADS_1
tanya Prof Peter Ho hati hati.
Andi tersenyum dan berkata,
"Silahkan saja dokter, lakukanlah yang terbaik, aku tidak ada pendapat.."
"Nona Violin kami pinjam dulu..."
ucapan Prof Peter Ho yang ingin mengatakan kakak mu, tapi Violin dengan cepat langsung memotongnya.
"Tidak apa-apa Prof silahkan saja, tolong bantu calon suami ku sebisa mungkin sembuhkan lah dia Prof.."
ucap Violin memotong ucapan Prof Peter Ho.
Prof Peter Ho sedikit terkejut mendengar ucapan Violin, dia menatap Violin dengan penuh tanda tanya.
Lalu menoleh menatap putranya menuntut penjelasan, tapi Ronaldo tidak bicara' apa apa.
Dia hanya dengan wajah kesal berkata,
"Ayah aku langsung pergi menyiapkan peralatan di ruang periksa ."
Setelah itu tanpa banyak bicara, dia langsung berlalu dari ruangan tersebut dengan wajah BT.
Violin tentu tahu dan mengerti, dia tidak terlalu perduli,.. malah dia senang bila Ronaldo pergi.
Yang menjadi kekhawatirannya cuma satu, dia takut Ronaldo membongkar semua nya di depan Andi, maka hancurlah kebahagiaan kecil yang baru dia rasakan beberapa saat ini..
Andi tidak bodoh, sekali lihat pun dia sudah bisa menebak situasi di hadapannya.
Kelihatannya memang benar dokter muda bernama Ronaldo itu punya hubungan khusus dengan calon istrinya Violin.
Sejauh mana hubungan mereka, Andi tidak tahu, yang jelas mereka pasti saling mengenal dan cukup akrab.
Sedangkan prof yang ada di hadapannya ini, yang bernama Peter, ayah dari dokter muda Ronaldo, seperti nya dia juga kaget saat mengetahui Violin adalah tunangan ku..
Pikir Andi yang mengambil kesimpulan di dalam hati.
Andi tak lama kemudian di bawa pergi periksa,.di ruang pemeriksaan, yang berlangsung hampir 3 jam.
Violin dengan setia duduk menanti di luar ruangan, Berry, ko Ahong, dan Wilona Ciu ibu kandung Andi juga ikut hadir di sana.
Mereka saat tiba langsung mendapatkan penjelasan dari Violin mengenai kondisi Andi.
Mereka semua tentu sangat gembira dan bersyukur, dengan keadaan terbaru Andi.
Berry dan ko Ahong sudah mendapatkan pesan terpisah dari Violin, agar mengikuti sandiwaranya.
Kedua orang itu tidak berkeberatan, mereka justru menganggap cara yang Violin lakukan untuk Andi saat ini adalah cara terbaik.
__ADS_1
Agar Andi bisa pulih dan bangkit kembali, untuk menjalani kehidupan normalnya, tanpa harus memikirkan Viona lagi.
Setelah menghabiskan waktu hampir 3 jam lebih, akhirnya Andi di kembalikan lagi keruangan rawat inap nya, oleh perawat rumah sakit.
Sedangkan Violin menemani Wilona Ciu, ibu kandung Andi duduk di hadapan Prof Peter Ho yang sedang memberikan penjelasan hasil pemeriksaannya.
"Untuk saat ini setelah melalui pemeriksaan menyeluruh, kami menemukan kondisi pasien sangat normal dan sehat..."
"Selain kelumpuhan dan ingatannya yang hilang, kami tidak menemukan kejanggalan lainnya.."
ucap Prof Peter Ho memberikan penjelasan.
Prof Peter Ho kemudian menuliskan selembar resep dan menyerahkannya pada Wilona Ciu dan Violin.
"Tolong tebus resep ini, ini hanya obat jaga jaga.."
"Obat ini hanya di berikan, bila Andi tiba-tiba sakit kepala hebat, bila tidak,.. obat ini tidak perlu di berikan."
Violin menerima nya dan berkata,
"Terimakasih banyak Dok, bila tidak ada hal lain kami permisi dulu.."
Prof Peter Ho mengangguk kearah Wilona Ciu dan Violin, lalu sambil tersenyum,.dia berkata,
"Nona Violin bisakah kamu tinggal sebentar ? aku ada beberapa hal pribadi yang ingin ku bicarakan dengan mu .?"
Violin agak terkejut mendengar permintaan Prof Peter Ho, dia dengan sedikit terpaksa mengangguk dan berkata,
"Baik Prof Peter Ho..."
Mama Andi Wilona Ciu, mengangguk hormat dan berkata,
"Terimakasih banyak Prof,.. kalau begitu, biar saya yang permisi duluan, sekalian saya mau pergi melihat keadaan Andi.."
Prof Peter Ho mengangguk sambil tersenyum ramah kearah mama Andi.
Setelah mama Andi berlalu dari sana.
Prof Peter Ho pun kini menatap Violin dengan tajam, dan berkata,
"Maaf nona Violin, sebenarnya apa hubungan kamu dan pasien Andi,? serta hubungan mu dan anakku Ronaldo.?'
Violin tersenyum canggung mendengar pertanyaan Prof Peter Ho, tapi dia tetap menjawabnya.
"Prof hubungan ku dan putra prof Dodo adalah hanya sebatas teman baik saja.."
"Dodo menyukai saya, itu adalah hak Dodo, saya gak bisa melarangnya,.."
"Tapi mengenai saya mau dekat dan menyukai siapa, itu adalah sepenuhnya hak dan urusan pribadi ku.."
__ADS_1
ucap Violin sambil menatap Prof Peter Ho dengan tegas.
Prof Peter Ho tersenyum canggung dan hanya bisa mengangguk dalam diam.