AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
DI DEPAN GEDUNG PEMBERKATAN


__ADS_3

"Kamu lihat pa,.. Papa baca..mama gak kuat nerusin bacanya, mama sedih pa..mama benar'benar sedih..pa.."


ucap Mama Viona sambil menangis sedih dalam pelukan suaminya.


"Ya ma, papa tahu, Andi memang pemuda pilihan yang sangat baik, putri kita tidak berjodoh dengan nya."


"Itu adalah ketidakberuntungan nya, ini semua sudah takdir, kita bisa apa ?"


Mama Viona sambil menghela nafas sedih, dia kembali berkata,


"Meski Andi bukan anak kandung mama sendiri, tapi mama benar benar menyukai anak itu..pa.."


"Ya ma, papa juga sama dengan mama, tapi ini semua sudah takdir dari yang kuasa."


"Lebih baik kita turuti saja permintaan Andi, demi kebaikan kedua belah pihak.."


"Baik buat Andi, juga baik buat kebahagiaan anak kita Viona kedepannya, bersama pilihannya."


ucap Papa Viona mencoba membujuk istrinya.


"Mama tidak rela pa..menantu sebaik itu..lepas begitu saja, mama sungguh sungguh tidak rela.."


ucap Mama Viona sesunggukkan.


"Ya ma, papa paham, tapi kita bisa apa ? yang mau menikah kan putri kita, bukan kita, bila dia tidak berkenan,.. kita juga tidak bisa memaksanya..benar tidak ?"


"Papa yakin di balik ini, Viona juga pasti memiliki ceritanya sendiri yang tidak mudah."


"Kita tidak mengerti keseluruhan masalah, ada baiknya kita tidak menghakiminya langsung.."


"Ingat bagaimana dulu kita menghakimi Andi, tanpa mengenalnya, hasilnya kita sekarang malah sangat suka kan dengan anak itu.."


ucap papa Viona sambil memeluk lembut istrinya.


Mama Viona mengangguk dan berkata,


"Baiklah pa,.. kita berangkat kesana.. anggap saja ini untuk memenuhi pesan Andi.."


"Mama datang bukan demi Viona, mama datang karena ngasih muka ke Andi.."


ucap mama Viona masih kurang puas.


"Susah payah habis uang banyak, kita kasih kuliah, belum tamat malah memilih menikah dengan bajingan itu."


"Setiap mengingat hal itu rasanya mangkel hati mama pa.."


ucap mama Viona sambil meremas baju didadanya sendiri.


Papa Viona hanya terdiam dan menghela nafas panjang.


Sesaat kemudian baru berkata,

__ADS_1


"Sudahlah ma yang terjadi biarlah terjadi, kini harapan kita jatuh pada violin, semoga setelah melihat pengalaman kakak nya."


"Dia bisa lebih baik dan tidak mengikuti jejak kakaknya."


ucap Papa Viona sambil membelai lengan istrinya.


"Sayang Violin, masih kecil pa..kalau selisih umurnya dengan Viona cuma satu dua tahun, mama rela kok dia gantikan kakak nya menjadi istri Andi.."


ucap mama Viona sambil termenung.


"Mama ini ngomong apa, ngawur deh..meski kita setuju, Violin bersedia..mama pikir Andi mau menerimanya..?"


"Mama terlalu meremehkan perasaan Andi terhadap Viona ma, sebagai laki laki papa lebih paham.


Perasaan Andi seumur hidup tidak akan pernah berubah terhadap Viona ma.."


ucap papa Viona menatap istrinya dengan serius.


"Bila benar seperti yang papa katakan, mama makin merasa kasihan pada Andi pa.."


ucap mama Viona sedih.


"Sudahlah ma masalah anak anak, biarlah mereka menanganinya sendiri, agar mereka belajar dewasa.."


"Sekarang lebih baik kita cepat istirahat, agar besok pagi pagi kita bisa menyelesaikan pesanan pelanggan kita."


"Sebelum kita berangkat ke kota B..."


ucap papa Viona sambil merangkul bahu istrinya, kemudian membimbingnya menuju kamar mereka.


Suasana bahagia terlihat jelas di wajah mempelai pria dan ibu mempelai pria.


Sedangkan Viona terlihat biasa saja, dia hanya berusaha tersenyum, agar tidak terlihat bersedih hati.


Tatapan matanya terlihat sedih dan lelah.


Hampir semalaman hingga pagi Viona tidak bisa tidur, bukan karena memikirkan pernikahan nya.


Tapi dia justru selalu merasa bersalah, dan selalu terbayang wajah Andi, saat menerima keputusan darinya beberapa hari yang lalu.


Dia terus berpikir entah bagaimana kondisi Andi saat ini ? dan bagaimana Andi menghadapi kekecewaan dan keputusasaan nya kedepannya.?


Viona hanya mengundang Santi Sarah dan semua teman kampusnya, tapi dia sengaja melewatkan Andi.


Dia takut dirinya tidak kuat bila melihat Andi muncul di hadapannya.


Sedangkan Wajah Ferdinand ayah Rio terlihat sangat tidak sedap dipandang, wajahnya gelap seperti kain pel yang belum di cuci setelah di gunakan.


Dia tidak berkata apa-apa, tapi dari ekspresi wajah nya, terlihat sekali, kalau dia tidak senang dengan perkawinan putranya.


Begitupula dengan ekspresi ayah dan ibu Viona saat melihat bahwa calon besannya ternyata adalah musuh bebuyutan keluarga mereka.

__ADS_1


Mereka berdua juga mengeluarkan ekspresi yang tidak kalah suramnya dengan Ferdinand.


Hanya mama Rio dan Rio yang terlihat berusaha mencairkan suasana, dengan mendekati kedua orang tua Viona dan mengajak ngobrol basa basi dengan ramah.


Violin juga ikut hadir mendampingi kakak nya bersama Santi


Baik Santi ataupun Violin mereka berdua terlihat sangat cantik dengan pakaian pendamping pengantin wanita.


Viona memilih Santi sebagai pendampingnya, Santi tadinya ingin menolaknya.


Tapi berhubung mendapatkan pesan dari Andi, akhirnya Santi bersedia menerima tawaran Viona untuk menjadi pendampingnya.


Sepanjang perjalanan menuju acara pemberkatan, Viona beberapa kali, ada menanyakan keadaan Andi pada Santi.


Tapi Santi menolaknya dengan halus untuk berkomentar, dia meminta Viona fokus saja dengan pernikahannya tak perlu lagi memikirkan Andi.


Karena itu semua sudah jadi masa lalu dan tidak ada gunanya lagi.


Sarah memilih tidak hadir, beralasan perkuliahan sedang berjalan tidak bisa di tinggalkan.


Yang pastinya Sarah sangat marah dan benci dengan Viona, yang begitu tega mencampakkan Andi begitu saja.


Hanya saja demi jaga perasaan Viona, dia memilih memendamnya, bagaimana pun Viona juga adalah sahabatnya, jadi dia harus pertimbangkan perasaan Viona juga dan menahan emosinya.


Acara pemberkatan berjalan cukup lancar dan aman, hingga sesi foto bersama berakhir semua berjalan lancar.


Hanya saja saat sepasang pengantin keluar dari dalam gedung tempat pemberkatan.


Di depan gedung pemberkatan terlihat Andi berdiri didepan gedung pemberkatan, mengenakan jas dan sepatu lengkap layaknya seorang pengantin pria.


Setelah melihat pasangan pengantin keluar dan sedang menuruni tangga.


Andi pun maju menyalami Rio dan berkata,


"Aku ucapkan selamat pada mu, kamu sudah menang dan aku sudah kalah total.."


"Harap kamu kedepannya bisa menjaga dan menghargai hasil kemenangan mu ini dengan baik."


"Jangan lukai dan sakiti perasaannya, jadikan lah dia menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini.."


"Satu hal yang harus kamu ingat, bila suatu hari nanti kamu tidak menghendakinya lagi.


Jangan pernah melukai perasaannya, telpon hubungi aku, kembalikan saja dia pada ku.."


ucap Andi sambil menatap Rio dengan serius.


Viona yang berdiri di sebelah Rio sudah membuang wajahnya kesamping, tidak berani menatap kearah Andi yang terlihat begitu tampan dalam penampilannya.


Viona menutupi mulutnya sendiri dengan tangannya, mencegah agar suatu tangisnya tidak sampai terdengar keluar.


Airmata nya sudah bercucuran melunturkan riasan wajah nya.

__ADS_1


Rio tersenyum mengejek dan berkata,


"Urusan kami suami istri tidak perlu kamu datang mengkhawatirkan nya."


__ADS_2