AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
BERKUNJUNG KE PABRIK MR BRONSON


__ADS_3

Meski rumah tidak berpagar, tapi untuk menuju bangunan utama kediaman Mr Bronson, perjalanan yang harus di tempuh masih cukup jauh jaraknya dari jalanan kompleks.


Sehingga Berry langsung membawa mobil nya, memasuki jalan masuk menuju kediaman Mr Bronson.


Di samping halaman rumah yang luas di sebelah kanan, berjejer mobil mewah keluaran terbaru dari berbagai merk pabrikan terkenal.


Di bawah arahan petugas parkir, yang mungkin adalah petugas penjaga halaman depan rumah Mr Bronson.


Berry dengan berat hati harus parkir di sebelah mobil mewah, yang body mobilnya, bisa di gunakan untuk bercermin.


Mobil Mustang Clint Eastwood yang sudah tua semakin terlihat tua saat terparkir di sana.


Petugas parkir itu bertindak sebagai penunjuk jalan, dengan hormat dia membawa Berry yang mendorong Andi yang duduk di kursi roda.


Menuju pintu kediaman utama, setelah mereka sampai di depan pintu utama kediaman Mr Bronson.


Di sana sudah ada seorang pria paruh baya, yang berpakaian seragam hitam putih.


Mengantar mereka berdua masuk kedalam rumah yang besar dan mewah tersebut.


Mereka di antar hingga ruangan tengah, di mana terlihat seorang pria tua berusia 70an, berdiri sambil tersenyum ramah menyambut kedatangan Andi dan Berry.


"Tuan ini tamu Andi dan Berry, yang sedang anda tunggu,.."


ucap pria paruh baya yang kelihatannya adalah kepala pelayan kepercayaan tuan Bronson.


"Terimakasih Alfred, kamu boleh tinggalkan kami, pergilah sibuk dengan urusan mu.."


ucap Mr Bronson sambil memberi tanda agar Alfred boleh pergi tinggalkan ruangan tersebut.


Mr Bronson kemudian menoleh kearah Andi dan Berry, lalu berkata,


"Selamat datang teman teman.."


"Maaf kalau boleh tahu yang mana yang bernama Andi ?"


ucap Mr Bronson sambil tersenyum ramah.


Dia lalu maju mengulurkan tangannya menyalami Andi dan Berry dengan hangat


"Saya Berry,.."


ucap Berry sambil membalas menyalami Mr Bronson.


Mr Bronson mengangguk dan berkata,


"Kalau begitu anda pasti adalah Andi bukan..?"


Andi mengangguk sambil menyalami Mr Bronson, dia berkata.


"Maaf kaki ku seperti ini, sehingga tidak bisa menyambut Anda dengan sopan.."


Mr Bronson tersenyum penuh pengertian dan berkata,

__ADS_1


"Tidak apa-apa, itu bukan masalah.."


"Ayo silahkan duduk dengan santai di sini, sambil ngobrol ngobrol.."


ucap Mr Bronson dengan ramah.


Lalu dia mendahului Andi dan Berry, duduk di salah satu sofa mewah yang ada di sana.


Andi tetap duduk di kursi rodanya, hanya Berry yang duduk di kursi sofa tepat disebelah Andi.


Setelah saling duduk berhadapan, Mr Bronson pun langsung memulai pembicaraan,


"Pak Andi langsung saja, pabrik ku itu rencananya akan ku jual dengan harga, US$ 300 juta."


"Bagaimana,..? pak Andi tertarik...?"


Andi tersenyum tenang dan berkata,


"Aku belum melihat pabrik Mr Bronson, aku juga belum periksa kondisi laba perusahaan.."


"Bagaimana aku berani melakukan penawaran,? bila tawar terlalu murah bukankah cuma mempermalukan diri.."


"Sebaliknya bila tawar terlalu tinggi, bukankah aku akan mengalami kerugian yang tidak kecil..pada langkah awal investasi.."


Mr Bronson mengangguk dan berkata,


"Baiklah, bila pak Andi mau melihat lihat pabrik, dan laporan kondisi keuangan pabrik."


"Nanti di sana temui saja Marco manajer keuangan ku, nanti dia bisa memberikan penjelasan dan data detil laporan keuangan pabrik tersebut.."


"Maaf aku sendiri tidak bisa menemani kalian kesana, Karena kondisi kanker paru-paru ku ini, membuat aku tidak mungkin bisa menemani kalian berkunjung ke pabrik..'


"Ini juga salah satu alasan ku ingin menjual pabrik ini, karena aku sudah tidak sanggup mengurusnya.."


Andi mengangguk kecil menanggapi jawaban Mr Bronson.


"Baiklah Mr Bronson, kalau begitu bila tidak ada hal lain, kami juga tidak akan mengganggu, waktu istirahat tuan Bronson terlalu lama, jadi kami mohon permisi sekalian pamit.."


"Beri aku waktu 3 hari, 3 hari kemudian aku akan memberikan kabar pada tuan Bronson, mengenai keputusan ku."


Berry yang duduk di belakang Andi berusaha bersikap setenang mungkin.


Padahal di dalam hati, dia benar benar merasa ketar ketir.


US $ 300 juta darimana mereka punya uang sebanyak itu, bahkan saat ini 100 juta saja, uang mereka tidak sampai.


Berry termenung, hingga Andi menepuk tangan nya memberi kode agar mereka segera tinggalkan tempat tersebut.


Berry pun tersadar, lalu dia buru-buru mendorong Andi meninggalkan tempat itu.


Mr Bronson sendiri segera memanggil Alfred dan memberikan pesan ke Alfred, untuk mengantar Andi berkeliling ke pabriknya.


Alfred mengangguk-angguk kan kepalanya, sambil mendengarkan arahan bosnya.

__ADS_1


Sedangkan Andi dengan santai, duduk di kursi roda nya, di temani oleh Berry, menunggu Alfred di ruangan depan.


Setelah Alfred tiba, dia pun berkata dengan sopan,


"Pak Andi, bagaimana bila kalian berdua ikut dengan mobil kami saja..?"


Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak perlu repot-repot, biar kami gunakan kendaraan kami sendiri saja.."


"Karena setelah ini, kami masih ada urusan lain, demi menghemat waktu, biar kami gunakan kendaraan pribadi kami saja.'


Alfred menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Baiklah tuan Andi, kalau begitu biar kita berangkat sekarang saja.."


Tak lama kemudian terlihat iring iringan mobil Mustang kuno Berry menyusul di belakang mobil Volvo XC40 yang di kendarai oleh supir yang membawa Alfred.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam keluar dari kota New York, di area yang agak pinggiran kota.


Mereka akhirnya tiba didepan gerbang pabrik mobil milik tuan Bronson.


Alfred menunjukkan kartu anggota nya, pintu gerbang langsung di buka oleh satpam penjaga pintu gerbang pabrik.


Kedua mobil itupun meluncur dengan aman memasuki lokasi pabrik.


Alfred membawa Andi dan Berry berkeliling pabrik, sambil di temani oleh manajer operasional pabrik yang menerangkan berbagai macam fungsi mesin mesin pabrik.


Andi hanya menganggukkan kepalanya, dia sendiri tidak terlalu mengerti soal mesin mobil.


Jadi dia hanya menjadi pendengar setia sambil melihat lihat saja.


Setelah puas berkeliling di lokasi pabrik, Alfred pun mengantar Andi pergi temui manajer keuangan Marco yang ada di ruangan kantor, yang terletak di lantai dua bangunan.


Di sini Andi melihat lihat laporan keuangan perusahaan beberapa tahun terakhir.


Meski selalu mengalami penurunan penjualan tiap tahun, tapi laba perusahaan masih cukup stabil.


Karena setiap tahun ada keluar jenis mobil baru dengan harga yang mengalami peningkatan, sehingga laba keseluruhan masih cukup baik.


Setelah mengamati cukup lama, akhirnya Andi berkata


"Pak Marco, boleh saya minta data beberapa laporan keuangan ini.."


Marco terlihat sedikit ragu, dengan wajah takut takut dia melihat kearah Alfred.


Saat Alfred menganggukkan kepalanya memberi ijin.


Marco pun sambil tersenyum dan berkata,


"Boleh saja, pak Andi butuh yang mana, dilipat saja sedikit ujungnya sebagai tanda ."


"Biar nanti sekretaris ku, yang akan meng-copy kan nya buat pak Andi.."

__ADS_1


__ADS_2