
Viona menoleh kearah Rio dan berkata,
"Rio ku mohon,..pada mu..janganlah ..sakiti dia..lagi..ku mohon Rio.."
Rio menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Sudahlah ini bukan urusan kita, ayo ikut dengan ku..!"
Lalu dengan setengah memaksa Rio menyeret Viona untuk masuk kedalam mobilnya.
"Rio tidak,.. lepaskan aku,..tidak..!"
teriak Viona berusaha meronta, tapi dia kalah tenaga.
Sehingga akhirnya dengan setengah di seret, Viona di masukkan kedalam mobil Rio dengan cara kasar, kemudian Rio menutup pintu mobil menguncinya.
Bahkan jendela pun tidak bisa di turunkan oleh Viona, Viona hanya bisa menjerit berteriak dan menangis histeris, melihat Andi di pukuli oleh para satpam dengan tongkat mereka, hingga jatuh tersungkur di atas tanah yang becek dan basah.
Sopir Rio memundurkan mobilnya melewati samping Andi yang sedang tersungkur di atas tanah.
Rio membuka kaca jendelanya meludahi wajah Andi dan berkata,
"Dasar pecundang..!"
Lalu dia menutup kembali kaca jendelanya, memberi kode agar supir nya segera membawa mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
Kondisi tubuhnya yang lemah, ditambah dengan pukulan batin yang di deritanya dan guyuran air hujan yang membasahi seluruh tubuh nya.
Kini ditambah pula dengan insiden, yang terjadi di depan mata nya, di mana pria yang sangat dia cintai, di pukuli oleh para satpam tempat kerja nya hingga jatuh terkapar di atas tanah..
Viona akhirnya jatuh pingsan dalam dekapan Rio.
Di saat mobil Rio telah pergi, sebuah mobil Wrangler hitam tiba di lokasi bersama beberapa mobil Alphard, yang mengikuti mobilnya dari belakang.
Dari dalam mobil Wrangler berjalan keluar, James yang diikuti oleh sekelompok orang bertubuh tinggi besar, dengan pakaian loreng dan wajah tertutup rapat.
Mereka terdiri dari 5 regu satu regu berisi 10 orang dua dari 10 orang itu memegang senapan mesin M46 dan M48, sedangkan sisanya memegang senapan semi otomatis
HK 416.
Begitu turun dari mobil mereka bergerak cepat dengan sikap siaga, mengepung seluruh tempat itu.
Tanpa basa-basi James mengeluarkan sepucuk pistol menembaknya keudara sebanyak 3 kali,
"Dor...! Dor...! Dor...!"
__ADS_1
Dia berjalan cepat menghampiri kearah Andi yang telah tidak sadarkan diri, tergeletak di atas genangan air.
Ke 5 satpam yang memukuli Andi hingga babak belur, kini mereka berlutut di sana sambil mengangkat tangan mereka keatas, dengan wajah pucat ketakutan.. dan tubuh gemetar.
James dengan senyum dingin berjalan menghampiri mereka,
"Dor...! Dor..! Dor...! Dor...!"
terdengar bunyi letusan 4 kali dengan senjata terarah keempat satpam, yang kini tubuhnya tumbang diatas tanah, tak bergerak dengan dahi berlubang dan masih mengeluarkan asap.
James menoleh kearah sisa satu satpam yang wajahnya sepucat kertas dan berkata,
"Siapa biang keladi dari semua masalah ini..cepat katakan..!?"
Satpam itu dengan penuh ketakutan menunjuk kearah pria yang masih terkapar pingsan bersandar di pagar.
James dengan dingin menembak satu kali kejidat satpam itu.
"Dor..!"
tubuh satpam itu langsung tumbang menyusul rekannya yang lain.
James sekali berkelebat, telah muncul di hadapan pria jidat profesor yang masih pingsan itu .
James memukuli pipi pria itu berulang-ulang, hingga pria itu tersadar dari pingsannya.
"Cerita kan semua dari awal apa yang kalian lakukan pada gadis bernama Viona..!"
bentak James dengan suara dingin.
Pria itu mengedarkan pandangannya melihat kebelakang pria yang berjongkok di hadapannya.
Dia semakin ketakutan saat melihat area tersebut telah di kepung, oleh pasukan bersenjata lengkap, dengan wajah tertutup.
Selain itu dia juga melihat tubuh 5 satpam bawahannya, kini terkapar di atas tanah becek, diam tidak bergerak, tidak tahu pingsan atau mati.
Melihat bahwa satu-satunya harapan hidup adalah berkooperatif, menceritakan apa yang dia ketahui kepada orang di hadapannya.
Mungkin dia masih di kasih kesempatan untuk melihat matahari esok pagi,
Dengan suara terputus putus Pria itu menceritakan semuanya dari awal hingga akhir, setelah dia menyelesaikan ceritanya, yang sudah di rekam oleh James.
terdengar bunyi,
"Dor..! Dor..! Dor..!"
__ADS_1
Sebanyak 3 kali, sebelum tubuh pria berkepala profesor itu tumbang keatas tanah dengan 3 lubang di kepalanya yang mengeluarkan asap.
Setelah itu dengan wajah dingin, James berjalan masuk kedalam mobilnya, di mana di kursi belakang terlihat Andi sedang di pangku dan di rawat oleh seorang gadis berambut cokelat bermata biru.
Dia adalah salah satu Dokter wanita di dalam kesatuan pasukan bayaran milik James.
Tadi sewaktu James sibuk mengurus para satpam dan si pria jidat profesor.
Anak buahnya dengan sigap sudah mengevakuasi Andi kedalam mobil, untuk di rawat oleh Dokter wanita berambut cokelat itu.
Sedangkan sisa pasukan James yang lainnya bergerak cepat melumpuhkan seluruh CCTV pabrik dan CCTV pusat di pos satpam.
Dua satpam yang berjaga di pos pun bernasib sama dengan yang didepan.
Semua di lakukan dengan sangat cepat, tanpa meninggalkan jejak, mereka bagaikan bayangan maut yang berkelebatan.
Setelah aman mereka langsung bergerak meninggalkan lokasi.
Untungnya karena cuaca hujan, pemilik warung di seberang pabrik, jauh jauh sebelum insiden Andi, sudah menutup warungnya.
Dan kembali kerumah, sehingga mereka lolos dari tangan elmaut pasukan James.
Saat Andi terbangun dari pingsannya, dia sudah terbaring di sebuah kasur, seluruh pakaiannya sudah di ganti, kepalanya yang terluka juga sudah diperban dan dirawat dengan baik.
Andi mencoba untuk bangun dari kasurnya, tapi kepala belakangnya terasa sangat sakit dan pusing.
Andi duduk sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, perlahan-lahan, ingatan nya mulai pulih..
Dia langsung berteriak histeris,
"Viona... Viona...kamu di mana...!?"
Pintu kamar terbuka, seorang gadis berambut cokelat sebahu dengan mata biru, berjalan masuk kedalam kama.
Dia mengenakan celana panjang ketat, yang menampilkan bentuk betis dan pahanya yang panjang.
Dengan bagian pinggul yang besar dan bulat, dengan pinggang yang langsung.
Untuk bagian atasnya dia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang dilipat keatas sampai di atas siku.
Dua kancing di bagian atasnya di biarkan sedikit terbuka, sehingga menampilkan dua bukit indah dan besar, yang sedikit mengintip keluar dari penutupnya, yang terlihat kekecilan, tidak sanggup menampung dua bukit indah itu.
"Kamu sudah sadar, syukurlah.. luka di bagian belakang kepala mu cukup serius."
"Aku sarankan kamu jangan banyak bergerak dahulu.. bila tidak ingin merasakan kepala mu semakin sakit dan pusing.."
__ADS_1
"Ini minumlah obatnya, agar rasa sakit dan pusing di kepala mu bisa berkurang, juga bisa membantu mempercepat proses pemulihan luka di kepala mu.."
ucap gadis itu santai sambil menyerahkan segelas air putih, dan sebuah gelas plastik mini, berisi beberapa macam pil dengan bentuk dan warna berbeda.