
Melihat wajah Viona yang pucat dan sedikit gugup, Andi mengulurkan tangannya ingin menggenggam tangan Viona menenangkan perasaannya.
Tapi di tengah jalan, Andi menarik tangan nya kembali, sambil tersenyum pahit dia berkata,
"Vi,.. tenanglah,.. ini bukan masalah besar, aku berjanji akan memenuhi permintaan mu."
Viona langsung mengagkat kepalanya yang tertunduk tadi, menatap Andi dengan heran dan terkejut.
Dia tidak habis pikir, kenapa Andi dengan begitu mudah langsung menyanggupi permintaan nya tanpa pikir panjang..
"Di,.. kenapa..?'
tanya Viona sedih terharu, airmata nya langsung bercucuran membasahi wajahnya.
Andi sedikit menengadah menatap langit langit pondok kemudian berkata,
"Vi,.. aku tanya pada mu, bila aku tidak memenuhi permintaan mu, apakah hidup mu akan bahagia..?"
Viona tidak menjawab, dalam diam dia hanya menggelengkan kepalanya.
Andi menatap Viona sambil tersenyum pahit, dia kembali berkata,
"Nah itulah alasan ku menerima permintaan mu, sederhana kan.."
"Tapi di,.."
ucap Viona setengah, dia tidak sanggup meneruskan kata-katanya.
Dia tidak sanggup menutupi rasa haru di hatinya.
Sehingga dia hanya bisa menutup wajahnya dengan sepasang tangan nya,.dia berusaha menahan suara tangisan terharu nya atas sikap Andi.
Andi sebenarnya hatinya terus menerus berteriak agar dia menarik Viona kedalam pelukannya dan menenangkannya agar tidak bersedih dan menangis.
Melihat kondisi tubuh Viona yang seperti itu, perasaan Andi benar-benar seperti diremas remas.
Tapi Andi sadar, Viona kini statusnya adalah istri orang, bila dia melakukan hal itu, dia hanya akan menyulitkan kehidupan Viona kedepannya nanti.
Demi Viona dan kebahagiaan masa depannya, Andi hanya bisa terduduk diam ditempat, sambil bergumam dalam hati,
"Vi bagi ku yang terpenting adalah melihat kamu bahagia, bila dengan ini bisa membuat mu bahagia, tentu aku akan melakukan nya untuk mu.."
"Asalkan kamu bahagia apapun akan aku lakukan untuk mu..nyawa sekalipun tidak akan ragu ku berikan, apalagi cuma gelar kosong.."
"Mengingat kita pernah saling mencintai, pernah tertawa dan menangis bersama, itupun sudah cukup menjadi alasan bagi ku, untuk melakukan hal yang aku bisa untuk membahagiakan dirimu.."
semua ucapan ini tidak ada yang keluar dari mulut Andi, dia menyimpan nya rapat rapat di dalam hati.
Andi tidak ingin membuat Viona semakin merasa bersalah, dan bersedih untuk nya. Andi ingin Viona senang gembira dan bahagia.
__ADS_1
Hanya itu yang ada dalam pikiran Andi saat ini.
Sambil tersenyum lembut Andi berkata,
"Kapan pun Rio siap, aku akan siap memenuhi keinginannya.."
"Vi,.. hari sudah mulai gelap, telponlah Rio sekarang untuk menjemput mu.."
"Sudahlah jangan menangis lagi, ingat jaga kondisi demi bayi dalam kandungan mu itu.."
ucap Andi lembut mencoba menggunakan alasan bayi dalam kandungan Viona untuk menenangkan nya.
Dan kelihatannya itu cukup berhasil, Viona mulai menghentikan tangis nya.
Melihat hal ini Andi pun tersenyum lega dan melanjutkan berkata,
"Vi,.. Kondisi tubuh mu kurang sehat, jangan terlalu lama terkena angin malam."
"Ingat Vi,.. di saat aku tidak berada di sisimu, cukup kamu menjaga kesehatan mu dan hiduplah dengan bahagia, itu sudah merupakan balasan terbaik buat ku.."
"Jangan terlalu banyak berpikir.."
"Nah sekarang hubungi lah Rio, hal lain kamu tidak perlu khawatir.."
ucap Andi mengulangi nya.
Viona mengangguk kecil, masih sambil bercucuran air mata, dia kemudian menghubungi suaminya.
Viona melepaskan jaket Andi, dan mengembalikan nya ke Andi sambil berkata,
"Terimakasih banyak di,.. jaga dirimu baik-baik..aku pergi dulu.."
Setelah berucap Viona langsung membalikkan badannya, tanpa menoleh, sambil menutupi mulutnya sendiri menahan suara tangis.
Viona mempercepat langkahnya meninggalkan Andi menghampiri mobil Rio, yang telah menunggu nya di sana.
Setelah Viona masuk kedalam mobil Rio, mobil itupun melaju pergi melewati hadapan Andi.
Andi hanya duduk diam ditempat menatap bayangan punggung Viona sampai masuk kedalam mobil.
Saat mobil Viona lewat di hadapannya, melalui kaca mobil yang sengaja di turunkan oleh Rio.
Andi bisa melihat Viona yang sedang berusaha menahan tangis dengan kepala sedikit terangkat.
Sedangkan Rio melemparkan senyum mengejek penuh kemenangan kepada dirinya.
Andi hanya bisa tersenyum pahit, dia tahu dengan jelas dirinya telah kalah total dari Rio.
Dia sudah kehilangan semuanya, termasuk semangat hidupnya, setelah gadis yang paling dia cintai dan menjadi harapan masa depannya, direnggut paksa oleh Rio dari sisinya..
__ADS_1
Rio tahu dengan jelas apa kelebihan dan kekurangannya dan dalam hal ini dia harus akui, dia telah kalah total dari Rio.
Dia kalah bukan karena kalah kemampuan dan kecerdasan, dia kalah karena hatinya terlalu baik, hatinya terlalu lembut,. dan dia terlalu mencintai Viona..
Andi menyadari itu semua, dan Andi sedikit pun tidak pernah menyesali semua kelemahannya itu.
Andi hanya menyesal dia tidak bisa berada di sisi Viona untuk memberikan dia kebahagiaan.
Melihat keadaan Viona yang menjadi seperti itu, hati Andi sangat sakit, luka di hatinya yang hampir kering kembali berdarah.
Tapi saat ini tidak ada yang bisa dia lakukan, selain memenuhi permintaan Viona, agar hidup Viona lebih bahagia.. kedepannya nanti.
Meskipun sebenarnya Andi sedikit pesimis, karena Andi tidak percaya Rio akan mencintai dan menyayangi Viona dengan tulus dan sepenuh hati.
Tapi dia tidak berdaya, ini semua adalah pilihan Viona, dia bisa apa ? selain terus berdoa semoga kecurigaan nya keliru.
Andi duduk termenung cukup lama di dalam pondok itu, hingga akhirnya dia mengeluarkan HP nya menelpon ko Ahong.
"Ya halo di,. apa kabar mu sekarang ini..?"
tanya ko Ahong gembira.
"Aku baik ko..ko Ahong sendiri gimana kabarnya..?"
jawab Andi ikut tersenyum terbawa oleh suasana gembira ko Ahong.
"Di,.. kamu tidak mungkin menelpon ku cuma untuk menanyakan kabar ku.."
"Katakan saja apa yang bisa aku bantu, apakah ada hubungannya dengan kasus Ginting kemarin.."
tanya ko Ahong ceplas-ceplos.
Andi tersenyum pahit dan berkata,
"Ko Ahong memang paling mengenal ku, aku memang sedang membutuhkan bantuan ko Ahong.."
"Tapi bukan persoalan Ginting, urusan dengan Ginting sudah selesai.."
"Ginting sudah lewat, alias death..dia tidak kuat terima kenyataan lumpuh total, jadi milih bunuh diri, dan dia sukses melakukannya.."
ucap Andi sambil tertawa.
"Masih tertawa lagi, kamu lah biang keroknya, kamu gak takut dia datang menghantui mu.."
"Aku aja takut, ini aku jadi merinding gara gara kamu bilang dia sudah..."
"Hiihhh ..! ngeri dah.."
ucap ko Ahong lucu.
__ADS_1
Andi hanya tertawa menanggapi gaya ko Ahong yang konyol.
"Ko Ahong ini serius, aku butuh bantuan mu, bila dalam beberapa hari ini ada masuk tantangan dari Rio Ferdinand Chu, tolong bantu terima saja tantangan nya.."