
Mereka kemudian berkejar-kejaran, saat Andi sengaja membiarkan dirinya tertangkap, mereka bercanda tertawa saling gelitik.
Akhirnya berujung Andi menggendong Viona di punggung nya sambil berjalan menuju kost Viona.
Viona terlihat tertawa-tawa dengan sangat bahagia dan dengan cerewetnya, dia tiada berhenti berceloteh di samping telinga Andi.
Andi hanya menanggapinya dengan tersenyum lembut, sambil sekali-sekali menoleh menatap wajah Viona, yang cantik dan sedang bercerita dengan penuh semangat.
Andi menggendong Viona sampai di halaman depan kostnya, dengan perlahan-lahan menurunkan Viona.
Ada perasaan segan bagi Andi untuk menurunkan dan berpisah dari Viona meski hanya sekejap.
Karena saat ini setiap detik setiap waktu kebersamaan mereka, sangatlah berharga buat Andi.
Selepas Minggu ini Viona bukan lagi miliknya, Viona akan secara resmi menjadi milik orang lain.
Viona juga terlihat segan melepaskan pelukannya, andaikan bisa dia ingin Andi menggendong, dia sampai depan kamar.
Sayang nya itu sudah menjadi peraturan kost yang melarang membawa pria masuk kedalam kost-kostan wanita tersebut.
Fiona mencium pipi Andi dengan mesra baru bergegas masuk kedalam kost nya.
"San...san.. Santi...! buka pintunya..!"
teriak Viona semangat.
Tak lama kemudian terdengar pintu di buka dari dalam, terlihat wajah Santi yang cantik terlihat masih mengantuk dengan rambut sedikit awut-awutan
Viona tertawa melihat penampilan teman baiknya ini.
"Ada apa sih Vi...masih ngantuk nih..."
ucap Santi dengan ekspresi malas.
Viona sambil tersenyum nakal berkata,
"Andi ingin mengajak mu ikut kita jalan-jalan sore, dan makan bebek goreng.."
"Tapi kelihatannya aku harus bilang ke dia, Santi ngantuk dan menolak ikut.."
"Hushhh...!!"
"Kamu serius Vi.."
ucap Santi dengan mata terbuka lebar tak percaya.
Semua rasa kantuknya seolah hilang terbawa angin segar dari tawaran Viona barusan..
"Bukannya bila ada aku malah jadi pengganggu buat kalian..?"
tanya Santi ragu dan kurang percaya.
"Ya enggaklah San... kamu kan temanku, dan teman Andi juga.."
"Lagipula ajakan ini datang dari Andi langsung kok, jadi tidak mungkin ada yang merasa terganggu sama sekali.."
"Sudah kalau mau ikut cepat, bersiap-siap lah kasihan Andi menunggu terlalu lama di depan sana.."
ucap Viona menegur Santi.
__ADS_1
Santi mengangguk cepat tanpa memperdulikan Viona, dia segera berganti baju kaos santai dan celana Jeans, merapikan rambut nya dan menutupi rambutnya yang masih sedikit kusut dengan topinya.
Santi melihat penampilannya sendiri didepan cermin, dia tersenyum puas.
Meski terlihat sedikit Tomboy, tapi dia sangat cantik dan manis dengan penampilan seperti itu.
Tapi saat dia mengangkat tangannya keatas dan menciumnya, dia langsung bereaksi seperti ingin muntah.
Dia buru-buru mengambil pewangi disemprotkan ke sekujur tubuhnya.
Baru dia tersenyum penuh percaya diri, lalu mengambil tas kecil dan HP nya, lalu tasnya diselempangkan di lehernya secara menyamping.
Santi pun buru-buru keluar dari kamarnya pergi kedepan kost, sampai di halaman Santi melihat Andi dan Viona sudah duduk di motor.dan sedang melambaikan tangan kearahnya, sambil tersenyum.
Santi berlari kecil menghampiri mereka, Kemudian dia duduk sambil merangkul Viona.
"Di... kuat gak ni motor narik kita bertiga, tar mogok lagi di jalan."
ucap Santi terlihat ragu..
Andi tertawa dan berkata,
"Tenang saja aku yakin kuat kok, asal gak pergi mendaki bukit D atau pergi ke daerah L pasti kuat kok.."
sambil tertawa Andi menjalankan motornya dan berkata,
"Yang penting kita happy, kalaupun mogok tar biar aku yang dorong kalian boleh tetap duduk di.motor.."
Gak lah gila apa ? biar kami turun temani kamu jalan sambil dorong motor itu baru ok .."
ucap Viona.
Yang langsung di ikutin anggukan kepala Santi yang membenarkan kata-kata Viona barusan.
Di mana daerah itu, adalah daerah pusat Nongki muda-mudi. tak jarang ada yang Nongki di sana hingga pagi.
Mereka bertiga menikmati udara sore yang adem, tanpa menggunakan helm, sehingga wajah dan rambut mereka yang tertiup angin terasa sangat segar dan menyenangkan.
Andi tidak membawa motornya cepat-cepat, dia membawanya dengan slow, sehingga mereka bisa mengobrol santai bertiga.
Untungnya karena hari sudah sore, sehingga tidak ada polisi yang mereka temui di perempatan jalan raya yang mereka lewati.
Setelah puas berkeliling dan hari mulai gelap, Andi mampir ke sebuah warung makan di pinggir jalan..
Meski tempat makan kaki lima itu sangat luas, tapi pengunjung yang datang sangat ramai tempat itu terlihat penuh.
Andi mengajak Viona dan Santi mencari tempat duduk dulu, setelah dapat Andi berkata,
"Kalian berdua duduk santai saja di sini, anggap saja bantu jaga tempat agar gak diserobot orang.."
"Biar aku saja kesana mesan makan, ok ?"
Viona dan Santi mengangguk setuju,
"Nah sekarang kalian mau pesan apa ? nasi uduk putih goreng, lauknya lele ayam bebek, pilihan nya dada paha minumannya jeruk es teh manis."
ucap Andi berlagak seperti pelayan resto.
Santi dan Viona pun tertawa melihat aksi Andi.
__ADS_1
Andi sambil tersenyum kemudian berkata,
"Serius... kalian ingin pesan apa ?
Viona berkata,
"aku nasi uduk paha bebek goreng sambal banyakin dan es jeruk.."
Santi lalu berkata,
"Aku sama aja deh ikut Viona biar gak ribet.."
Andi Tersenyum dan berkata,
"Baik... siap... aku kesana pesan dulu.."
Andi pergi tidak lama sudah kembali,
dia duduk disebelah Viona sedangkan Santi duduk diseberang mereka
"Di,... besok malam sudah pertandingan loh, kamu udah siap apa ?"
tanya Santi membuka pembicaraan.
Andi tersenyum dan berkata,
"Persiapan apa, gue sih gak punya persiapan apa-apa tinggal datang temani Sarah tanding cukuplah.."
"Kalau menang ya syukur, kalau kalah juga gak papa,"
"Kok gitu sih di... ?"
"Harusnya kamu lebih serius dong .."
ucap Santi kurang puas.
Andi Tersenyum tenang dan berkata,
"Tentu saja aku serius San, tapi aku memang tidak tahu apa yang harus di persiapkan.."
"Aku berlatih badminton hanya secara otodidak melihat dari TV, sambil bermain melawan teman-teman ku .."
"Aku bukan pemain club' yang terlatih seperti Sarah atau pun Rio.."
"Jadi aku tidak punya latihan dasar dan berbagai persiapan seperti mereka saat akan bertanding."
Santi mengangguk mendengar penjelasan Andi.
Viona menyentuh tangan Andi dengan mesra dan berkata,
"Gak papa di,... aku yakin kamu pasti bisa memberikan kejutan pada mereka, meski bukan pemain klub."
Andi tersenyum dan menepuk punggung tangan Viona sambil berkata,
"Makasih ya Vi.."
"Aduh mesra nya bikin pengen muntah.."
ucap Santi ngeledek sambil tertawa dan pura-pura ingin muntah.
__ADS_1
Andi dan Viona hanya tertawa bersama menanggapi sikap teman mereka yang selalu ceplas ceplos ini.
Selagi mereka sedang tertawa Pelayan sudah datang membawa makanan pesanan Andi.