
Andi sengaja tidak menunggu ataupun menghubungi Violin, dia tidak ingin Violin tahu kondisinya saat ini.
Andi tidak ingin membuat violin cemas dan terganggu pikirannya, karena keadaannya yang babak belur begini.
Dan apabila Viona sampai tahu dia mencari uang cepat dengan mempertaruhkan nyawa.
Viona pasti tidak akan menyetujuinya, Andi bukannya senang berkelahi dan mata duitan, tapi saat ini dia memang tidak punya pilihan selain menggunakan cara instan ini.
Andi tiba di rumah kediaman Bu Norman yang besar dan dan cukup mewah.
Andi membuka pintu pagar melangkah masuk sambil berteriak,
"Permisi...!'
"Permisi...!"
teriak Andi kedua kalinya dengan lebih keras, saat tidak ada orang yang keluar dari dalam rumah..
Panggilan ke dua Andi yang jauh lebih keras, akhirnya terdengar sampai kedalam rumah.
Bu Norman sendiri yang keluar dari dalam rumah menyambut kedatangan Andi dengan sopan dan ramah.
"Nak kamu sudah datang, mari masuk, silahkan duduk."
"Nak nama mu siapa maaf ?'
tanya Bu Norman.
"Panggil saja saya Andi bu.."
ucap Andi sambil tersenyum.
"Nak Andi mau minum apa ?"
tanya Bu Norman ramah.
"Tidak usah repot-repot Bu, saya kemari hanya ingin melunasi janji saya kemaren, untuk melunasi hutang mama Doddy dan Rina."
ucap Andi .
Bu Norman tersenyum dan berkata,
"Mana boleh seperti itu, kamu sudah kemari adalah tamu.."
"Bik...bik Inah...!"
"Ya Bu.. ada apa ya Bu ?"
tanya seorang pembantu rumah tangga yang terburu-buru datang menghampiri Bu Norman.
"Bik tolong buatkan minuman sirup dingin buat tamu.."
"Ohh ya siap Bu.."
ucap pembantu itu lalu pergi menyiapkan nya di dapur.
__ADS_1
Tak lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan segelas sirup dingin berwarna hijau.
Dengan hati-hati dia meletakkan nya di depan Andi.
Lalu pembantu itupun buru buru kembali ke dapur, melanjutkan tugasnya yang belum selesai.
"Silahkan nak Andi, jangan sungkan.."
ucap Bu Norman ramah.
"Makasih Bu, maaf jadi merepotkan.."
ucap Andi sungkan.
Bu Norman tersenyum dan berkata,
"Tidak repot...tidak repot, santai aja nak Andi."
"Ini biar ibu akan hubungi yang lain agar kemari segera.. harap di tunggu sebentar.."
ucap ibu Norman kemudian mulai menelpon satu persatu ibu ibu pemilik warung di sekitar kompleks.
Tak lama kemudian satu persatu ibu ibu pemilik warung mulai berdatangan mereka semua berkumpul di rumah Bu Norman.
Rumah yang tadinya besar dan luas, kini malah terlihat sempit dan penuh sesak.
Ini semua cuma menunjukkan satu kemungkinan, hutang keluarga Viona terhadap warung sekitarnya sangatlah banyak.
Tapi Andi tidak khawatir karena di tangannya kini ada uang 240 juta cash, yang di simpan dalam tas ransel yang di taruh di atas meja di hadapannya.
"Bagaimana apakah masih ada yang belum datang ?"
Bu Norman menatap kearah Andi dengan heran, di dalam hati dia berpikir pemuda ini cuma besar gaya, atau memang punya uang yang sangat banyak.
Bu Norman tersenyum ramah dan berkata,
"Ku rasa sudah hampir semuanya sudah datang.."
"Baiklah begini Bu, berhubung saya di sini juga tidak tahu pasti jumlah hutang mamanya Doddy dan Rina."
"Maka satu persatu Ibu ibu yang punya buku hutang yang ada tanda tangan mama Doddy dan Rina, boleh maju kemari untuk mengambil uang nya ."
"Aku akan melunasinya berapa pun juga.."
ucap Andi pelan.
Bu Norman mengangguk kecil, lalu dia menghampiri ibu Luhut koodinator penagih hutang yang paling vokal itu.
Setelah dia berbicara dengan ibu Luhut, ibu Luhut segera berkata dengan suara yang keras,
"Hei ibu ibu dan bapak bapak sekalian, bila anda anda ingin menagih hutang hari ini..!"
"Antri lah dengan tertib.. tolong siapkan buku hutang kalian yang ada tanda tangan ibu Wiliam Lin.!"
"Bagi yang tidak bawa di persilahkan pulang untuk mengambilnya, bagi yang bawa buku hutang tapi tidak ada tanda tangan ibu Wiliam Lin.!"
__ADS_1
"Sebaiknya kalian hubungi dan bicarakan dengan ibu Wiliam Lin, nanti baru kembali lagi kemari..!"
ucapan ibu Luhut yang langsung di sambut dengan baik dan tepuk tangan dari para penagih hutang.
Sebagian orang mulai berbaris mengantri, menunggu giliran sedangkan sebagian lagi mulai meninggalkan tempat itu, kembali kerumah masing-masing mempersiapkan buku hutang.
Ataupun mencari cara untuk menghubungi Bu Wiliam Lin, untuk memperoleh tanda tangannya di buku hutang mereka.
Bu Luhut maju paling pertama menyodorkan buku hutang nya ke Andi.
Tanpa banyak cakap Andi melihat jumlah hutang yang tertera di buku tersebut, yang ada paraf mama Viona di sana."
Andi tentu tidak mengenali paraf mama Viona, tapi dia pura-pura hapal sambil mengingat paraf tersebut.
Setelah melihat sekilas Andi pun membayar lunas hutang di buku tersebut dan mencoretnya, serta membubuhkan tanda tangan nya di sana tanda sudah lunas.
Begitu pula ibu ibu yang lainnya satu persatu, tentu saja ada beberapa ibu nakal yang mencoba melakukan Mark up jumlah hutang dan pemalsuan tanda tangan.
Tapi yang seperti itu tidak ada yang bisa lewat dari mata Andi yang jeli.
Mereka yang melakukan hal itu, selain dapat cemoohan dari ibu ibu lain, mereka juga tidak mendapatkan penggantian dari Andi.
Mereka harus menagih sendiri ke mama Viona langsung.
Andi tidak memperdulikan protes mereka, Andi tetap tegas dan berpegang teguh pada prinsip nya, berani menipu berani tanggung resiko sendiri.
Tidak butuh waktu lama, sebelum jam dua siang, seluruh Antrian itu sudah habis, dan mereka semua sudah kembali kerumah masing-masing dengan membawa uang pelunasan dari Andi.
Setelah Antrian habis Andi baru berkata,
"Makasih banyak Bu Norman sudah mau repot-repot menyediakan tempat dan menjadi penghubung untuk menyelesaikan masalah ini."
Bu Norman tersenyum dan berkata,
"Tidak perlu,.. itu sudah tanggung jawab ku sebagai Bu lurah membantu menyelesaikan keresahan dan permasalahan warga ku.."
Andi mengangguk dan sangat kagum dengan jiwa' sosial Bu Norman.
"Ngomong ngomong Bu Norman belum mengeluarkan buku hutang mama Doddy dan Rina, berapa hutang nya sekalian saya melunasinya bila ada.."
Bu Norman menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak usah nak And, saya sudah merelakan nya, saya paham kesulitan ibu Wiliam Lin."
"Kehidupan nya sungguh tidak mudah, dari seorang nyonya kaya raya, kini harus hidup dengan penuh hutang."
"Untuk biaya hidup sehari-hari sampai harus jadi pembantu rumah tangga di beberapa tempat."
"Berangkat pagi pulang malam, rumah dan anak anak sampai gak ke urus."
"Kehidupan nya sungguh tidak mudah.."
"Untungnya Bu Wiliam Lin punya anak seperti Violin yang sangat dewasa dan mengerti urusan.."
"Sehingga bisa menggantikan mamanya mengurus rumah dan semua kebutuhan adik adiknya yang masih kecil-kecil."
__ADS_1