
"Aku..aku..aku sangat kotor dan tidak pantas untuk mu...!"
teriak Santi tiba-tiba, lalu dia meronta sekuat tenaga.
Dia berlari kedalam halaman kostnya, tanpa menghiraukan James yang berdiri terbengong-bengong di sana sambil memegang payungnya.
Santi berlari menerobos hujan deras dengan seluruh tubuh dan rambut basah kuyup..
Airmata yang bercucuran deras bercampur air hujan membasahi wajahnya.
Santi menangis sambil bergumam seorang diri,
"Aku tidak pantas untuk mu James, aku benar-benar tidak pantas untuk mu...maafkan aku.."
James tidak mengejar Santi, dia hanya menatap bayangan punggung Santi dengan tatapan sedih.
"Tidak San..aku tahu kamu juga mencintai ku, aku tidak akan pernah menyerah.."
"Selama aku masih hidup, aku tetap akan selalu menjagamu, meski pada akhirnya kamu' memilih pria lain."
"Aku akan tetap menjaga dan melindungi mu dari tempat yang tidak kamu ketahui."
gumam James sambil berjalan menuju kearah mobilnya.
Tak lama kemudian mobil James pun berlalu dari kost Santi.
Santi mengintip dari jendela kamarnya, dia menatap James dengan kasihan.
"James asalkan kamu tahu, menyakitimu adalah yang paling tidak ingin aku lakukan,."
"Tapi aku terpaksa melakukan nya, demi kebaikan mu."
"Hanya Tuhan yang tahu, betapa aku juga sudah mulai menyukai dan mencintai mu."
"Maafkan aku James, mungkin di kehidupan berikutnya, aku baru bisa membalas semua perasaan tulus mu."
ucap Santi dengan suara lirih.
Airmata terus mengalir membasahi wajahnya, seluruh tubuhnya basah kuyup dan mengigil kedinginan.
Tapi Santi tidak memperdulikannya, dia terus menatap kosong kearah menghilang nya mobil james.
Seakan-akan jiwa dan perasaan nya ikut terbawa pergi bersama James.
Sementara itu di tempat lain Andi masih berdiri seorang diri di depan kampus yang sepi.
Karena hujan turun semakin deras, Andi akhirnya memutuskan berjalan jalan berkeliling kampus.
Besok pagi Andi akan meninggalkan kampus ini, tidak tahu sampai kapan dia baru akan kembali lagi ketempat penuh kenangan ini.
Andi menghentikan langkahnya saat tiba di lapangan luas yang di gunakan untuk OSPEK CAMA CAMI.
__ADS_1
Andi terkenang dengan perjumpaan pertama kali nya dengan Viona, semua bayangan saat itu seolah-olah diputar ulang di hadapannya.
Raut wajah Andi yang termenung sebentar terlihat tersenyum sebentar kesal marah dan akhirnya kembali terlihat sedih dan tak berdaya.
Setelah menghela nafas panjang, Andi kembali melanjutkan langkahnya berjalan kearah deretan kelas di mana dia dan Viona juga Santi sering mengikuti mata kuliah di kelas-kelas tersebut.
Andi menghentikan langkahnya sejenak, karena di depan matanya kembali terlihat bayangan Viona dan Santi yang sedang duduk di dalam kelas.
Mereka terlihat sedang ngobrol bercanda dan tertawa gembira.
Wajah Viona terlihat sangat cantik dan bersinar sinar penuh keceriaan, tapi perlahan-lahan bayangan Viona memudar akhirnya menghilang.
Yang terlihat hanya bangku kosong yang berderet-deret dengan rapi.
Hati Andi tiba-tiba kembali terasa sunyi dan sepi.
Andi kembali meneruskan langkahnya menyusuri kampus, saat berada di bangku panjang di lantai dua, di mana dia dan Viona pernah duduk berdua di sana.
Tanpa sadar Andi pun duduk di sana, dan berkata.
"Bangkunya masih ada, semuanya masih sama, hanya dia yang tidak ada, sehingga semua jadi terlihat tidak sama lagi."
"Semuanya terasa sangat akrab, tapi di saat bersamaan juga terasa sangat asing dan berbeda.."
gumam Andi.
Andi tersenyum pahit saat teringat sebuah lagu yang sangat mirip keadaan nya saat ini.
lagu ini benar-benar cocok untuknya, batin Andi.
Setelah duduk bersandar di bangku panjang itu sejenak sambil mendendangkan sendiri lagu tersebut, Andi kemudian melanjutkan langkahnya menuju bagian belakang kampus.
Andi menatap kearah kantin, masih segar diingatannya, saat dia mendamaikan Santi dan Viona, dimana mereka duduk dan ngobrol sambil makan di sana.
Andi kemudian melanjutkan langkahnya yang membawanya kearah gedung olahraga badminton.
Andi mencoba membuka pintu ruangan olahraga tertutup tersebut.
Ternyata tidak terkunci, Andi pun masuk kedalam menyalakan lampu.
Sehingga ruangan menjadi terang benderang, Bayangan pertandingannya berpasangan dengan Santi kembali muncul di hadapannya.
Di sana juga ada Sarah dan Viona, semua kejadian berulang didepan mata nya dengan sangat jelas.
Andi tersenyum bahagia, saat melihat bayangan dirinya Santi dan Viona sedang berfoto bersama sambil memegang hadiah yang mereka terima.
Setelah semua bayangan memudar, Andi berjalan keluar dari gedung tersebut, dia mematikan lampu dan menutup kembali pintu gedung olahraga tersebut.
Andi meneruskan langkahnya yang membawa dirinya tiba di depan perpustakaan yang sepi.
Perpustakaan tutup karena hari ini hari Minggu.
__ADS_1
Andi berdiri menatap perpustakaan dengan tatapan kosong, inilah tempat, di mana dia menghabiskan sebagian besar waktunya.
"Selamat tinggal kawan, setelah ini mungkin dalam waktu yang cukup lama, aku baru bisa kembali mengunjungi mu."
ucap Andi seorang diri seolah olah berbicara dengan ruangan di hadapan nya.
Kemudian Andi melihat kearah bangku panjang di depan perpustakaan, di sinilah tempat dia dan Viona pernah duduk.
Ngobrol mengeluarkan perasaan mereka masing-masing, bayangan Viona yang menangis dalam pelukan nya terlihat dengan jelas.
Andi terus berdiri menatap kearah bangku panjang, memperhatikan adegan bayangan diri nya dan Viona yang duduk di sana.
Akhirnya bayangan itu pun sirna, tiba-tiba dimana mana Andi melihat bayangan Rio yang sedang tersenyum mengejek kearahnya.
Mula mula hanya Rio, kemudian berubah menjadi Rio yang tetap tersenyum mengejek kearahnya, sambil memeluk Viona yang menatap kearah nya.
Dengan tatapan sedih penuh permohonan agar dia membantunya melepaskan diri dari cengkraman tangan Rio.
Andi menoleh ke kiri ke kanan ke sekelilingnya, bayangan itu terus bermunculan mengelilinginya.
Sekarang mereka semua tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk kearahnya.
Andi memegangi kepalanya sendiri seperti orang stres.
Kemudian dia melepaskan teriakan Se Ce Hou Kung (Raungan Singa)
Yang menggetarkan seluruh tempat itu, raungan Andi bahkan menggema di seluruh kampus.
Seperti seekor singa jantan yang sedang meraung marah.
Setelah Andi melepaskan raungan nya, semua bayangan yang mengepung mengejek dan menertawainya pun hilang sirna tak berbekas.
Andi menatap dengan tatapan liar ke sekelilingnya.
Kemudian dia memegangi kepalanya sendiri, menjambak-jambak rambutnya sendiri.
Lalu perlahan-lahan tubuh Andi jatuh berlutut di atas lantai menangis tersedu-sedu, melepaskan semua perasaan kecewa menyesal dan sedih yang selama ini dia tahan.
Andi menangis seperti anak kecil, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Di tempat lain di kedua gerbang pos Satpam, beberapa satpam terlihat terkejut dan kaget.
Saat mereka di kejutkan dengan suara raungan singa dari arah perpustakaan.
Setelah berembuk sejenak, dan saling hubungi lewat HT, mereka memutuskan dari setiap pos satpam mengirimkan dua orang Satpam.
Untuk mendatangi perpustakaan melakukan pengecekan.
Dengan terburu-buru dari masing-masing pos satpam berlari dua orang Satpam, menerobos hujan menuju ruang perpustakaan.
Keempat orang satpam melangkah dengan hati-hati naik ke lantai 3 di mana ruang perpustakaan berada.
__ADS_1
Setelah mendekati perpustakaan mereka malah mendengar suara tangisan pilu.