AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
KEGALAUAN HATI SANTI


__ADS_3

Setelah itu Andi pun perlahan-lahan bangun duduk bersila, dia melakukan meditasi, membantu pemulihan luka dalam yang dia derita.


Sementara Andi sedang mencoba memulihkan luka luka yang dia derita, di tempat lain di kota B.


Terlihat seorang gadis cantik berambut sebahu sedang berdiri di depan sebuah Apotik, dia terlihat ragu-ragu untuk masuk.


Sudah beberapa hari ini, dia selalu merasa lemas kurang bertenaga kepalanya sering pusing.


Setiap pagi dia pasti muntah muntah karena perutnya terasa sangat mual.


Begitupula bila dia mencium bau masakan tertentu yang sedikit amis.


Dia akan mual mual dan kembali ingin muntah, berdasar literatur yang dia baca di internet, kondisi ini bila di alami seorang wanita, ada kemungkinan wanita itu sedang hamil.


Gadis itu tidak berani pergi ke dokter, karena statusnya masih seorang gadis single yang belum memiliki suami.


Bila ternyata dia benaran hamil dan ditanya oleh dokter siapa dan ada di mana suaminya, dia mau jawab apa.


Oleh karena itu dia akhirnya memutuskan datang ke apotik, untuk membeli alat tes kehamilan di apotik.


Tapi setelah tiba di depan apotik, dia sedikit ragu untuk masuk, dia merasa sangat malu membeli barang seperti itu.


Karena status nya yang masih seorang mahasiswi yang belum menikah juga belum punya suami .


Tapi sambil mengigit bibirnya dengan keras,, untuk membulatkan tekad nya, setelah menarik nafas panjang.


Dia pun dengan nekad mendorong pintu kaca apotik tersebut dan berjalan menghampiri seorang petugas apotik wanita.


"Ya, mbak ada yang bisa kami bantu..?"


tanya petugas apotik itu ramah.


"Aku..aku mau beli alat tes kehamilan.."


ucap gadis itu singkat, setelah sempat meragu sejenak.


Dia terus meremas tangannya sendiri yang dingin dengan erat-erat.


Untuk menguatkan dirinya, agar Tidak terlihat mencurigakan.


Dan berusaha bersikap setenang mungkin, di hadapan petugas wanita yang sedang melayaninya.


"Baik mbak sebentar, saya ambilkan.."


ucap petugas itu, kemudian dia pun berlalu meninggalkan gadis tersebut.


Pergi mengambil barang yang di minta oleh gadis bergaun putih dan terlihat sangat cantik dan menarik dengan rambut sebahunya.


Tak lama kemudian petugas itu kembali dan memberikan barang yang di cari oleh gadis itu.


Setelah menerima barang tersebut, gadis itu buru buru menyimpan barang tersebut kedalam tas nya.

__ADS_1


Setelah melakukan pembayaran, tanpa banyak bertanya dia langsung buru-buru pergi meninggalkan Apotik.


Saking buru-buru nya, dia bahkan tidak menanyakan cara penggunaan barang yang di beli olehnya.


Setelah gadis itu pergi, seorang pria bertubuh tinggi besar berkacamata hitam berjalan menghampiri petugas wanita, yang melayani gadis bergaun putih tadi.


Pria itu sebenarnya sangat ganteng, hanya saja sikapnya sangat dingin, dengan suara nya yang berat pria itu bertanya dengan nada dingin.


"Apa yang dai beli barusan...?"


Petugas wanita itu sedikit terkejut mendapatkan pertanyaan yang tiba-tiba dari seorang pria yang tidak dia kenal.


Dan dia merasa tidak ada urusannya, untuk menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan privasi pelanggannya.


Sambil mengerutkan alisnya wanita petugas apotik itu menjawab,


"Maaf pak,.. saya tidak bisa menjawab pertanyaan bapak, karena ini berhubungan dengan etiket dan privasi pelanggan kami."


Tidak di sangka pria itu malah melepaskan kacamata nya , sepasang mata yang mencorong bagaikan mata naga sakti menatap tajam petugas wanita itu.


Petugas wanita itu berusaha menenangkan diri nya yang ketakutan, sepasang kakinya gemetaran hingga hampir tidak kuat berdiri.


nafasnya sampai terhenti melihat mata yang sangat mengerikan itu.


Pria itu mengeluarkan selembar uang berwarna biru di hadapan wajah petugas itu, dan berkata dengan suaranya yang dingin dan ngebas,


"Katakan pada ku, maka uang ini boleh kamu miliki."


Dia langsung mengulurkan tangannya menyambar uang itu dan berkata.


"Dia beli alat tes kehamilan..."


Setelah itu petugas apotik tersebut buru buru menyimpan uang itu kedalam lipatan dadanya.


Dia berjalan dengan terburu-buru meninggalkan pria menyeramkan itu, masuk kedalam ruangan kamar obat.


Di sana hanya tersisa pria tinggi besar itu yang berdiri bengong, mendapatkan jawaban dari petugas apotik tadi.


Pria itu saat mendengar jawaban tersebut, dia merasa kepalanya seperti baru saja habis tersambar petir di siang bolong.


Untuk sementara waktu dia sampai tidak tahu harus berbuat apa.


Hingga akhirnya dia tersadar, baru dengan grogi dan buru buru dia mengenakan kacamata hitam nya kembali


Lalu dia berjalan dengan langkah kaki lebar meninggalkan apotik tersebut.


Pria itu langsung masuk kedalam mobil Wrangler hitam, yang sengaja dia parkir agak jauh dari apotik.


Di dalam mobil tersebut pria itu sebelum menyalakan mesin kendaraan nya, dia bergumam seorang diri.


"Benarkah dia hamil..? ahh mengapa bisa begini jadinya..?"

__ADS_1


"Lalu aku harus bagaimana sekarang...?"


pria itu yang tak lain tak bukan adalah James.


Dia terlihat bingung Syok dan bergumam sendiri.


Sikapnya yang biasanya selalu tenang, bahkan saat menghadapi situasi mati hidup di bawah kepungan ratusan ribu pasukan lawan.


Dia masih bisa bersikap tenang dan meloloskan diri.


Tapi saat ini dia malah terlihat seperti orang linglung yang tidak tahu harus berbuat apa.


Akhirnya dia menyalakan mesin mobilnya dan bergerak meninggalkan tempat tersebut, mengejar Santi dengan pikiran kacau balau.


James hanya berani mengikuti Santi dari jauh, secara diam-diam, hingga Santi kembali ke kostnya.


Dia baru merasa tenang dan meninggalkan tempat tersebut.


Santi sendiri setelah kembali ke kamarnya, dia langsung berbaring di kasurnya dengan wajah sedih dan cemas.


Santi membuka kemasan alat tes tersebut, kemudian dia mencoba membaca, cara penggunaan alat tersebut.


Selesai membaca petunjuk nya, Santi kembali termenung dan bergumam sendiri.


"Apa yang harus ku lakukan, bila aku benar-benar hamil anak bajingan biadab itu."


"Apa yang harus aku lakukan, bagaimana dengan kuliahku.?"


"Bila papa dan mama tahu hal ini, mereka pasti sangat kecewa dan marah dengan ku."


"Ah tidak..tidak... tidak mungkin.."


ucap Santi sendiri sambil menggelengkan kepalanya kuat kuat dengan airmata mulai membasahi pipinya.


"Tidak mungkin terjadi, kami cuma melakukan nya sekali, di malam laknat itu.."


"Bagaimana mungkin.?. banyak orang di luar sana, yang sudah menikah dan melakukan nya berulang kali, hingga terkadang tahunan."


"Mereka saja banyak yang tetap tidak berhasil dapat, apalagi aku cuma sekali ."


"Semoga saja ini semua cuma sugesti ku saja, mungkin aku cuma masuk angin saja."


"Benar,... kemungkinan itu busa saja terjadi.."


ucap Santi seorang diri, seperti orang linglung.


Santi yang merasa kepalanya mulai sedikit pusing, dia mencoba berbaring dengan menegakkan bantal nya.


Sambil bersandaran di bantal yang sudah di tinggikan Santi mencoba memejamkan matanya.


Akhirnya perlahan-lahan dia pun tertidur pulas hingga keesokan paginya

__ADS_1


__ADS_2