AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
JAMES MEMBAWA SANTI PULANG KERUMAH ORANG TUANYA


__ADS_3

Hingga menampilkan perutnya yang rata putih mulus dan ada sedikit otot sixpack nya.


Di samping otot perutnya yang rata dekat bagian pinggang sebelah kiri, ada sebuah luka yang cukup dalam dan lebar terbuka di sana, dan terus mengucurkan darah segar.


Dokter Monica tersenyum melihat respon Andi, yang sedikit terpesona melihat baju di bagian perutnya yang terbuka lebar.


Dimana juga terlihat bra hitamnya yang sedikit mengintip keluar bagian bawahnya.


"Kenapa Di,.. suka ya ? kalau suka lepaskan aja semuanya gakpapa, asal tanggung jawab nantinya.."


ucap Dokter Monica sambil tersenyum nakal.


Mendengar ucapan dokter Monica yang sedang menggodanya, wajah Andi langsung merah padam.


Dia terus mengutuki dirinya sendiri, sebagai jomblo tua yang tidak tahu malu.


Andi buru-buru memunggungi Monica sambil berkata,


"Maaf Dok,.. aku.."


Dokter Monica tersenyum melihat sikap Andi yang lucu, meski sudah lebih dari kata dewasa, tapi Andi terlihat seperti seorang ABG, yang ketahuan sedang mengintip wanita mandi.


Dari sikap Andi, Monica sudah bisa menebak Andi pasti masih seorang perjaka tulen, yang belum pernah melakukan hal itu bersama wanita.


Dokter Monica menjadi semakin penasaran dan ingin menggoda Andi.


"Pak Andi, bila kamu memunggungi ku seperti ini, bagaimana mau bantu aku menjahit luka...?"


Andi memejamkan matanya kemudian memutar tubuhnya kembali menghadap kearah Dokter Monica


Dokter Monica tersenyum lebar dan berkata,


"Pak Andi bila mata mu tertutup begini, bisa bisa nanti salah jahit ."


Andi terpaksa membuka matanya kembali, dengan wajah merah padam, dan terus menundukkan kepalanya.


Andi berusaha untuk tidak melirik ke bagian lain dari tubuh Dokter Monica yang sangat menarik untuk di lihat.


Sambil tersenyum nakal, dokter Monica berkata,


"Pak Andi tolong bantu ikat lengan ku dengan tali itu.."


Monica yang melihat Andi terlihat bingung, dia menunjuk kearah lengan atasnya dan berkata,


"Di sini pak Andi, ikat yang erat hingga terlihat urat hijau sedikit menonjol di bagian ini.."


Andi mengangguk dan mengikuti petunjuk Dokter Monica.


"Pak Andi ada lihat botol kecil yang nomor tiga dari kiri, tolong bawakan kemari bersama jarum suntik nya..."


ucap Dokter Monica.


Andi memberikan ke dokter Monica, setelah mengecek nya sebentar Dokter Monica pun memasukkan jarum suntik ke tutup botol karet tersebut.


Setelah mengambil cairan di dalam botol, dia lalu menyuntikkan nya ke lipatan lengannya, yang ada urat nadi hijau yang menonjol.


Setelah obat masuk, Dokter Monica terlihat agak rileks dan tidak terlalu kesakitan lagi.


"Di,..tolong gunakan alkohol bersihkan luka nya, kemudian kamu bisa kan bantu aku menjahit luka nya.?"

__ADS_1


ucap Dokter Monica dengan nada sedikit nge-fly.


Andi mengangguk, dia lalu buru-buru menggunakan kapas dan alkohol membersihkan luka Dokter Monica.


Setelah itu, dia pun mulai menjahit luka dokter Monica sebisanya.


Setelah selesai Andi mengoleskan obat sesuai arahan Dokter Monica, dan menutupi luka tersebut dengan perban operasi yang siap pakai.


Setelah semuanya selesai, Andi pun menghela nafas lega, menghapus keringat di dahinya.


Lalu dia ingin beranjak dari sana, pergi mencuci tangan nya yang berlepotan darah.


"Pak Andi selesai cuci tangan, tolong jangan tinggalkan aku ya,? aku takut sendirian.."


ucap Dokter Monica dengan manja.


Sebelum Andi sempat menjawabnya, pintu rumah terbuka dari luar, terdengar suara berat James berkata,


"Andi jangan dengarkan kata kata kucing hutan lagi birahi itu..!"


"Selanjutnya biar Santi aja yang menjaganya, dia hanya luka ringan saja.."


"Kakak...!, apa maksud mu..hah...!?"


teriak Monica tiba-tiba dengan suara marah dan tidak puas.


Karena James datang merusak semua rencana bagusnya.


Andi tersenyum lega, melihat kedatangan Santi dan James, serta putra tunggal mereka.


Andi buru-buru mengalihkan perhatiannya kepada putra James dan Santi.


ucap Andi sambil berjongkok di depan anak yang sedang di gandeng oleh James .


"Ivan om.."


jawab anak itu polos dan berani.


"Anak pintar, mau gak temani om main ke mini market, beli es krim dan coklat.."


"Mau...mau..mau..om..mau...!"


ucap Ivan gembira.


James dan Santi tersenyum melihat kegembiraan putra tunggal mereka.


Andi mengambil kesempatan itu, untuk buru buru kabur bersama Ivan .


Hanya Monica yang cemberut dan kesal karena rencananya telah gagal..


James yang sudah terbiasa dengan sikap adik seperguruannya itu, memilih pura-pura tidak tahu.


Dia ngeluyur pergi kedapur untuk menyiapkan makan siang.


Sedangkan Santi duduk didekat Monica, membantunya merapikan peralatan medis Monica.


Andi menemani Ivan bermain hingga anak itu tertidur dalam gendongannya, dia baru membawa anak itu pulang kerumahnya dan mengembalikan ke Santi.


Selesai makan siang, Andi dan James duduk santai di kursi depan rumah.

__ADS_1


"Nah sekarang siapa dulu yang akan mulai bercerita kamu atau aku..?"


tanya James sambil tersenyum.


Andi membalas senyum james dan berkata,


"Kamu saja dahulu, sebagai tuan rumah nya,.."


James tertawa dan berkata,


"Baiklah,.. "


James terlihat termenung dan kemudian dengan wajah murung dia berkata,


"Semua bermula saat satu bulan setelah Ivan lahir, di mana aku memutuskan untuk merayakan syukuran usia satu bulan Ivan, bersamaan dengan perayaan perkawinan resmi kami berdua."


James bercerita sambil mengenang kejadian.saat itu.


"James aku agak takut untuk masuk dan menemui kedua orang tua mu.. terutama kakek mu..aku.."


ucap Santi ragu ragu.


Saat mereka sudah berada di depan rumah James, yang besar dan mewah.


James tersenyum dan membelai kepala Santi dengan lembut.


Sedangkan Santi terlihat sedikit cemas, sambil menggendong putra mereka, yang baru berumur 3 Minggu dalam dekapan nya.


Ivan terlihat tertidur nyenyak dalam dekapan ibu nya.


"Jangan khawatir sayang, semuanya serahkan pada ku.."


"Ini cuma formalitas saja, apapun keputusan mereka, tidak akan mempengaruhi keputusan ku untuk menikahi mu..'


ucap James penuh percaya diri.


Mereka berdua terlihat turun dari mobil secara bersamaan.


Santi dengan kepala tertunduk, berjalan di samping James yang merangkul bahunya dengan mesra, memasuki rumah yang besar dan mewah itu.


Saat mereka berdua melangkah masuk kedalam rumah, selain Sarah, yang lainnya terlihat kaget.


Kakek James menatap James dengan heran, begitu pula dengan ayah kandungnya Michael kY dan ibu tirinya Jenifer Cia.


James dengan langkah tenang merangkul bahu Santi, yang sedikit gemetar menghampiri keluarga nya.


"Ayah ibu,.. kakek,.. apa kabar..?"


"Hari ini aku khusus datang untuk membicarakan sesuatu kepada kalian, kebetulan ada Sarah sedang di sini, semua jadi terasa lengkap."


ucap James tenang.


Kakek James lah yang pertama kali menjawab menenangkan suasana.


"Kabar kami semua baik, ayo duduklah,... nona dan bayi di sebelah mu ini..?"


ucap Kakek James sedikit ragu.


"Begini kakek Ayah ibu,.. kedatangan ku hari ini ingin mengenalkan istri dan anak ku pada kalian semuanya.."

__ADS_1


__ADS_2